Selamat siang, semesta!
Selamat siang, alam!
Selamat siang, angin!
Selamat siang, dingin!
Selamat siang, Al!
Aku selalu mengingat dengan jelas beberapa hal yang baru kudengar tapi bisa mempengaruhi mindsetku dari sebelumnya. Seperti sehari sebelum aku menulis ini, aku kembali disadarkan betapa segala yang ada itu mampu hidup. Maka jangan tanya mengapa saat aku mulai bosan berkomunikasi dengan manusia.
Tapi sebelum itu, aku bersusah payah mengkorelasikan apa yang dibicarakan dosenku panjang lebar dengan satu hal yang selalu kuingat entah dimana dan waktunya kapan: kamu.
Kamu tau? Semua yang ada di alam ini bisa kita ajak komunikasi. Sekalipun mereka tak pandai merespon dan membuat kita mengangguk-angguk pasti. Bicara dengan alam tentu semakin membuat kita digandrungi banyak hal, tapi percayalah alam akan menjawab tidak dengan bahasa dan perkataan. Melainkan dengan kenyatan.
Lalu kalau tumbuhan saja bisa lebih subur saat dalam proses penanamannya selalu dipuji dan diajak bicara, kenapa kamu tidak? :p
Finally, aku bertekad akan semakin gila menjadikanmu objek dalam setiap cerita. Menceritakanmu banyak hal tanpa khawatir kamu tak mendengar. Aku semakin bertekad mengagumimu sedemikian rupa. Sebab aku percaya pada akhirnya kamu akan paham seberapa sulit saat kamu menjadi objek yang ditinggalkan. :)
#withlove
Tampilkan postingan dengan label Ini Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ini Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Desember 2014
Minggu, 08 Juni 2014
Namanya Sandal ^^
Namanya Sandal. Tapi aku biasa memanggilnya "Al".
Wajahnya tak tampan, tampak sedikit tirus. Dari pertemuanku beberapa bulan yang lalu dengannya, dia tak ubahnya seorang penyair gadungan yang jarang mandi apalagi merawat diri. Dia terkesan apa adanya, tak peduli orang mau bilang apa. Yang penting dia happy fun dengan hidupnya.
Namanya Sandal. Tapi orang biasa memanggilnya "Revo".
Entah darimana kata itu diambil, intinya sangat jauh dari nama aslinya (SANDAL)
Aku pun menyesuaikan panggilan jika berhadapan dengan teman-teman kampus dan kosnya. Jika tidak, seharian aku bilang mencari Al tak kan ada satupun yang berhasil memberitahuku dimana ia sedang berada.
Namanya Sandal. Tapi keluarganya biasa memanggilnya "Arif"
Aku makin bingung itu nama berasal darimana lagi. Bukankah mereka yang memberinama, lalu kenapa juga harus mereka yang salah dalam panggilan? Kenapa justru harus aku (yang entah dia panggil apa) mampu mamanggilmu dengan sebenar-benar namamu.
Begitu banyak panggilanmu, yang tak satupun sama denganku. Lalu siapakah yang tak layak? Aku?
Aku tak peduli siapa namamu, yang terpenting aku mencintaimu.
*Greeeeeek :D
Wajahnya tak tampan, tampak sedikit tirus. Dari pertemuanku beberapa bulan yang lalu dengannya, dia tak ubahnya seorang penyair gadungan yang jarang mandi apalagi merawat diri. Dia terkesan apa adanya, tak peduli orang mau bilang apa. Yang penting dia happy fun dengan hidupnya.
Namanya Sandal. Tapi orang biasa memanggilnya "Revo".
Entah darimana kata itu diambil, intinya sangat jauh dari nama aslinya (SANDAL)
Aku pun menyesuaikan panggilan jika berhadapan dengan teman-teman kampus dan kosnya. Jika tidak, seharian aku bilang mencari Al tak kan ada satupun yang berhasil memberitahuku dimana ia sedang berada.
Namanya Sandal. Tapi keluarganya biasa memanggilnya "Arif"
Aku makin bingung itu nama berasal darimana lagi. Bukankah mereka yang memberinama, lalu kenapa juga harus mereka yang salah dalam panggilan? Kenapa justru harus aku (yang entah dia panggil apa) mampu mamanggilmu dengan sebenar-benar namamu.
Begitu banyak panggilanmu, yang tak satupun sama denganku. Lalu siapakah yang tak layak? Aku?
Aku tak peduli siapa namamu, yang terpenting aku mencintaimu.
*Greeeeeek :D
Label:
Ini Tulisanku
Kamis, 15 Mei 2014
Namanya, HUJAN!
*Just like the clouds my eyes will do the
same
If you walk away, every day it will rain, rain, rain*
If you walk away, every day it will rain, rain, rain*
***
09 Pebruari 2014
Di luar
hujan. Maka jangan salahkan jika aku harus meringkuk kaku di kamar sendirian mendapati
hal yang paling aku benci sejak aku dilahirkan. Tentang beberapa alasan, sudah
berulangkali aku utarakan. Banyak yang bilang karena aku masih belum pernah
melebur dengan ribuan tetesnya yang menenangkan, tapi sungguh bukan itu. Semasa
kecil pernah kucoba merapikan payung dalam ransel saat hujan sedang
deras-derasnya. Lalu apa? Aku meriang tak tertolong setelahnya. Semakin aku tak
suka.
Menurut
nenek, Hujan adalah nama seorang gadis penunggu petang, badannya lemah dan ia
tak punya teman. Tentang segerombolan air yang seringkali mengguyur, itulah air
matanya yang ia keluarkan akibat rasa kesepian dan kesedihan yang mendalam. Maka
dinamakanlah peristiwa turunya air itu dengan sebutan ‘Hujan’. Maka aku tak mau
di dunia ini masih ada teman yang kesepian.
Tapi
sudahlah, lupakan tentang alasanku membenci hujan, malam ini ada yang ingin
kuceritakan. Tentang kombinasi menarik yang membuat hatiku lumayan begidik: Hujan
dan Rindu. Dua hal yang sama membuatku kehabisan cara berbahagia. Tapi bukankah
cinta dan rindu adalah satu paket yang tak bisa dipisah satu-satu? Siap mengaku
cinta berarti siap menanggung rindu.
Yup, aku
pernah beberapa kali meyakinkan; aku mencintaimu. Ya! Kamu! Lelaki yang kukenal
setahun yang lalu. Bermata sipit, berambut coklat, bermuka tirus. Dengan
otot-otot kekar yang membuatku selalu ingin meredam lelah dan amarah ke
pangkuanmu.Kita sengaja Tuhan takdirkan bertemu dengan cara yang tak pernah
kita tunggu. Berawal dari ulah teman baikku yang ingin mengenalkan, menukarkan
kontak kita satu sama lain. Entah maksudnya apa. Tiba-tiba kita saling bertukar
cerita, laluaku mengagumimu dan secepat itu kamu kuanggap kekasihku. Tanpa
kencan-kencan sakral yang pernah dilakukan semua remaja seusiaku pada malam
minggu, kita sama berani merapal doa untuk sebuah masa depan. Terkadang aku
merutuk jarak habis-habisan. Bagaimana ia tega menjauhkan sepasang kekasih yang
saling membutuhkan. Ah, jarak ini. Panas di kotaku, kau meringkuk dalam selimut
di kotamu.
Berulangkali
aku pernah cemburu pada bantal dan gulingmu yang setiap hari menemanimu lelap
dan melepas penat. Pernah juga sekali dalam perjalanan, aku melihat setiap
pengendara motor persis wajahmu.Dan masih banyak hal lain yang labih gila
daripada ini. Aku bahkan sering tersenyum dan tertawa sendiri tanpa mau disebut
gila.
***
09 Mei 2014
Beberapa
bulan terakhir ini serupa gigi berlubang yang kemasukan potongan gorengan: ada
yang mengganjal. Waktu-waktu kita serasa dipangkas paksa oleh hantu paling
menyebalkan bernama jarak dan kesibukan. Spontan saja ada banyak kecurigaan
yang terpaksa harus aku pikirkan lebih dalam. Kita jarang komunikasi sekarang.
Bukankah itu yang paling kita butuhkan saat jarak sudah tak mampu kita
taklukkan? Kamu kenapa? Sedang baik-baik di sana? Aku selalu percaya benar ada
kesibukan yang menuntutmu sekarang, tapi yakinku mustahil kau merapikan ponsel
dalam saku siang-malam. Lalu kenapa tak sedikitpun tergerak untuk sekedar
menyapa yang itu membuatku serasa melambung di udara?
Oh iya, besok
adalah hari kebesaranmu. Hari pertama kamu dilahirkan. Kita ada janji bertemu
bukan? Syukurlah, barangkali besok aku berani memarahimu habis-habisan atas
kelakuanmu yang dengan sadar menjadikanku objek kedua setelah kesibukan.
Baiknya sekarang aku tidur saja. Mempersiapakan untuk sebuah ketenangan esok
hari.
***
Pagi itu di kotamu.
Rupanya
kau menunggu lebih awal. Ada senyum kecil hatiku yang tak bisa kurahasiakan.
“Hei, apa
kabar?”, kamu memulai percakapan.
“Aku
baik. Tapi mataku sedikit bengkak, kurang istirahat”, aku memancingmu untuk
menyadarkanmu betapa kamu telah benar sengaja menjadikanku malam-malamku
insomnia.
“Jangan
bilang karenaku”, ekspresimu datar. Aku serasa tertampar.
Aku diam.
Lalu kau melanjutkan.
“Maaf akhir-akhir ini aku akan disibukkan
banyak hal. Kamu tak perlu menjadi seperti janda kehilangan suami saat aku tak
berkabar. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk sendirian”. Rupanya kamu sudah
mulai kurangajar.
“Oh iya,
tak apa. Aku baik-baik saja”. Entah kenapa tiba-tiba aku tak bisa menuntutmu
apa-apa selain menerima.
“Sepertinya
aku harus ke kampus sekarang. Ada rapat yang menunggu, terimakasih
kedatangannya”. Ucapmu sambil berbalik arah.
“Hmm,
Happy Birthday. Semoga tercapai cita.” Aku terbata-bata, sembari memberikan
kotak hadiah yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari menjelang hari istimewamu.
“Oh, aku
benar-benar lupa. Terimakasih”. Kamu mengambilnya dari tanganku lalu pergi, tak
berbalik lagi.
Oh Tuhan,
aku ingin menekan tombol Pause kehidupan. Agar kenyataan ini berhenti sebentar,
aku ingin mengambil nafas. Kali ini aku lebih dari sekedar terpukul dan
tertampar. Inginku hal-hal membahagiakan saja yang harus terjadi hari ini.
Tapi..
Tiba-tiba
hujan. Entah kenapa aku melupakan kebencianku pada tetesnya. Malah aku sedang
butuh banturannya menyembunyikan ribuan air mata yang akan segera menderas. Dan
sampai di sini aku sadar, lantaran sebuah
jarak, menyusul ada hal-hal yang mencoba susah payah memisahkan,
termasuk rasa bosan.
***
Mataku terus menghujan. Deras. Deras
sekali. Inikah yang kau bilang tangisan seorang gadis yang kesepian, Nek?
Label:
Ini Tulisanku
Selasa, 25 Maret 2014
Kupanggil Kau Kakek :*
Mei 2030.
Kupanggil Kau Kakek
Ini bukan jenis tulisan roman. Melainkan hanya sebuah catatan usang perempuan penunggu petang. Anggap saja ini surat pemberitahuan yang malu kuucapkan.Bertahun-tahun aku mampu nakal tanpa pernah menyampaikan maksud dan tujuan. Hanya melalui senyuman, kupikir aku sudah rampung menyampaikan.
Tentang tulisan ini, hanya sejenis keinginan mengenalkanmu pada seisi kota yang tak pernah melahirkanmu. Ingin memberitahu bahwa kamu pernah berniat ada tapi kau urungkan karena satu dan lain hal. Kamu yang kumaksud adalah lelaki yang kukenal sebagai kakek-kakek. Berusia setengah abad dengan tubuh masih kekar. Kamu tinggi kurus, bermuka tirus, tapi yakinku banyak disukai teman-teman SMA mu dulu. Nakalnya, kamu cukup tampan, manis juga kurasa. Ah, kupanggil kau kakek.
Sebenarnya ada yang paling ingin kuistimewakan kan dalam ribua kisahmu: Di Taman Bunga. Sore itu,
Kamu tampak kebingungan. Mengitari tepi taman dengan hitungan puluhan. Entah apa yang kau cari atau siapa yang ingin kau temui. Saat itu aku masih duduk kaku di parkiran. Dengan bantuan sebuah motor butut, aku berhasil duduk nyaman memperhatikanmu. Sama sekali kau tak sadar aku mengikutimu. Untuk menyapamu lebih tepatnya aku malu. Sebab kamu baru kukenal puluhan hari lalu. Apalagi saat mendengar berita kegagalanmu mendapatkan sesuatu. Aku semakin tak punya bekal menenangkanmu dan memberimu tawaran lain untuk tenang-tenang saja. Dan kau masih berputar-putar tanpa tahu malu. Petugas keamanan taman berulangkali juga melirik tajam ke arahmu. Tapi dasar kau tak mau peduli, terus berputar tetap jadi pilihanmu.
Satu jam.
Dua jam.
Eits, tunggu. Ada yang lupa kusampaikan dalam tulisan ini dari awal. Sore itu, kau membawa begitu banyak kardus yang isinya entah apa. Sekitar 5 kardus yang kau jinjing dan kau seret begitu saja. Baju? Buku? Makanan? Entah.
Aku mulai berpikir keras. Kamu kenapa? Mau kemana? Mencari siapa? Kuputuskan untuk berbalik arah. Berhenti memperhatikanmu, melainkan memikirkanmu. Bukankah memikirkan bisa kulakukan tanpa harus ada tautan? Ya, kurasa begitu. Aku mulai duduk bersandar di bawah pohon yang kutak tau namanya. Mencari tentangmu dan apa yang membuatmu berkeliling tak jelas seperti itu. Berpikir. Berpikir.
Astaga, matahari rupanya sudah berpulang tanpa kusadar. Ini sudah malam? Lalu kenapa kau belum pulang?
Selanjutnya aku harus bagaimana? Masih menunggumu yang nyaris linglung? Atau pulang saja?
Kuputuskan memilih pilihan jawaban kedua. Karena saat itu aku mulai tenang. Ada satu jawaban yang kutemukan. Kamu sedang mencari 'KAMAR': tempatmu istirahat, bersembunyi dari segala penat, menyimpan segala apapun yang kau punya, dan apapun bisa kau lakukan di sebuah ruangan bernama kamar. Kurasa benar kau sedang mencarinya di taman itu.
Lalu pada yang membaca tulisan ini? Tolong beri aku jawaban atas sebuah pertanyaan: Adakah persedian Kamar di titik pusat Taman?
Sementara kupikir tak ada, karena di sana hanya menyajikan keindahan dan keharuman dari setiap bunga di dalamnya. Masih untung ada kolam, tak mungkin kamar. Percayalah!
Sebelum aku pulang dan berbalik arah, aku percaya angin bisa menyampaikan padamu di ujung sana: "Hei, kamu sedang dalam kesia-siaan pencarian. Tamanku tak menyediakan apa yang kau butuhkan. Jika hanya ingin mencari ketenangan yang barangkali sesaat, silakan datang. Bawa kembali 5 kardus beban yang memberatkanmu selama ini, jika tak ingin permukaannya rusak oleh panas dan hujan. Sebab Tamanku tak menyediakan atap. Tapi jangan salah paham, bukan aku yang sengaja tak menampungnya, kamu sendiri yang tetap ingin membawanya. Jelas itu di luar batas mampuku. Selamat tenang. Selamat mencari ketenangan. Yang barangkali menurutmu, di sini tak akan kamu temukan. Selamat ".
Kupanggil kau kakek. Kakek Kancil. Kakek Pablo :)
Kupanggil Kau Kakek
Ini bukan jenis tulisan roman. Melainkan hanya sebuah catatan usang perempuan penunggu petang. Anggap saja ini surat pemberitahuan yang malu kuucapkan.Bertahun-tahun aku mampu nakal tanpa pernah menyampaikan maksud dan tujuan. Hanya melalui senyuman, kupikir aku sudah rampung menyampaikan.
Tentang tulisan ini, hanya sejenis keinginan mengenalkanmu pada seisi kota yang tak pernah melahirkanmu. Ingin memberitahu bahwa kamu pernah berniat ada tapi kau urungkan karena satu dan lain hal. Kamu yang kumaksud adalah lelaki yang kukenal sebagai kakek-kakek. Berusia setengah abad dengan tubuh masih kekar. Kamu tinggi kurus, bermuka tirus, tapi yakinku banyak disukai teman-teman SMA mu dulu. Nakalnya, kamu cukup tampan, manis juga kurasa. Ah, kupanggil kau kakek.
Sebenarnya ada yang paling ingin kuistimewakan kan dalam ribua kisahmu: Di Taman Bunga. Sore itu,
Kamu tampak kebingungan. Mengitari tepi taman dengan hitungan puluhan. Entah apa yang kau cari atau siapa yang ingin kau temui. Saat itu aku masih duduk kaku di parkiran. Dengan bantuan sebuah motor butut, aku berhasil duduk nyaman memperhatikanmu. Sama sekali kau tak sadar aku mengikutimu. Untuk menyapamu lebih tepatnya aku malu. Sebab kamu baru kukenal puluhan hari lalu. Apalagi saat mendengar berita kegagalanmu mendapatkan sesuatu. Aku semakin tak punya bekal menenangkanmu dan memberimu tawaran lain untuk tenang-tenang saja. Dan kau masih berputar-putar tanpa tahu malu. Petugas keamanan taman berulangkali juga melirik tajam ke arahmu. Tapi dasar kau tak mau peduli, terus berputar tetap jadi pilihanmu.
Satu jam.
Dua jam.
Eits, tunggu. Ada yang lupa kusampaikan dalam tulisan ini dari awal. Sore itu, kau membawa begitu banyak kardus yang isinya entah apa. Sekitar 5 kardus yang kau jinjing dan kau seret begitu saja. Baju? Buku? Makanan? Entah.
Aku mulai berpikir keras. Kamu kenapa? Mau kemana? Mencari siapa? Kuputuskan untuk berbalik arah. Berhenti memperhatikanmu, melainkan memikirkanmu. Bukankah memikirkan bisa kulakukan tanpa harus ada tautan? Ya, kurasa begitu. Aku mulai duduk bersandar di bawah pohon yang kutak tau namanya. Mencari tentangmu dan apa yang membuatmu berkeliling tak jelas seperti itu. Berpikir. Berpikir.
Astaga, matahari rupanya sudah berpulang tanpa kusadar. Ini sudah malam? Lalu kenapa kau belum pulang?
Selanjutnya aku harus bagaimana? Masih menunggumu yang nyaris linglung? Atau pulang saja?
Kuputuskan memilih pilihan jawaban kedua. Karena saat itu aku mulai tenang. Ada satu jawaban yang kutemukan. Kamu sedang mencari 'KAMAR': tempatmu istirahat, bersembunyi dari segala penat, menyimpan segala apapun yang kau punya, dan apapun bisa kau lakukan di sebuah ruangan bernama kamar. Kurasa benar kau sedang mencarinya di taman itu.
Lalu pada yang membaca tulisan ini? Tolong beri aku jawaban atas sebuah pertanyaan: Adakah persedian Kamar di titik pusat Taman?
Sementara kupikir tak ada, karena di sana hanya menyajikan keindahan dan keharuman dari setiap bunga di dalamnya. Masih untung ada kolam, tak mungkin kamar. Percayalah!
Sebelum aku pulang dan berbalik arah, aku percaya angin bisa menyampaikan padamu di ujung sana: "Hei, kamu sedang dalam kesia-siaan pencarian. Tamanku tak menyediakan apa yang kau butuhkan. Jika hanya ingin mencari ketenangan yang barangkali sesaat, silakan datang. Bawa kembali 5 kardus beban yang memberatkanmu selama ini, jika tak ingin permukaannya rusak oleh panas dan hujan. Sebab Tamanku tak menyediakan atap. Tapi jangan salah paham, bukan aku yang sengaja tak menampungnya, kamu sendiri yang tetap ingin membawanya. Jelas itu di luar batas mampuku. Selamat tenang. Selamat mencari ketenangan. Yang barangkali menurutmu, di sini tak akan kamu temukan. Selamat ".
Kupanggil kau kakek. Kakek Kancil. Kakek Pablo :)
Label:
Ini Tulisanku
Sabtu, 14 Desember 2013
Sabar. :)
Konon, kesabaran itu mahal harganya.
Itupun hanya dijual di Negeri Entah. Tak mungkin tersedia di Negeri tempatku menulis cerita.
Itupun hanya dijual di Negeri Entah. Tak mungkin tersedia di Negeri tempatku menulis cerita.
Konon juga, seandai seluruh emas di setiap leku-lekuk Bumi diangkat, harga Kesabaran jauh melambung tinggi di atasnya.
Tuhan, mungkin karena itu Kau kembali mengingatkan: Aku perempuan jelata yang tak cukup modal membelinya sekarang.
Tapi tak apa, aku tetap ingin membeli, cicilannyapun akan kubayar sendiri. —
Tuhan, mungkin karena itu Kau kembali mengingatkan: Aku perempuan jelata yang tak cukup modal membelinya sekarang.
Tapi tak apa, aku tetap ingin membeli, cicilannyapun akan kubayar sendiri. —
Label:
Ini Tulisanku
Selasa, 05 November 2013
Fikiranku; Flying without wings
Kelas siang itu begitu hiruk pikuk namun tak mengusik ku sedikitpun. Karena fikiranku yagn sudah tak berada di sini lagi. Fikiran itu, ia memutuskan untuk mengepakkan sayapnya, melayang terbang disela-sela kepala manusia yang mulai kusut karena materi kuliah yang bagaimanapun mereka tak mengerti apa satra itu.
Fikiranku…sampai di jendela bertengger pada jeruji besi (seperti terpenjara saja), lalu memutuskan untuk terbang lebih jauh. Mencari ketenangan, mencari ketenangan. Fikiranku dengan gembira menyusuri rumput hijau yang menari-nari bersama angina sepoi, melewati anak sungai yang tenang dan sang ikan menyapa ramah,
“hei kamu hendak kemana? Bolehkah aku ikut denganmu?”
“aku ingin mencari ketenangan, kenyamanan. Jika engkau ikut aku, aku takut nanti aku juga telusuri arus sungai ini dan aku tak mau. Karna aku punya arus sendiri. Maaf, aku tak bisa mengajakmu serta”. Jawabku
Dan sang ikan tersenyum sambil menyusuri bibir sungai dengan gembira. Fikiranku, kembali melayang terbang hingga akhirnya ia temukan apa yang ia cari.
Ya!!!
Ini tentang ketenangan itu, kenyamanan itu. Dan apa kau tau? Ternyata itu kamu, seseorang yang aku tuju.. Lihat!!! Berapa jauh perjalanan itu hanya untuk menemukanmu.
*Edisi lebay. :D
Label:
Ini Tulisanku
Minggu, 03 November 2013
Perjalanan Pemuda Indonesia..
Dulu mereka mengangkat bendera “asal” mereka masing-masing
mau menyatakan bahwa mereka berbeda.
Tapi mereka berkumpul dan menyatukan kekuatan.
Menyatakan Sumpah Bersama. Satu Indonesia.
Sekarang mereka menghormati bendera yang sama
di tanah milik bersama.
Tapi yang mereka kejar kemakmuran masing-masing
Perbedaan menjadi isu yang sensitif.
ketika tersentuh maka darah pun tercurah,
bukan karena pengorbanan,
tapi korban kemunafikan.
Ternyata kenyamanan dan kemakmuran berhasil memecah mereka.
Kenyamanan dan kemakmurannya berhasil menjajah mereka.
Kecerdasannya tidak lagi menuntunnya untuk bersatu.
Jubah Sucinya menjadi Pembeda tubuh yang berdaki
dengan tubuh berdaki lainnya.
Mereka yang dulu bersatu dan berjuang kini telah terlupakan.
Yang muncul sekarang adalah pemuda-pemuda
yang memimpin perusahaannya di balik jeruji,
terpenjara oleh persundalannya.
Sudah wafatkah perjuangan itu?
Sudah matikah persatuan itu?
sehingga kini yang tertinggal hanya kuburan-kuburan yang diberi cat putih.
*Salam Sumpah Pemuda.mau menyatakan bahwa mereka berbeda.
Tapi mereka berkumpul dan menyatukan kekuatan.
Menyatakan Sumpah Bersama. Satu Indonesia.
Sekarang mereka menghormati bendera yang sama
di tanah milik bersama.
Tapi yang mereka kejar kemakmuran masing-masing
Perbedaan menjadi isu yang sensitif.
ketika tersentuh maka darah pun tercurah,
bukan karena pengorbanan,
tapi korban kemunafikan.
Ternyata kenyamanan dan kemakmuran berhasil memecah mereka.
Kenyamanan dan kemakmurannya berhasil menjajah mereka.
Kecerdasannya tidak lagi menuntunnya untuk bersatu.
Jubah Sucinya menjadi Pembeda tubuh yang berdaki
dengan tubuh berdaki lainnya.
Mereka yang dulu bersatu dan berjuang kini telah terlupakan.
Yang muncul sekarang adalah pemuda-pemuda
yang memimpin perusahaannya di balik jeruji,
terpenjara oleh persundalannya.
Sudah wafatkah perjuangan itu?
Sudah matikah persatuan itu?
sehingga kini yang tertinggal hanya kuburan-kuburan yang diberi cat putih.
Label:
Ini Tulisanku
Kamis, 19 September 2013
Labirin Rindu.. :D
Saat gamang mendekap, rasanya tak begitu yakin mampu bertanya, kenapa setiap musim yang terlalui tak pernah meninggalkan namanya…Seperti teduh angin sore sesekali luruhkan helai daun yang berserak dan lembab oleh hujan…
………………………
Ada cerita kembali terdengar seperti suara hujan jatuh di dedaunan, tanah dan atap rumah…serupa irama detik jam atau suara helaan nafas….Sunyi dan selarik puisi tentangmu menyekapku dalam labirin rindu yang panjang… Sekejap menjadi lengkap ketika aku berpapasan dengan rasamu.. Ah… cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya, katamu menggerimis serupa kecupan….
……………………….
Ku urai cerita ini sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, berharap hatimu menyampaikan sesuatu dengan sederhana… kelak saat malam mengendap senyap, aku dan kamu temukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirkan sebentuk cinta lewat puisi dan juga doa…
Label:
Ini Tulisanku,
Khayalan.. =))
Langganan:
Postingan (Atom)
Tampilkan postingan dengan label Ini Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ini Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Desember 2014
Kuberinama Kau Alam.
Selamat siang, semesta!
Selamat siang, alam!
Selamat siang, angin!
Selamat siang, dingin!
Selamat siang, Al!
Aku selalu mengingat dengan jelas beberapa hal yang baru kudengar tapi bisa mempengaruhi mindsetku dari sebelumnya. Seperti sehari sebelum aku menulis ini, aku kembali disadarkan betapa segala yang ada itu mampu hidup. Maka jangan tanya mengapa saat aku mulai bosan berkomunikasi dengan manusia.
Tapi sebelum itu, aku bersusah payah mengkorelasikan apa yang dibicarakan dosenku panjang lebar dengan satu hal yang selalu kuingat entah dimana dan waktunya kapan: kamu.
Kamu tau? Semua yang ada di alam ini bisa kita ajak komunikasi. Sekalipun mereka tak pandai merespon dan membuat kita mengangguk-angguk pasti. Bicara dengan alam tentu semakin membuat kita digandrungi banyak hal, tapi percayalah alam akan menjawab tidak dengan bahasa dan perkataan. Melainkan dengan kenyatan.
Lalu kalau tumbuhan saja bisa lebih subur saat dalam proses penanamannya selalu dipuji dan diajak bicara, kenapa kamu tidak? :p
Finally, aku bertekad akan semakin gila menjadikanmu objek dalam setiap cerita. Menceritakanmu banyak hal tanpa khawatir kamu tak mendengar. Aku semakin bertekad mengagumimu sedemikian rupa. Sebab aku percaya pada akhirnya kamu akan paham seberapa sulit saat kamu menjadi objek yang ditinggalkan. :)
#withlove
Selamat siang, alam!
Selamat siang, angin!
Selamat siang, dingin!
Selamat siang, Al!
Aku selalu mengingat dengan jelas beberapa hal yang baru kudengar tapi bisa mempengaruhi mindsetku dari sebelumnya. Seperti sehari sebelum aku menulis ini, aku kembali disadarkan betapa segala yang ada itu mampu hidup. Maka jangan tanya mengapa saat aku mulai bosan berkomunikasi dengan manusia.
Tapi sebelum itu, aku bersusah payah mengkorelasikan apa yang dibicarakan dosenku panjang lebar dengan satu hal yang selalu kuingat entah dimana dan waktunya kapan: kamu.
Kamu tau? Semua yang ada di alam ini bisa kita ajak komunikasi. Sekalipun mereka tak pandai merespon dan membuat kita mengangguk-angguk pasti. Bicara dengan alam tentu semakin membuat kita digandrungi banyak hal, tapi percayalah alam akan menjawab tidak dengan bahasa dan perkataan. Melainkan dengan kenyatan.
Lalu kalau tumbuhan saja bisa lebih subur saat dalam proses penanamannya selalu dipuji dan diajak bicara, kenapa kamu tidak? :p
Finally, aku bertekad akan semakin gila menjadikanmu objek dalam setiap cerita. Menceritakanmu banyak hal tanpa khawatir kamu tak mendengar. Aku semakin bertekad mengagumimu sedemikian rupa. Sebab aku percaya pada akhirnya kamu akan paham seberapa sulit saat kamu menjadi objek yang ditinggalkan. :)
#withlove
Minggu, 08 Juni 2014
Namanya Sandal ^^
Namanya Sandal. Tapi aku biasa memanggilnya "Al".
Wajahnya tak tampan, tampak sedikit tirus. Dari pertemuanku beberapa bulan yang lalu dengannya, dia tak ubahnya seorang penyair gadungan yang jarang mandi apalagi merawat diri. Dia terkesan apa adanya, tak peduli orang mau bilang apa. Yang penting dia happy fun dengan hidupnya.
Namanya Sandal. Tapi orang biasa memanggilnya "Revo".
Entah darimana kata itu diambil, intinya sangat jauh dari nama aslinya (SANDAL)
Aku pun menyesuaikan panggilan jika berhadapan dengan teman-teman kampus dan kosnya. Jika tidak, seharian aku bilang mencari Al tak kan ada satupun yang berhasil memberitahuku dimana ia sedang berada.
Namanya Sandal. Tapi keluarganya biasa memanggilnya "Arif"
Aku makin bingung itu nama berasal darimana lagi. Bukankah mereka yang memberinama, lalu kenapa juga harus mereka yang salah dalam panggilan? Kenapa justru harus aku (yang entah dia panggil apa) mampu mamanggilmu dengan sebenar-benar namamu.
Begitu banyak panggilanmu, yang tak satupun sama denganku. Lalu siapakah yang tak layak? Aku?
Aku tak peduli siapa namamu, yang terpenting aku mencintaimu.
*Greeeeeek :D
Wajahnya tak tampan, tampak sedikit tirus. Dari pertemuanku beberapa bulan yang lalu dengannya, dia tak ubahnya seorang penyair gadungan yang jarang mandi apalagi merawat diri. Dia terkesan apa adanya, tak peduli orang mau bilang apa. Yang penting dia happy fun dengan hidupnya.
Namanya Sandal. Tapi orang biasa memanggilnya "Revo".
Entah darimana kata itu diambil, intinya sangat jauh dari nama aslinya (SANDAL)
Aku pun menyesuaikan panggilan jika berhadapan dengan teman-teman kampus dan kosnya. Jika tidak, seharian aku bilang mencari Al tak kan ada satupun yang berhasil memberitahuku dimana ia sedang berada.
Namanya Sandal. Tapi keluarganya biasa memanggilnya "Arif"
Aku makin bingung itu nama berasal darimana lagi. Bukankah mereka yang memberinama, lalu kenapa juga harus mereka yang salah dalam panggilan? Kenapa justru harus aku (yang entah dia panggil apa) mampu mamanggilmu dengan sebenar-benar namamu.
Begitu banyak panggilanmu, yang tak satupun sama denganku. Lalu siapakah yang tak layak? Aku?
Aku tak peduli siapa namamu, yang terpenting aku mencintaimu.
*Greeeeeek :D
Kamis, 15 Mei 2014
Namanya, HUJAN!
*Just like the clouds my eyes will do the
same
If you walk away, every day it will rain, rain, rain*
If you walk away, every day it will rain, rain, rain*
***
09 Pebruari 2014
Di luar
hujan. Maka jangan salahkan jika aku harus meringkuk kaku di kamar sendirian mendapati
hal yang paling aku benci sejak aku dilahirkan. Tentang beberapa alasan, sudah
berulangkali aku utarakan. Banyak yang bilang karena aku masih belum pernah
melebur dengan ribuan tetesnya yang menenangkan, tapi sungguh bukan itu. Semasa
kecil pernah kucoba merapikan payung dalam ransel saat hujan sedang
deras-derasnya. Lalu apa? Aku meriang tak tertolong setelahnya. Semakin aku tak
suka.
Menurut
nenek, Hujan adalah nama seorang gadis penunggu petang, badannya lemah dan ia
tak punya teman. Tentang segerombolan air yang seringkali mengguyur, itulah air
matanya yang ia keluarkan akibat rasa kesepian dan kesedihan yang mendalam. Maka
dinamakanlah peristiwa turunya air itu dengan sebutan ‘Hujan’. Maka aku tak mau
di dunia ini masih ada teman yang kesepian.
Tapi
sudahlah, lupakan tentang alasanku membenci hujan, malam ini ada yang ingin
kuceritakan. Tentang kombinasi menarik yang membuat hatiku lumayan begidik: Hujan
dan Rindu. Dua hal yang sama membuatku kehabisan cara berbahagia. Tapi bukankah
cinta dan rindu adalah satu paket yang tak bisa dipisah satu-satu? Siap mengaku
cinta berarti siap menanggung rindu.
Yup, aku
pernah beberapa kali meyakinkan; aku mencintaimu. Ya! Kamu! Lelaki yang kukenal
setahun yang lalu. Bermata sipit, berambut coklat, bermuka tirus. Dengan
otot-otot kekar yang membuatku selalu ingin meredam lelah dan amarah ke
pangkuanmu.Kita sengaja Tuhan takdirkan bertemu dengan cara yang tak pernah
kita tunggu. Berawal dari ulah teman baikku yang ingin mengenalkan, menukarkan
kontak kita satu sama lain. Entah maksudnya apa. Tiba-tiba kita saling bertukar
cerita, laluaku mengagumimu dan secepat itu kamu kuanggap kekasihku. Tanpa
kencan-kencan sakral yang pernah dilakukan semua remaja seusiaku pada malam
minggu, kita sama berani merapal doa untuk sebuah masa depan. Terkadang aku
merutuk jarak habis-habisan. Bagaimana ia tega menjauhkan sepasang kekasih yang
saling membutuhkan. Ah, jarak ini. Panas di kotaku, kau meringkuk dalam selimut
di kotamu.
Berulangkali
aku pernah cemburu pada bantal dan gulingmu yang setiap hari menemanimu lelap
dan melepas penat. Pernah juga sekali dalam perjalanan, aku melihat setiap
pengendara motor persis wajahmu.Dan masih banyak hal lain yang labih gila
daripada ini. Aku bahkan sering tersenyum dan tertawa sendiri tanpa mau disebut
gila.
***
09 Mei 2014
Beberapa
bulan terakhir ini serupa gigi berlubang yang kemasukan potongan gorengan: ada
yang mengganjal. Waktu-waktu kita serasa dipangkas paksa oleh hantu paling
menyebalkan bernama jarak dan kesibukan. Spontan saja ada banyak kecurigaan
yang terpaksa harus aku pikirkan lebih dalam. Kita jarang komunikasi sekarang.
Bukankah itu yang paling kita butuhkan saat jarak sudah tak mampu kita
taklukkan? Kamu kenapa? Sedang baik-baik di sana? Aku selalu percaya benar ada
kesibukan yang menuntutmu sekarang, tapi yakinku mustahil kau merapikan ponsel
dalam saku siang-malam. Lalu kenapa tak sedikitpun tergerak untuk sekedar
menyapa yang itu membuatku serasa melambung di udara?
Oh iya, besok
adalah hari kebesaranmu. Hari pertama kamu dilahirkan. Kita ada janji bertemu
bukan? Syukurlah, barangkali besok aku berani memarahimu habis-habisan atas
kelakuanmu yang dengan sadar menjadikanku objek kedua setelah kesibukan.
Baiknya sekarang aku tidur saja. Mempersiapakan untuk sebuah ketenangan esok
hari.
***
Pagi itu di kotamu.
Rupanya
kau menunggu lebih awal. Ada senyum kecil hatiku yang tak bisa kurahasiakan.
“Hei, apa
kabar?”, kamu memulai percakapan.
“Aku
baik. Tapi mataku sedikit bengkak, kurang istirahat”, aku memancingmu untuk
menyadarkanmu betapa kamu telah benar sengaja menjadikanku malam-malamku
insomnia.
“Jangan
bilang karenaku”, ekspresimu datar. Aku serasa tertampar.
Aku diam.
Lalu kau melanjutkan.
“Maaf akhir-akhir ini aku akan disibukkan
banyak hal. Kamu tak perlu menjadi seperti janda kehilangan suami saat aku tak
berkabar. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk sendirian”. Rupanya kamu sudah
mulai kurangajar.
“Oh iya,
tak apa. Aku baik-baik saja”. Entah kenapa tiba-tiba aku tak bisa menuntutmu
apa-apa selain menerima.
“Sepertinya
aku harus ke kampus sekarang. Ada rapat yang menunggu, terimakasih
kedatangannya”. Ucapmu sambil berbalik arah.
“Hmm,
Happy Birthday. Semoga tercapai cita.” Aku terbata-bata, sembari memberikan
kotak hadiah yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari menjelang hari istimewamu.
“Oh, aku
benar-benar lupa. Terimakasih”. Kamu mengambilnya dari tanganku lalu pergi, tak
berbalik lagi.
Oh Tuhan,
aku ingin menekan tombol Pause kehidupan. Agar kenyataan ini berhenti sebentar,
aku ingin mengambil nafas. Kali ini aku lebih dari sekedar terpukul dan
tertampar. Inginku hal-hal membahagiakan saja yang harus terjadi hari ini.
Tapi..
Tiba-tiba
hujan. Entah kenapa aku melupakan kebencianku pada tetesnya. Malah aku sedang
butuh banturannya menyembunyikan ribuan air mata yang akan segera menderas. Dan
sampai di sini aku sadar, lantaran sebuah
jarak, menyusul ada hal-hal yang mencoba susah payah memisahkan,
termasuk rasa bosan.
***
Mataku terus menghujan. Deras. Deras
sekali. Inikah yang kau bilang tangisan seorang gadis yang kesepian, Nek?
Selasa, 25 Maret 2014
Kupanggil Kau Kakek :*
Mei 2030.
Kupanggil Kau Kakek
Ini bukan jenis tulisan roman. Melainkan hanya sebuah catatan usang perempuan penunggu petang. Anggap saja ini surat pemberitahuan yang malu kuucapkan.Bertahun-tahun aku mampu nakal tanpa pernah menyampaikan maksud dan tujuan. Hanya melalui senyuman, kupikir aku sudah rampung menyampaikan.
Tentang tulisan ini, hanya sejenis keinginan mengenalkanmu pada seisi kota yang tak pernah melahirkanmu. Ingin memberitahu bahwa kamu pernah berniat ada tapi kau urungkan karena satu dan lain hal. Kamu yang kumaksud adalah lelaki yang kukenal sebagai kakek-kakek. Berusia setengah abad dengan tubuh masih kekar. Kamu tinggi kurus, bermuka tirus, tapi yakinku banyak disukai teman-teman SMA mu dulu. Nakalnya, kamu cukup tampan, manis juga kurasa. Ah, kupanggil kau kakek.
Sebenarnya ada yang paling ingin kuistimewakan kan dalam ribua kisahmu: Di Taman Bunga. Sore itu,
Kamu tampak kebingungan. Mengitari tepi taman dengan hitungan puluhan. Entah apa yang kau cari atau siapa yang ingin kau temui. Saat itu aku masih duduk kaku di parkiran. Dengan bantuan sebuah motor butut, aku berhasil duduk nyaman memperhatikanmu. Sama sekali kau tak sadar aku mengikutimu. Untuk menyapamu lebih tepatnya aku malu. Sebab kamu baru kukenal puluhan hari lalu. Apalagi saat mendengar berita kegagalanmu mendapatkan sesuatu. Aku semakin tak punya bekal menenangkanmu dan memberimu tawaran lain untuk tenang-tenang saja. Dan kau masih berputar-putar tanpa tahu malu. Petugas keamanan taman berulangkali juga melirik tajam ke arahmu. Tapi dasar kau tak mau peduli, terus berputar tetap jadi pilihanmu.
Satu jam.
Dua jam.
Eits, tunggu. Ada yang lupa kusampaikan dalam tulisan ini dari awal. Sore itu, kau membawa begitu banyak kardus yang isinya entah apa. Sekitar 5 kardus yang kau jinjing dan kau seret begitu saja. Baju? Buku? Makanan? Entah.
Aku mulai berpikir keras. Kamu kenapa? Mau kemana? Mencari siapa? Kuputuskan untuk berbalik arah. Berhenti memperhatikanmu, melainkan memikirkanmu. Bukankah memikirkan bisa kulakukan tanpa harus ada tautan? Ya, kurasa begitu. Aku mulai duduk bersandar di bawah pohon yang kutak tau namanya. Mencari tentangmu dan apa yang membuatmu berkeliling tak jelas seperti itu. Berpikir. Berpikir.
Astaga, matahari rupanya sudah berpulang tanpa kusadar. Ini sudah malam? Lalu kenapa kau belum pulang?
Selanjutnya aku harus bagaimana? Masih menunggumu yang nyaris linglung? Atau pulang saja?
Kuputuskan memilih pilihan jawaban kedua. Karena saat itu aku mulai tenang. Ada satu jawaban yang kutemukan. Kamu sedang mencari 'KAMAR': tempatmu istirahat, bersembunyi dari segala penat, menyimpan segala apapun yang kau punya, dan apapun bisa kau lakukan di sebuah ruangan bernama kamar. Kurasa benar kau sedang mencarinya di taman itu.
Lalu pada yang membaca tulisan ini? Tolong beri aku jawaban atas sebuah pertanyaan: Adakah persedian Kamar di titik pusat Taman?
Sementara kupikir tak ada, karena di sana hanya menyajikan keindahan dan keharuman dari setiap bunga di dalamnya. Masih untung ada kolam, tak mungkin kamar. Percayalah!
Sebelum aku pulang dan berbalik arah, aku percaya angin bisa menyampaikan padamu di ujung sana: "Hei, kamu sedang dalam kesia-siaan pencarian. Tamanku tak menyediakan apa yang kau butuhkan. Jika hanya ingin mencari ketenangan yang barangkali sesaat, silakan datang. Bawa kembali 5 kardus beban yang memberatkanmu selama ini, jika tak ingin permukaannya rusak oleh panas dan hujan. Sebab Tamanku tak menyediakan atap. Tapi jangan salah paham, bukan aku yang sengaja tak menampungnya, kamu sendiri yang tetap ingin membawanya. Jelas itu di luar batas mampuku. Selamat tenang. Selamat mencari ketenangan. Yang barangkali menurutmu, di sini tak akan kamu temukan. Selamat ".
Kupanggil kau kakek. Kakek Kancil. Kakek Pablo :)
Kupanggil Kau Kakek
Ini bukan jenis tulisan roman. Melainkan hanya sebuah catatan usang perempuan penunggu petang. Anggap saja ini surat pemberitahuan yang malu kuucapkan.Bertahun-tahun aku mampu nakal tanpa pernah menyampaikan maksud dan tujuan. Hanya melalui senyuman, kupikir aku sudah rampung menyampaikan.
Tentang tulisan ini, hanya sejenis keinginan mengenalkanmu pada seisi kota yang tak pernah melahirkanmu. Ingin memberitahu bahwa kamu pernah berniat ada tapi kau urungkan karena satu dan lain hal. Kamu yang kumaksud adalah lelaki yang kukenal sebagai kakek-kakek. Berusia setengah abad dengan tubuh masih kekar. Kamu tinggi kurus, bermuka tirus, tapi yakinku banyak disukai teman-teman SMA mu dulu. Nakalnya, kamu cukup tampan, manis juga kurasa. Ah, kupanggil kau kakek.
Sebenarnya ada yang paling ingin kuistimewakan kan dalam ribua kisahmu: Di Taman Bunga. Sore itu,
Kamu tampak kebingungan. Mengitari tepi taman dengan hitungan puluhan. Entah apa yang kau cari atau siapa yang ingin kau temui. Saat itu aku masih duduk kaku di parkiran. Dengan bantuan sebuah motor butut, aku berhasil duduk nyaman memperhatikanmu. Sama sekali kau tak sadar aku mengikutimu. Untuk menyapamu lebih tepatnya aku malu. Sebab kamu baru kukenal puluhan hari lalu. Apalagi saat mendengar berita kegagalanmu mendapatkan sesuatu. Aku semakin tak punya bekal menenangkanmu dan memberimu tawaran lain untuk tenang-tenang saja. Dan kau masih berputar-putar tanpa tahu malu. Petugas keamanan taman berulangkali juga melirik tajam ke arahmu. Tapi dasar kau tak mau peduli, terus berputar tetap jadi pilihanmu.
Satu jam.
Dua jam.
Eits, tunggu. Ada yang lupa kusampaikan dalam tulisan ini dari awal. Sore itu, kau membawa begitu banyak kardus yang isinya entah apa. Sekitar 5 kardus yang kau jinjing dan kau seret begitu saja. Baju? Buku? Makanan? Entah.
Aku mulai berpikir keras. Kamu kenapa? Mau kemana? Mencari siapa? Kuputuskan untuk berbalik arah. Berhenti memperhatikanmu, melainkan memikirkanmu. Bukankah memikirkan bisa kulakukan tanpa harus ada tautan? Ya, kurasa begitu. Aku mulai duduk bersandar di bawah pohon yang kutak tau namanya. Mencari tentangmu dan apa yang membuatmu berkeliling tak jelas seperti itu. Berpikir. Berpikir.
Astaga, matahari rupanya sudah berpulang tanpa kusadar. Ini sudah malam? Lalu kenapa kau belum pulang?
Selanjutnya aku harus bagaimana? Masih menunggumu yang nyaris linglung? Atau pulang saja?
Kuputuskan memilih pilihan jawaban kedua. Karena saat itu aku mulai tenang. Ada satu jawaban yang kutemukan. Kamu sedang mencari 'KAMAR': tempatmu istirahat, bersembunyi dari segala penat, menyimpan segala apapun yang kau punya, dan apapun bisa kau lakukan di sebuah ruangan bernama kamar. Kurasa benar kau sedang mencarinya di taman itu.
Lalu pada yang membaca tulisan ini? Tolong beri aku jawaban atas sebuah pertanyaan: Adakah persedian Kamar di titik pusat Taman?
Sementara kupikir tak ada, karena di sana hanya menyajikan keindahan dan keharuman dari setiap bunga di dalamnya. Masih untung ada kolam, tak mungkin kamar. Percayalah!
Sebelum aku pulang dan berbalik arah, aku percaya angin bisa menyampaikan padamu di ujung sana: "Hei, kamu sedang dalam kesia-siaan pencarian. Tamanku tak menyediakan apa yang kau butuhkan. Jika hanya ingin mencari ketenangan yang barangkali sesaat, silakan datang. Bawa kembali 5 kardus beban yang memberatkanmu selama ini, jika tak ingin permukaannya rusak oleh panas dan hujan. Sebab Tamanku tak menyediakan atap. Tapi jangan salah paham, bukan aku yang sengaja tak menampungnya, kamu sendiri yang tetap ingin membawanya. Jelas itu di luar batas mampuku. Selamat tenang. Selamat mencari ketenangan. Yang barangkali menurutmu, di sini tak akan kamu temukan. Selamat ".
Kupanggil kau kakek. Kakek Kancil. Kakek Pablo :)
Sabtu, 14 Desember 2013
Sabar. :)
Konon, kesabaran itu mahal harganya.
Itupun hanya dijual di Negeri Entah. Tak mungkin tersedia di Negeri tempatku menulis cerita.
Itupun hanya dijual di Negeri Entah. Tak mungkin tersedia di Negeri tempatku menulis cerita.
Konon juga, seandai seluruh emas di setiap leku-lekuk Bumi diangkat, harga Kesabaran jauh melambung tinggi di atasnya.
Tuhan, mungkin karena itu Kau kembali mengingatkan: Aku perempuan jelata yang tak cukup modal membelinya sekarang.
Tapi tak apa, aku tetap ingin membeli, cicilannyapun akan kubayar sendiri. —
Tuhan, mungkin karena itu Kau kembali mengingatkan: Aku perempuan jelata yang tak cukup modal membelinya sekarang.
Tapi tak apa, aku tetap ingin membeli, cicilannyapun akan kubayar sendiri. —
Selasa, 05 November 2013
Fikiranku; Flying without wings
Kelas siang itu begitu hiruk pikuk namun tak mengusik ku sedikitpun. Karena fikiranku yagn sudah tak berada di sini lagi. Fikiran itu, ia memutuskan untuk mengepakkan sayapnya, melayang terbang disela-sela kepala manusia yang mulai kusut karena materi kuliah yang bagaimanapun mereka tak mengerti apa satra itu.
Fikiranku…sampai di jendela bertengger pada jeruji besi (seperti terpenjara saja), lalu memutuskan untuk terbang lebih jauh. Mencari ketenangan, mencari ketenangan. Fikiranku dengan gembira menyusuri rumput hijau yang menari-nari bersama angina sepoi, melewati anak sungai yang tenang dan sang ikan menyapa ramah,
“hei kamu hendak kemana? Bolehkah aku ikut denganmu?”
“aku ingin mencari ketenangan, kenyamanan. Jika engkau ikut aku, aku takut nanti aku juga telusuri arus sungai ini dan aku tak mau. Karna aku punya arus sendiri. Maaf, aku tak bisa mengajakmu serta”. Jawabku
Dan sang ikan tersenyum sambil menyusuri bibir sungai dengan gembira. Fikiranku, kembali melayang terbang hingga akhirnya ia temukan apa yang ia cari.
Ya!!!
Ini tentang ketenangan itu, kenyamanan itu. Dan apa kau tau? Ternyata itu kamu, seseorang yang aku tuju.. Lihat!!! Berapa jauh perjalanan itu hanya untuk menemukanmu.
*Edisi lebay. :D
Minggu, 03 November 2013
Perjalanan Pemuda Indonesia..
Dulu mereka mengangkat bendera “asal” mereka masing-masing
mau menyatakan bahwa mereka berbeda.
Tapi mereka berkumpul dan menyatukan kekuatan.
Menyatakan Sumpah Bersama. Satu Indonesia.
Sekarang mereka menghormati bendera yang sama
di tanah milik bersama.
Tapi yang mereka kejar kemakmuran masing-masing
Perbedaan menjadi isu yang sensitif.
ketika tersentuh maka darah pun tercurah,
bukan karena pengorbanan,
tapi korban kemunafikan.
Ternyata kenyamanan dan kemakmuran berhasil memecah mereka.
Kenyamanan dan kemakmurannya berhasil menjajah mereka.
Kecerdasannya tidak lagi menuntunnya untuk bersatu.
Jubah Sucinya menjadi Pembeda tubuh yang berdaki
dengan tubuh berdaki lainnya.
Mereka yang dulu bersatu dan berjuang kini telah terlupakan.
Yang muncul sekarang adalah pemuda-pemuda
yang memimpin perusahaannya di balik jeruji,
terpenjara oleh persundalannya.
Sudah wafatkah perjuangan itu?
Sudah matikah persatuan itu?
sehingga kini yang tertinggal hanya kuburan-kuburan yang diberi cat putih.
*Salam Sumpah Pemuda.mau menyatakan bahwa mereka berbeda.
Tapi mereka berkumpul dan menyatukan kekuatan.
Menyatakan Sumpah Bersama. Satu Indonesia.
Sekarang mereka menghormati bendera yang sama
di tanah milik bersama.
Tapi yang mereka kejar kemakmuran masing-masing
Perbedaan menjadi isu yang sensitif.
ketika tersentuh maka darah pun tercurah,
bukan karena pengorbanan,
tapi korban kemunafikan.
Ternyata kenyamanan dan kemakmuran berhasil memecah mereka.
Kenyamanan dan kemakmurannya berhasil menjajah mereka.
Kecerdasannya tidak lagi menuntunnya untuk bersatu.
Jubah Sucinya menjadi Pembeda tubuh yang berdaki
dengan tubuh berdaki lainnya.
Mereka yang dulu bersatu dan berjuang kini telah terlupakan.
Yang muncul sekarang adalah pemuda-pemuda
yang memimpin perusahaannya di balik jeruji,
terpenjara oleh persundalannya.
Sudah wafatkah perjuangan itu?
Sudah matikah persatuan itu?
sehingga kini yang tertinggal hanya kuburan-kuburan yang diberi cat putih.
Kamis, 19 September 2013
Labirin Rindu.. :D
Saat gamang mendekap, rasanya tak begitu yakin mampu bertanya, kenapa setiap musim yang terlalui tak pernah meninggalkan namanya…Seperti teduh angin sore sesekali luruhkan helai daun yang berserak dan lembab oleh hujan…
………………………
Ada cerita kembali terdengar seperti suara hujan jatuh di dedaunan, tanah dan atap rumah…serupa irama detik jam atau suara helaan nafas….Sunyi dan selarik puisi tentangmu menyekapku dalam labirin rindu yang panjang… Sekejap menjadi lengkap ketika aku berpapasan dengan rasamu.. Ah… cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya, katamu menggerimis serupa kecupan….
……………………….
Ku urai cerita ini sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, berharap hatimu menyampaikan sesuatu dengan sederhana… kelak saat malam mengendap senyap, aku dan kamu temukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirkan sebentuk cinta lewat puisi dan juga doa…
Langganan:
Postingan (Atom)




