Tampilkan postingan dengan label Khayalan.. =)). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khayalan.. =)). Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Labirin Rindu.. :D


Saat gamang mendekap, rasanya tak begitu yakin mampu bertanya, kenapa setiap musim yang terlalui tak pernah meninggalkan namanya…Seperti teduh angin sore sesekali luruhkan helai daun yang berserak dan lembab oleh hujan…
………………………
Ada cerita kembali terdengar seperti suara hujan jatuh di dedaunan, tanah dan atap rumah…serupa irama detik jam atau suara helaan nafas….Sunyi dan selarik puisi tentangmu menyekapku dalam labirin rindu yang panjang… Sekejap menjadi lengkap ketika aku berpapasan dengan rasamu.. Ah… cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya, katamu menggerimis serupa kecupan….
……………………….
Ku urai cerita ini sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, berharap hatimu menyampaikan sesuatu dengan sederhana… kelak saat malam mengendap senyap, aku dan kamu temukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirkan sebentuk cinta lewat puisi dan juga doa…

Selasa, 03 September 2013

Badai;


Terkadang, kehidupan ini melintasi badai.
Bagi beberapa orang, badai itu adalah penyakit yang datang dan diketahui, tanpa diingini.
Bagi beberapa orang yang lain, badai itu adalah kehilangan pekerjaan, diantara tumpukan tagihan dan hanya ada satu penghasilan.

Badai yang lain, bagi orang yang berbeda, keluarga yang terkoyak, tanpa tanda-tanda apapun.
Bagi anak-anak, badai adalah mendengar orang tua akan berpisah, dan mereka harus memilih daddy or mommy. Bagi remaja, badai mungkin saat putus cinta.
Badai adalah badai….


Kehidupan harus tetap dijalani. Beberapa kali dalam lintasan peristiwa, kita akan menghadapi badai-badai serupa. Sekali lagi, kecuali kita mau “quit” menyerah, maka, kita harus mampu terbang ditengah badai.

Menulis tentang ini, mengingatkan saya dengan beberapa hal yang pernah saya dengar, bahwa burung rajawali, adalah burung yang terbang lebih tinggi pada saat badai, dan luarbiasanya adalah kecepatannya bertambah, justru pada saat badai, walaupun ia tidak mengepakkan sayapnya.

Saya berpikir, dalam keadaan seperti ini, mungkinkah kita dapat melakukan sesuatu yang menghargai  perbedaan. Mungkin hanya bagi sedikit orang,… tetapi tetap lakukan saja.

Sekurangnya mari memberi arti diri kita dengan perbedaan itu..

Bangunkan Aku Ombak.. :)

Suara jangkrik masih nyaring terdengar, sayup gulita malam mencekik pergelangan kaki menahan langkah ku. Jam dinding menunjukan pukul 4 kurang saat aku keluar dari rumah tanpa mengabari ayah ibu. Perlu  sekitar 40 langkah untuk sampai ke tujuan selanjutnya. Rumah Al, begitu kumemanggilnya. Ia adalah sahabat bermain semenjak sembilan bulan yang lalu , lebih tua 1 tahun membuat-nya menjadi Abang untukku..

Aku ragu apakah Al sudah bangun atau belum, dari jauh pintu rumahnya masih tertutup. Belum lagi aku harus melewati sekolah tua yang katanya angker. Seolah langkah terbawa angin untuk terus lanjut kesana, membangunkan atau menjemput janji kemaren sore bersamanya. Main Kepantai Jam 4 Pagi.

Jarak yang bisa di bilang tak jauh dari pantai, membuat ombak terdengar jelas dan membangunkan ku subuh ini. Teringat janji kemaren yang mengajaknya ‘Olahraga’ jam 4 ke pantai. Maklum kami anak desa yang gak ada taman bermain disini.

Benar saja, Al dan Keluarganya belum bangun. Aku tak berani mengetok pintu atau mengucap salam. Ku duduk di depan pintu rumahnya yang tak berteras, melengkungkan lutut dan menyandarkan kepala di atasnya. Hingga ku dengar suara pintu terbuka di belakangku

Pelan ku bangunkan si Abangku, dan akhirnya terbangun meski dengan sedikit geliat malas. Tapi semangatku tiap minggu subuh untuk pergi kepantai menghapus kemalasannya.

Berdua dengannya , kami susuri jalan gelap menuju pantai kebanggaan. Bagaimana tidak bangga, ini adalah satu-satunya tempat paling menarik di desa kami. Gelap, Masih gelapp sekali. Beberapa rumah yang kami lewati sudah mengawali aktifitas seperti hari biasanya. Mencuci penggorengan dan panci yang di di bawahnya hitam di penuhi arang.

Ah… segar aroma pantai, desir anginnya memainkan ujung jilbab panjangku. Ombak Besar gagal menakuti kami yang larut akan indahnya alam. Sandal kami titipkan di pinggir pantai yang tak bertuan. Lanjut kami telusuri butiran pasir demi pasir, hingga matahari datang menemani kami.
——————————
Al, kapan kita bisa seperti itu lagi.Menikmati pantai sesubuh itu. Menjadikan pantai seperti hanya milik kita. Ombak,Tolong Panggil dan bangunkan kami lagi :)



*bisa saja hanya sekedar khayalan-
Tampilkan postingan dengan label Khayalan.. =)). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khayalan.. =)). Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Labirin Rindu.. :D

Diposting oleh Unknown di 06.06 0 komentar

Saat gamang mendekap, rasanya tak begitu yakin mampu bertanya, kenapa setiap musim yang terlalui tak pernah meninggalkan namanya…Seperti teduh angin sore sesekali luruhkan helai daun yang berserak dan lembab oleh hujan…
………………………
Ada cerita kembali terdengar seperti suara hujan jatuh di dedaunan, tanah dan atap rumah…serupa irama detik jam atau suara helaan nafas….Sunyi dan selarik puisi tentangmu menyekapku dalam labirin rindu yang panjang… Sekejap menjadi lengkap ketika aku berpapasan dengan rasamu.. Ah… cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya, katamu menggerimis serupa kecupan….
……………………….
Ku urai cerita ini sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, berharap hatimu menyampaikan sesuatu dengan sederhana… kelak saat malam mengendap senyap, aku dan kamu temukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirkan sebentuk cinta lewat puisi dan juga doa…

Selasa, 03 September 2013

Badai;

Diposting oleh Unknown di 05.04 0 komentar

Terkadang, kehidupan ini melintasi badai.
Bagi beberapa orang, badai itu adalah penyakit yang datang dan diketahui, tanpa diingini.
Bagi beberapa orang yang lain, badai itu adalah kehilangan pekerjaan, diantara tumpukan tagihan dan hanya ada satu penghasilan.

Badai yang lain, bagi orang yang berbeda, keluarga yang terkoyak, tanpa tanda-tanda apapun.
Bagi anak-anak, badai adalah mendengar orang tua akan berpisah, dan mereka harus memilih daddy or mommy. Bagi remaja, badai mungkin saat putus cinta.
Badai adalah badai….


Kehidupan harus tetap dijalani. Beberapa kali dalam lintasan peristiwa, kita akan menghadapi badai-badai serupa. Sekali lagi, kecuali kita mau “quit” menyerah, maka, kita harus mampu terbang ditengah badai.

Menulis tentang ini, mengingatkan saya dengan beberapa hal yang pernah saya dengar, bahwa burung rajawali, adalah burung yang terbang lebih tinggi pada saat badai, dan luarbiasanya adalah kecepatannya bertambah, justru pada saat badai, walaupun ia tidak mengepakkan sayapnya.

Saya berpikir, dalam keadaan seperti ini, mungkinkah kita dapat melakukan sesuatu yang menghargai  perbedaan. Mungkin hanya bagi sedikit orang,… tetapi tetap lakukan saja.

Sekurangnya mari memberi arti diri kita dengan perbedaan itu..

Bangunkan Aku Ombak.. :)

Diposting oleh Unknown di 04.48 0 komentar
Suara jangkrik masih nyaring terdengar, sayup gulita malam mencekik pergelangan kaki menahan langkah ku. Jam dinding menunjukan pukul 4 kurang saat aku keluar dari rumah tanpa mengabari ayah ibu. Perlu  sekitar 40 langkah untuk sampai ke tujuan selanjutnya. Rumah Al, begitu kumemanggilnya. Ia adalah sahabat bermain semenjak sembilan bulan yang lalu , lebih tua 1 tahun membuat-nya menjadi Abang untukku..

Aku ragu apakah Al sudah bangun atau belum, dari jauh pintu rumahnya masih tertutup. Belum lagi aku harus melewati sekolah tua yang katanya angker. Seolah langkah terbawa angin untuk terus lanjut kesana, membangunkan atau menjemput janji kemaren sore bersamanya. Main Kepantai Jam 4 Pagi.

Jarak yang bisa di bilang tak jauh dari pantai, membuat ombak terdengar jelas dan membangunkan ku subuh ini. Teringat janji kemaren yang mengajaknya ‘Olahraga’ jam 4 ke pantai. Maklum kami anak desa yang gak ada taman bermain disini.

Benar saja, Al dan Keluarganya belum bangun. Aku tak berani mengetok pintu atau mengucap salam. Ku duduk di depan pintu rumahnya yang tak berteras, melengkungkan lutut dan menyandarkan kepala di atasnya. Hingga ku dengar suara pintu terbuka di belakangku

Pelan ku bangunkan si Abangku, dan akhirnya terbangun meski dengan sedikit geliat malas. Tapi semangatku tiap minggu subuh untuk pergi kepantai menghapus kemalasannya.

Berdua dengannya , kami susuri jalan gelap menuju pantai kebanggaan. Bagaimana tidak bangga, ini adalah satu-satunya tempat paling menarik di desa kami. Gelap, Masih gelapp sekali. Beberapa rumah yang kami lewati sudah mengawali aktifitas seperti hari biasanya. Mencuci penggorengan dan panci yang di di bawahnya hitam di penuhi arang.

Ah… segar aroma pantai, desir anginnya memainkan ujung jilbab panjangku. Ombak Besar gagal menakuti kami yang larut akan indahnya alam. Sandal kami titipkan di pinggir pantai yang tak bertuan. Lanjut kami telusuri butiran pasir demi pasir, hingga matahari datang menemani kami.
——————————
Al, kapan kita bisa seperti itu lagi.Menikmati pantai sesubuh itu. Menjadikan pantai seperti hanya milik kita. Ombak,Tolong Panggil dan bangunkan kami lagi :)



*bisa saja hanya sekedar khayalan-

 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang