Sepertinya di luar sedang hujan. Padahal ia keras mematuk
genting-genting rumahku. Entah mengapa, aku seperti tak melihat dan tak
mendengar apa-apa, Selain aku dan kenanganku..
Yah, tak ada yang lebih indah dari ingatan masa lalu. Pahit sekalipun, akan terasa menggelitik dibuatnya. Menyadari kau yang dengan lancang , mengajakku ke banyak tempat tanpa seizing orang tuaku. Kau tak pernah duduk resmi di depan ayahku untuk halal menyayangiku. Kau malah mengajakku sembunyi bermain rindu, lalu kau akan membawaku pergi ke tempat yang kau tuju..
Sebuah tempat yang sama sekali belum pernah kumengunjunginya. Namanya pun terasa asing di telinga. Gubuk Asmara kau bilang. Sebuah tempat pertama yang mengenalkan kita. Kau juga yang mengajakku ke sana. Masih tertata rapi dalam ingatan, bagaimana pertama kau mengajakku duduk di sebuah bangku tua.pandangi bulan di kitaran bintang-bintang. Diskusi kecil yang menghangatkan awali perkenalan kita. Hingga akhirnya kau berkata “suasana langit tak kan seindah mala mini tanpa salah satu diantara keduanya”.
Malam-malam selanjutnya, kau kembali berdiri di depan rumahku. Kau selalu tau kapan ayahku tak lagi di rumah, menjagaku. Maka saat itu kau akan membawa ke tempat baru yang kau bilang tempat rahasia. Malam itu, ku kembali mengikutimu, sebuah ruang hampa udara. Namun penuh keindahan di dalamnya. Menyesakkan. Tak ada yang bias kulihat dalam ruangan itu selain kau dan keindahan-keindahan di sekelilingmu. Tapi sungguh aku tak bias bernafas di ruang itu. Auditorium Rindu kau bilang.
“Fa, pintunya belum kau kunci saying..”, ucap ibuku, melongo dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Sebentar kemudian ia berlalu pergi. Ah ibu, kau hentikan ingatanku tentangnya. Tapi tak apalah, kuberdiri untuk mengunci kamarku. Karena malam memang sangatlah larut. Mari kembali kubawa ingatan tentangmu..
Di malam perayaan ULTAHku, 4 tahun setelah kita dipertemukan waktu. Kau tak kunjung kulihat sampai 4 jam seusai acaraku. Acara sakralpun kulalui tanpamu. Mungkin kau cukup dengan alas an kuat untuk tak dating memberiku semangat dan selamat. Namun tiba-tiba, saat kumenangis di serambi rumahku, kau dating, tergopoh-gopoh meraih tanganku. Akupun mengikutimu, barangkali kau mau menunjukkan alas an kenapa kau tak dating pada saat acara bahagiaku tadi. Malam itu kau membawaku ke sebuah hutan,kau menyebutnya Hutan Luka dan Kecewa. Kuakui itu pengalaman pertama yang kualami. Pepohonan di sana tampak berduri dan di bawahnya tampak bertaburan pecahan beling. Kakiku cukup banyak mengeluarkan darah. Aku mengerang kesakitan. Akupun kembali dalam tangis. Tapi kau sama sekali tak menghiraukanku. Bahkan saat itu dengan mudahnya kau membalikkan badan, menjauhiku. Aku sendiri di hutan itu. Merasakan sakit, takut dan kecewa. Sungguh kau laki-laki biadab.
Dengan langkah gontai, aku kembali pulang, sungguh ini tak adil bagiku. Ibuku saja yang menurutku paling sering memarahiku, tak pernah menenggelamkanku dalam tangis seperti ini. Ini lebih sulit kujalani, menyadari kau adalah mimpi dalam tidur panjang pengharapanku.
“Sayang.. kau tidak tidur semalaman Nak,,”, ucap Ibu dari balik jendela yang belum kututup tirainya,. Astaga, rupanya ini sudah pagi. Mentaripun tak lagi sembunyi-sembunyi.
“Ah, aku tidak apa-apa Bu..”, ucapku sekenanya. Tuhan, rupanya semalaman aku hanya duduk termangu mengenangnya. Mungkin aku lupa, terbuai ingatan tentangnya. Hingga detik ini baru kusadarai, kembali kau mengajakku ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah juga kukunjungi. Sebuah tempat yang terpampang foto-foto kita, diskusi kita dan semua tentang kita. Yah, tempat ini Ruang Kenangan. Huh, aku mencoba merakit senyum, berusaha berterimakasih telah kau kenalkan pada tempat-tempat baru yang tentunya memiliki ruang tersendiri di ruang hatiku.
kuguyur tubuh ini dengan air. Pening. Hingga aku lupa, tak mengingat apa-apa, selain kau, berikut kenangan..
Yah, tak ada yang lebih indah dari ingatan masa lalu. Pahit sekalipun, akan terasa menggelitik dibuatnya. Menyadari kau yang dengan lancang , mengajakku ke banyak tempat tanpa seizing orang tuaku. Kau tak pernah duduk resmi di depan ayahku untuk halal menyayangiku. Kau malah mengajakku sembunyi bermain rindu, lalu kau akan membawaku pergi ke tempat yang kau tuju..
Sebuah tempat yang sama sekali belum pernah kumengunjunginya. Namanya pun terasa asing di telinga. Gubuk Asmara kau bilang. Sebuah tempat pertama yang mengenalkan kita. Kau juga yang mengajakku ke sana. Masih tertata rapi dalam ingatan, bagaimana pertama kau mengajakku duduk di sebuah bangku tua.pandangi bulan di kitaran bintang-bintang. Diskusi kecil yang menghangatkan awali perkenalan kita. Hingga akhirnya kau berkata “suasana langit tak kan seindah mala mini tanpa salah satu diantara keduanya”.
Malam-malam selanjutnya, kau kembali berdiri di depan rumahku. Kau selalu tau kapan ayahku tak lagi di rumah, menjagaku. Maka saat itu kau akan membawa ke tempat baru yang kau bilang tempat rahasia. Malam itu, ku kembali mengikutimu, sebuah ruang hampa udara. Namun penuh keindahan di dalamnya. Menyesakkan. Tak ada yang bias kulihat dalam ruangan itu selain kau dan keindahan-keindahan di sekelilingmu. Tapi sungguh aku tak bias bernafas di ruang itu. Auditorium Rindu kau bilang.
“Fa, pintunya belum kau kunci saying..”, ucap ibuku, melongo dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Sebentar kemudian ia berlalu pergi. Ah ibu, kau hentikan ingatanku tentangnya. Tapi tak apalah, kuberdiri untuk mengunci kamarku. Karena malam memang sangatlah larut. Mari kembali kubawa ingatan tentangmu..
Di malam perayaan ULTAHku, 4 tahun setelah kita dipertemukan waktu. Kau tak kunjung kulihat sampai 4 jam seusai acaraku. Acara sakralpun kulalui tanpamu. Mungkin kau cukup dengan alas an kuat untuk tak dating memberiku semangat dan selamat. Namun tiba-tiba, saat kumenangis di serambi rumahku, kau dating, tergopoh-gopoh meraih tanganku. Akupun mengikutimu, barangkali kau mau menunjukkan alas an kenapa kau tak dating pada saat acara bahagiaku tadi. Malam itu kau membawaku ke sebuah hutan,kau menyebutnya Hutan Luka dan Kecewa. Kuakui itu pengalaman pertama yang kualami. Pepohonan di sana tampak berduri dan di bawahnya tampak bertaburan pecahan beling. Kakiku cukup banyak mengeluarkan darah. Aku mengerang kesakitan. Akupun kembali dalam tangis. Tapi kau sama sekali tak menghiraukanku. Bahkan saat itu dengan mudahnya kau membalikkan badan, menjauhiku. Aku sendiri di hutan itu. Merasakan sakit, takut dan kecewa. Sungguh kau laki-laki biadab.
Dengan langkah gontai, aku kembali pulang, sungguh ini tak adil bagiku. Ibuku saja yang menurutku paling sering memarahiku, tak pernah menenggelamkanku dalam tangis seperti ini. Ini lebih sulit kujalani, menyadari kau adalah mimpi dalam tidur panjang pengharapanku.
“Sayang.. kau tidak tidur semalaman Nak,,”, ucap Ibu dari balik jendela yang belum kututup tirainya,. Astaga, rupanya ini sudah pagi. Mentaripun tak lagi sembunyi-sembunyi.
“Ah, aku tidak apa-apa Bu..”, ucapku sekenanya. Tuhan, rupanya semalaman aku hanya duduk termangu mengenangnya. Mungkin aku lupa, terbuai ingatan tentangnya. Hingga detik ini baru kusadarai, kembali kau mengajakku ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah juga kukunjungi. Sebuah tempat yang terpampang foto-foto kita, diskusi kita dan semua tentang kita. Yah, tempat ini Ruang Kenangan. Huh, aku mencoba merakit senyum, berusaha berterimakasih telah kau kenalkan pada tempat-tempat baru yang tentunya memiliki ruang tersendiri di ruang hatiku.
kuguyur tubuh ini dengan air. Pening. Hingga aku lupa, tak mengingat apa-apa, selain kau, berikut kenangan..
0 komentar:
Posting Komentar