Kamis, 15 Mei 2014

Namanya, HUJAN!


*Just like the clouds my eyes will do the same
If you walk away, every day
it will rain, rain, rain*
***
09 Pebruari 2014
Di luar hujan. Maka jangan salahkan jika aku harus meringkuk kaku di kamar sendirian mendapati hal yang paling aku benci sejak aku dilahirkan. Tentang beberapa alasan, sudah berulangkali aku utarakan. Banyak yang bilang karena aku masih belum pernah melebur dengan ribuan tetesnya yang menenangkan, tapi sungguh bukan itu. Semasa kecil pernah kucoba merapikan payung dalam ransel saat hujan sedang deras-derasnya. Lalu apa? Aku meriang tak tertolong setelahnya. Semakin aku tak suka.
Menurut nenek, Hujan adalah nama seorang gadis penunggu petang, badannya lemah dan ia tak punya teman. Tentang segerombolan air yang seringkali mengguyur, itulah air matanya yang ia keluarkan akibat rasa kesepian dan kesedihan yang mendalam. Maka dinamakanlah peristiwa turunya air itu dengan sebutan ‘Hujan’. Maka aku tak mau di dunia ini masih ada teman yang kesepian.
            Tapi sudahlah, lupakan tentang alasanku membenci hujan, malam ini ada yang ingin kuceritakan. Tentang kombinasi menarik yang membuat hatiku lumayan begidik: Hujan dan Rindu. Dua hal yang sama membuatku kehabisan cara berbahagia. Tapi bukankah cinta dan rindu adalah satu paket yang tak bisa dipisah satu-satu? Siap mengaku cinta berarti siap menanggung rindu.
Yup, aku pernah beberapa kali meyakinkan; aku mencintaimu. Ya! Kamu! Lelaki yang kukenal setahun yang lalu. Bermata sipit, berambut coklat, bermuka tirus. Dengan otot-otot kekar yang membuatku selalu ingin meredam lelah dan amarah ke pangkuanmu.Kita sengaja Tuhan takdirkan bertemu dengan cara yang tak pernah kita tunggu. Berawal dari ulah teman baikku yang ingin mengenalkan, menukarkan kontak kita satu sama lain. Entah maksudnya apa. Tiba-tiba kita saling bertukar cerita, laluaku mengagumimu dan secepat itu kamu kuanggap kekasihku. Tanpa kencan-kencan sakral yang pernah dilakukan semua remaja seusiaku pada malam minggu, kita sama berani merapal doa untuk sebuah masa depan. Terkadang aku merutuk jarak habis-habisan. Bagaimana ia tega menjauhkan sepasang kekasih yang saling membutuhkan. Ah, jarak ini. Panas di kotaku, kau meringkuk dalam selimut di kotamu.
Berulangkali aku pernah cemburu pada bantal dan gulingmu yang setiap hari menemanimu lelap dan melepas penat. Pernah juga sekali dalam perjalanan, aku melihat setiap pengendara motor persis wajahmu.Dan masih banyak hal lain yang labih gila daripada ini. Aku bahkan sering tersenyum dan tertawa sendiri tanpa mau disebut gila.
***
09 Mei 2014
Beberapa bulan terakhir ini serupa gigi berlubang yang kemasukan potongan gorengan: ada yang mengganjal. Waktu-waktu kita serasa dipangkas paksa oleh hantu paling menyebalkan bernama jarak dan kesibukan. Spontan saja ada banyak kecurigaan yang terpaksa harus aku pikirkan lebih dalam. Kita jarang komunikasi sekarang. Bukankah itu yang paling kita butuhkan saat jarak sudah tak mampu kita taklukkan? Kamu kenapa? Sedang baik-baik di sana? Aku selalu percaya benar ada kesibukan yang menuntutmu sekarang, tapi yakinku mustahil kau merapikan ponsel dalam saku siang-malam. Lalu kenapa tak sedikitpun tergerak untuk sekedar menyapa yang itu membuatku serasa melambung di udara?
Oh iya, besok adalah hari kebesaranmu. Hari pertama kamu dilahirkan. Kita ada janji bertemu bukan? Syukurlah, barangkali besok aku berani memarahimu habis-habisan atas kelakuanmu yang dengan sadar menjadikanku objek kedua setelah kesibukan. Baiknya sekarang aku tidur saja. Mempersiapakan untuk sebuah ketenangan esok hari.
***
Pagi itu di kotamu.
Rupanya kau menunggu lebih awal. Ada senyum kecil hatiku yang tak bisa kurahasiakan.
“Hei, apa kabar?”, kamu memulai percakapan.
“Aku baik. Tapi mataku sedikit bengkak, kurang istirahat”, aku memancingmu untuk menyadarkanmu betapa kamu telah benar sengaja menjadikanku malam-malamku insomnia.
“Jangan bilang karenaku”, ekspresimu datar. Aku serasa tertampar.
Aku diam. Lalu kau melanjutkan.
 “Maaf akhir-akhir ini aku akan disibukkan banyak hal. Kamu tak perlu menjadi seperti janda kehilangan suami saat aku tak berkabar. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk sendirian”. Rupanya kamu sudah mulai kurangajar.
“Oh iya, tak apa. Aku baik-baik saja”. Entah kenapa tiba-tiba aku tak bisa menuntutmu apa-apa selain menerima.
“Sepertinya aku harus ke kampus sekarang. Ada rapat yang menunggu, terimakasih kedatangannya”. Ucapmu sambil berbalik arah.
“Hmm, Happy Birthday. Semoga tercapai cita.” Aku terbata-bata, sembari memberikan kotak hadiah yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari menjelang hari istimewamu.
“Oh, aku benar-benar lupa. Terimakasih”. Kamu mengambilnya dari tanganku lalu pergi, tak berbalik lagi.
Oh Tuhan, aku ingin menekan tombol Pause kehidupan. Agar kenyataan ini berhenti sebentar, aku ingin mengambil nafas. Kali ini aku lebih dari sekedar terpukul dan tertampar. Inginku hal-hal membahagiakan saja yang harus terjadi hari ini. Tapi..
Tiba-tiba hujan. Entah kenapa aku melupakan kebencianku pada tetesnya. Malah aku sedang butuh banturannya menyembunyikan ribuan air mata yang akan segera menderas. Dan sampai di sini aku sadar, lantaran sebuah  jarak, menyusul ada hal-hal yang mencoba susah payah memisahkan, termasuk rasa bosan.
***
Mataku terus menghujan. Deras. Deras sekali. Inikah yang kau bilang tangisan seorang gadis yang kesepian, Nek?

0 komentar:

Posting Komentar

Kamis, 15 Mei 2014

Namanya, HUJAN!

Diposting oleh Unknown di 03.54

*Just like the clouds my eyes will do the same
If you walk away, every day
it will rain, rain, rain*
***
09 Pebruari 2014
Di luar hujan. Maka jangan salahkan jika aku harus meringkuk kaku di kamar sendirian mendapati hal yang paling aku benci sejak aku dilahirkan. Tentang beberapa alasan, sudah berulangkali aku utarakan. Banyak yang bilang karena aku masih belum pernah melebur dengan ribuan tetesnya yang menenangkan, tapi sungguh bukan itu. Semasa kecil pernah kucoba merapikan payung dalam ransel saat hujan sedang deras-derasnya. Lalu apa? Aku meriang tak tertolong setelahnya. Semakin aku tak suka.
Menurut nenek, Hujan adalah nama seorang gadis penunggu petang, badannya lemah dan ia tak punya teman. Tentang segerombolan air yang seringkali mengguyur, itulah air matanya yang ia keluarkan akibat rasa kesepian dan kesedihan yang mendalam. Maka dinamakanlah peristiwa turunya air itu dengan sebutan ‘Hujan’. Maka aku tak mau di dunia ini masih ada teman yang kesepian.
            Tapi sudahlah, lupakan tentang alasanku membenci hujan, malam ini ada yang ingin kuceritakan. Tentang kombinasi menarik yang membuat hatiku lumayan begidik: Hujan dan Rindu. Dua hal yang sama membuatku kehabisan cara berbahagia. Tapi bukankah cinta dan rindu adalah satu paket yang tak bisa dipisah satu-satu? Siap mengaku cinta berarti siap menanggung rindu.
Yup, aku pernah beberapa kali meyakinkan; aku mencintaimu. Ya! Kamu! Lelaki yang kukenal setahun yang lalu. Bermata sipit, berambut coklat, bermuka tirus. Dengan otot-otot kekar yang membuatku selalu ingin meredam lelah dan amarah ke pangkuanmu.Kita sengaja Tuhan takdirkan bertemu dengan cara yang tak pernah kita tunggu. Berawal dari ulah teman baikku yang ingin mengenalkan, menukarkan kontak kita satu sama lain. Entah maksudnya apa. Tiba-tiba kita saling bertukar cerita, laluaku mengagumimu dan secepat itu kamu kuanggap kekasihku. Tanpa kencan-kencan sakral yang pernah dilakukan semua remaja seusiaku pada malam minggu, kita sama berani merapal doa untuk sebuah masa depan. Terkadang aku merutuk jarak habis-habisan. Bagaimana ia tega menjauhkan sepasang kekasih yang saling membutuhkan. Ah, jarak ini. Panas di kotaku, kau meringkuk dalam selimut di kotamu.
Berulangkali aku pernah cemburu pada bantal dan gulingmu yang setiap hari menemanimu lelap dan melepas penat. Pernah juga sekali dalam perjalanan, aku melihat setiap pengendara motor persis wajahmu.Dan masih banyak hal lain yang labih gila daripada ini. Aku bahkan sering tersenyum dan tertawa sendiri tanpa mau disebut gila.
***
09 Mei 2014
Beberapa bulan terakhir ini serupa gigi berlubang yang kemasukan potongan gorengan: ada yang mengganjal. Waktu-waktu kita serasa dipangkas paksa oleh hantu paling menyebalkan bernama jarak dan kesibukan. Spontan saja ada banyak kecurigaan yang terpaksa harus aku pikirkan lebih dalam. Kita jarang komunikasi sekarang. Bukankah itu yang paling kita butuhkan saat jarak sudah tak mampu kita taklukkan? Kamu kenapa? Sedang baik-baik di sana? Aku selalu percaya benar ada kesibukan yang menuntutmu sekarang, tapi yakinku mustahil kau merapikan ponsel dalam saku siang-malam. Lalu kenapa tak sedikitpun tergerak untuk sekedar menyapa yang itu membuatku serasa melambung di udara?
Oh iya, besok adalah hari kebesaranmu. Hari pertama kamu dilahirkan. Kita ada janji bertemu bukan? Syukurlah, barangkali besok aku berani memarahimu habis-habisan atas kelakuanmu yang dengan sadar menjadikanku objek kedua setelah kesibukan. Baiknya sekarang aku tidur saja. Mempersiapakan untuk sebuah ketenangan esok hari.
***
Pagi itu di kotamu.
Rupanya kau menunggu lebih awal. Ada senyum kecil hatiku yang tak bisa kurahasiakan.
“Hei, apa kabar?”, kamu memulai percakapan.
“Aku baik. Tapi mataku sedikit bengkak, kurang istirahat”, aku memancingmu untuk menyadarkanmu betapa kamu telah benar sengaja menjadikanku malam-malamku insomnia.
“Jangan bilang karenaku”, ekspresimu datar. Aku serasa tertampar.
Aku diam. Lalu kau melanjutkan.
 “Maaf akhir-akhir ini aku akan disibukkan banyak hal. Kamu tak perlu menjadi seperti janda kehilangan suami saat aku tak berkabar. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk sendirian”. Rupanya kamu sudah mulai kurangajar.
“Oh iya, tak apa. Aku baik-baik saja”. Entah kenapa tiba-tiba aku tak bisa menuntutmu apa-apa selain menerima.
“Sepertinya aku harus ke kampus sekarang. Ada rapat yang menunggu, terimakasih kedatangannya”. Ucapmu sambil berbalik arah.
“Hmm, Happy Birthday. Semoga tercapai cita.” Aku terbata-bata, sembari memberikan kotak hadiah yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari menjelang hari istimewamu.
“Oh, aku benar-benar lupa. Terimakasih”. Kamu mengambilnya dari tanganku lalu pergi, tak berbalik lagi.
Oh Tuhan, aku ingin menekan tombol Pause kehidupan. Agar kenyataan ini berhenti sebentar, aku ingin mengambil nafas. Kali ini aku lebih dari sekedar terpukul dan tertampar. Inginku hal-hal membahagiakan saja yang harus terjadi hari ini. Tapi..
Tiba-tiba hujan. Entah kenapa aku melupakan kebencianku pada tetesnya. Malah aku sedang butuh banturannya menyembunyikan ribuan air mata yang akan segera menderas. Dan sampai di sini aku sadar, lantaran sebuah  jarak, menyusul ada hal-hal yang mencoba susah payah memisahkan, termasuk rasa bosan.
***
Mataku terus menghujan. Deras. Deras sekali. Inikah yang kau bilang tangisan seorang gadis yang kesepian, Nek?

0 komentar on "Namanya, HUJAN!"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang