Tampilkan postingan dengan label Feel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feel. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2015

Menggodok Mie #1



“Siapa sangka yang akan hadir di masa depan justru seseorang yang sudah sangat lama meninggalkan”

@Untuk kita yang the first sightnya sama sekali tidak istimewa.
***
                Kamu asyik menikmati agar-agar seharga lima ratusan berwarna hijau cerah-kesukaanku- dan sebungkus snack pilus entah merk apa. Posisi dudukmu sangat membantuku memahami sedikit kesukaan berikut watakmu: kamu penikmat buku dan pemikiran mendunia juga pembangkang aturan luar biasa. Alismu mengernyit, memandang hujan yang semakin menderas di hadapan kita. Untaian benang aneka warna dia atas kopiahmu bergoyang seketika kau menoleh, menatapku.  Kulitmu tak secerah pemain-pemain drama Korea. Mukamu tirus. Matamu tajam dan cekung. Senyumanmu misterius-untuk persepsi ini entah aku memperoleh diksi darimana. Ada lesung pipi di sebelah kiri mulutmu-setidaknya itu kalau aku tak salah ingat. Manis. Rambutmu tipis. Berkostum rapi, padahal waktu itu sudah menunjukkan siang hari yang-menurutku-biasanya membuat seseorang bermalasan memperhatikan penampilan. Tapi kamu tidak. Lalu apa lagi? Kita tunggu saja aku menceritakan tanpa sengaja. Setidaknya itu yang sedikit kuingat tentangmu-yang tak pernah kulihat lagi setelah pertemuan itu- dan pertemuan kita kali pertama.            

Kita bertemu tak seberapa lama. Karena memang tak ada pembicaraan hangat yang kita rindu untuk diperbincangkan. Kita belum pernah kenal sebelumnya. Lalu kenapa kita bertemu? Entah kebetulan atau memang direncanakan Tuhan-aku condong pada opsi kedua, kita tiba-tiba berada dalam satu lingkup tugas dan kewajiban. Ada hal penting yang harus kamu tanyakan tentang perkembangan tugasku yang kamu jelaskan beberapa minggu sebelumnya. Akupun langsung melaporkan bagaimana aku yang pontang-panting melaksanakan tugas semampu yang aku bisa. Selesai topik utama, kamu mulai panjang lebar bercerita. Ada banyak pihak lembaga yang tidak kamu suka karena beberapa alasan yang menurutmu bisa diterima logika. Kamu tak sejalan pemikiran dengan mereka-apa kubilang? Kamu pembangkang luar biasa. Lalu saat kau meminta jatahku berkisah, aku geleng-geleng kepala. Saat itu aku masih kelas dua SMA. Hobiku berbicara memang sudah tercipta sejak aku ada, tapi di depan makhluk sejenismu, aku belum terbiasa. Aku memilih diam saja. Mendengarkan dengan seksama. Setidaknya aku ingin juga menjadi pendengar yang baik disamping profesiku sebagai pembicara andal-banyak oceh maksudnya.

Tigapuluh menit berlalu, hujan semakin deras saja. Sehingga tetesannya sesekali mengenai wajah kita. Basah. Kita tertawa. Dan bodohnya, aku terlambat menyadari bahawa saat itu posisi genteng di atasku sedikit bermasalah. Bukan bocor, tapi entah kenapa tepat di dinding tempat kubersandar, ada air mengalir sedemikian lancarnya. Dan aku baru menyadari setelah bagian belakang tubuhku sudah sangat basah. Kamu tampak panik melihat keadaanku dengan baju basah. Lalu menawariku untuk beberapa jarak lebih dekat dari tempatmu semula duduk. Agar tidak tambah basah, katamu. Aku sungkan. Menolak dengan hati-hati. Biarlah aku basah. Toh bukan kepalaku yang jadi korbannya-aku dijamin muntah-muntah pasca kena air hujan di bagian kepala. Aku merasa aman-aman saja. Untuk beberpa menit kamu tampak masih tak tega melihat tubuhku basah bagian belakang. Lalu pikirku kenapa kamu tak segara pulang saja, sehingga aku bisa cepat meninggalkan tempat itu dan mengganti baju di kamar. Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda kamu akan beranjak.

“Nggak apa kok, kak. Ini sudah biasa”, malu-malu kumeyakinkanmu.

Kamu mengangguk. Lalu kembali meneruskan cerita tentang perjuanganmu dan beberapa temanmu dalam menerbitkan sebuah tulisan yang pada awalnya sangat ditentang beberapa pihak. Lelaki ini unik, pikirku saat itu-bahkan mungkin sampai sekarang.

Entah bagaimana kamu mengakhiri cerita, tiba-tiba kamu sudah berdiri. Pamit kembali ke asrama. Aku mengangguk tanpa sengaja. Entah apa yang sedang kupikirkan saat itu. Mengagumi caramu bercerita, atau aku sedang memikirkan beberapa hal lain. Akutak ingat jelas pastinya.

Aku pun kembali ke kamar, dengan hati sedikit mirip taman bunga. Entah mengapa.

***

Tiga tahun berlalu.

Kawat: Apa kabar, Le?

Lele? Aku mengernyitkan dahi. Lupa namaku? Bukankah sudah tertulis jelas di akunku?

La’la’: Baik.

Aku menjawab simpel. Buru-buru menulis balasan agar rasa kagetku sama sekali tak ketahuan. Wajar aku kaget bukan kepalang, selama tiga tahun kita putus hubungan. Aku sudah selesai dengan proyek tulisan dengan pihakmu. Aku keluar dari asrama dan melanjutkan studi ke kota -yang ulang tahunnya dirayakan selama satu bulan penuh dan sedang berlangsung saat aku menulis tulisan ini-ini. Sama sekali tidak ada yang memberiku kabar tentangmu selama tahun-tahun terakhir itu. Sehingga aku merasa perlu menanyakan banyak hal setelah sapaanmu yang tiba-tiba itu. Aku bahkan sudah semester dua. Entah kamu sedang dimana, kuliah dengan jurusan apa dan banyak pertanyaan lainnya.
                 
Kita lalu melanjutkan percakapan basa-basi tentang ini dan itu. Aku lupa detail percakapan kita. Maka lebih baik tidak kutuliskan saja. Aku khawatir kamu menuntutku jika aku ada kesalahan bahasa.

Sebulan.

Dua bulan

Tiga bulan.

Kamu sedang dalam masalah besar.

Bersambung.


Kamis, 19 Maret 2015

Bukan Surat Cinta


Percaya atau tidak, aku tercenung tiga puluh menit sebelum memulai tulisan ini. Bingung harus memulai dengan sapa ceria, datar-datar saja atau bahkan menampakkan saja bahwa aku belum sepenuhnya berhenti menjadi perempuan insomnia setiap malamnya. Semua kata berlomba menjadi yang pertama dalam tulisan. Semua peristiwa meronta menjadi yang paling awal diceritakan. Seandai otakku berbahan beling, sudah kupecahkan jauh sebelum aku berkeinginan menuliskan keadaan paling mematikan ini: mematikan karena harus ada banyak hal yang sengaja aku hadirkan dalam ingatan. Mulai dari rasa kenyang yang kuperoleh tanpa satupun suapan, sampai satu jam setelah melahap beberapa menu masakan, perutku masih merasa kelaparan.

Otakku masih membayangkan banyak hal yang berlalu-lalang sejak beberapa bulan terakhir. Tentang tips mengelus dada yang lebih kreatif, semangat bergabung bersama banyak orang yang kerjanya hanya baca tulis, sampai pada penyusunan resolusi yang ujung-ujungnya mendapat umpatan sendiri dari otak dan hati bahwa rancanganku tak lebih dari sekedar resolusi basi.

Awalnya aku ingin ngakak saja, menyadari betapa aku merasa satu-satunya perempuan termalang di dunia-setidaknya itu lebih menguasai pikiranku beberapa waktu lalu- yang sudah tidak percaya bahwa yang berbuat baik pada sesama dan mengasihi hewan lebih dari manusia lainnya, akan dihampiri seorang pangeran berkuda putih yang rupawan dan sangat keren nama panggilannya.

Aku sudah mensugestikan diri sendiri bahwa di luar sana semua mata lelaki berbentuk sama: KOTAK. Padahal temanku bilang, Spongebob yang tubuhnya kotak saja masih memiliki mata bulat sempurna. Tapi entah, intinya aku merasa mata mereka tidak hanya akan melukai sepasang mata lain yang memandangnya sekali, melainkan berkali-kali. Seperti sebuah kotak dengan empat sudutnya, satu sudut tobat dengan perlakuannya, sudut lain berebut menagih jatahnya. Atau pikiran picik ini datang setelah aku divonis trauma stadium empat. Entah.

Tiga puluh menit berlalu dengan kecamuk pikiran yang lebih buruk dari kata ‘amburadul’. Berputar mengelilingi satu titik paling membahayakan untuk dipandang, dikenang apalagi diharapkan. Meski itu-itu saja yang sampai saat ini masih kulakukan. Semuanya masih berotasi sempurna.
Akhirnya satu keputusan berani kulontarkan: Tak ada tulisan yang lebih bernyawa kecuali jika itu tentang kekonyolanku yang kuanggap terhormat. Dan tak ada tulisan konyol kecuali jika pembacanya kukhususkan untukmu saja. Ya. Tulisan ini untukmu: yang seharusnya naik menara Eiffel, atau minimal ke Monas untuk rasa syukurmu karena kehadiranku yang lebih mirip robot perempuan dengan perasaan lebih kuat dari manusia lainnya lalu menyukaimu sedemikian hebatnya. Atau kamu malah merasa harus meratap di pekuburan sempit pinggiran kota karena aku kau anggap sosok manusia yang bukan main ngototnya memilihmu dalam setiap rangkaian doanya. Dan kamu menyesal pernah berjabat tangan dengannya. Aku tak tau. Aku takut mempertanyakan tanggapanmu.

Hei, aku berbasa-basi terlalu panjang. Bukan karena sok merhasiakan, tapi memang sambil lalu memikirkan jenis tulisan apalagi yang harus kusampaikan. Model marah-marah sudah terlalu biasa untuk dipublikasikan, sok melankolis juga sudah berpuluh-puluh halaman yang akan kamu temukan. Yang pasti tulisan ini akan lebih memahamkanmu bagaimana aku menyihir diri menjadi pemeran tangguh seperti dalam film-film heroik beberapa bulan terakhir ini. Melawan banyak monster yang lebih membahayakan dari Griever, lebih mematikan dari tatapan Gorgon dan lebih menyeramkan dari Banshee. Monster-monster itu muncul dari keragaman pikiranku sendiri. Bagaimana monster cemburu tak tepat waktu, rasa sedih yang berlarut-larut dan ketidak-mampuanku berdamai dengan kenyataan jelas akan sangat ganas menggerogoti hati tanpa kenal ampun. Aku sudah lama berjuang melawan itu semua. Hasilnya? Dengan sangat percaya diri-tapi tidak sombong-aku berani jamin bahwa aku sudah memenangkannya.
                                                                                                          ***
Bicara tentang kamu memang unik. Seunik pernak-pernik peninggalan para keluarga kerajaan yang hanya bisa kita lihat di balik kaca sedemikian tebalnya, tanpa sedetikpun para penjaga museum mengizinkan kita memegangnya. Kamu hanya bisa kuinjak kakinya lewat lagu yang pernah kamu nyanyikan, hanya bisa kuacak rambutnya melalui foto pajangan di dinding kamar dan hanya bisa kupeluk lewat ingatan yang mengoyak kesabaran.
Aku tidak perlu khawatir ditangkap pihak kepolisian saat harus mengusut tindakanmu yang kuanggap sangat kriminal. Membunuh dengan tragis rasa sabar dan keceriaanku untuk berbulan-bulan. Tapi sebagai keluarga korban, sama sekali aku tak menyimpan dendam maupun  membencimu dengan sangat tajam. Aku tidak bisa lakukan itu. Kamu masih saja rutin kurapal dalam doa dan kupanggil-panggil tiap pagi tanpa peduli kamu sesibuk apa. Aku dibilang tidak paham aturan mungkin sangat benar, bahkan jagonya.

Lambat laun aku merasa harus merenovasi sukaku dari yang lumrah dialami teman-teman sebayaku menjadi yang serba tangguh tapi mengacak-acak hati seperti dalam beberapa kisah yang ditulis Dee dalam bukunya, Rectoverso. Aku harus mengaplikasikan lirik lagu dari penyanyi satu-satunya yang paling aku gilai suaranya di Indonesia. Kamu taulah lagunya apa dan milik siapa. Aku harus. Aku harus. Banyak hal yang kutuntutkan sendiri untuk diri sendiri. Cukup caranya yang wajib lebih kuperbaiki. Sedangkan doa? Aku tak berani mengotak-atiknya. Kamu masih tetap rapi dalam susunan fatihah setelah para guru dan kedua orang tua. Tidak berlebihan, kan? Aku tidak menyangkal jika banyak yang bilang aku goblok memperjuangkan ini sendirian. Tapi entah kenapa, keyakinanku berdiri tegak dengan sangat angkuhnya: bahwa kamu tetap lelaki pertama yang akan kuinjak kaki dan kuacak rambutnya setelah saudaraku (ssst, yang memiliki inisial cahaya boleh ngerasa tercubit lengannya :D) menyanyikan All of Me dan Thinking Out Loud dalam upacara pengukuhan aku-kamu menjadi kita. *haha. Nggak ada yang ngelarang mimpi kita sebegini gilanya, kan?*

Aku selalu kehabisan cara menceritakanmu pada semesta. Sebab kupercaya kamu punya banyak ilmu mistis yang mampu membuatku ngakak dan meratap di waktu yang sama. Yang selalu punya alasan kenapa harus kusebut namamu menjelang tidur setiap malamnya. Yang selalu ada dalam rentetan daftar masa depan bahagia. Hahaha. Aku gila? Boleh saja. Tapi aku punya alat lebih besar dari earphone yang bisa menutup rapat telinga. Mau kamu tertawa ya aku ikut tertawa. Kamu terpesona ya aku tujuh kali melompat bahagia. :D

Sebelum kuakhiri surat yang hampir saja kukirim ke rumah Juliet di sana, anggap saja tulisan ini sebagai jawaban dari tanya yang kamu lontarkan beberapa jam sebelumnya. Jika kamu peka dan mau berbaik hati untuk kesekian kalinya, aku mau jawaban dengan pertanyaan yang sama. ‘Bagaimana bentuk kakiku dalam kacamat 3Dmu?’ :D
                                                                                                    SEKIAN

*Kita bertemu di alphabet selanjutnya. Salam dua kaki!. Tendang!. Kita bahagia!
**Ditulis dalam keadaan yang hanya bisa dideskripsikan para peri kepada Cinderella dan dalam waktu yang hanya bisa dijelaskan oleh Doraemon kepada Nobita.

Minggu, 14 Desember 2014

Aku Curiga.

Tentangku yang akhir-akhir ini sudah membosankan atau sudah sangat tak menyenangkan, itu wajar. Sebab kamu manusia pada umumnya yang menurut temanku memang memiliki titik jenuh itu. Barangkali aku saja sebagai entah makhluk mana merasa tersanjung terlalu besar dulunya. Padahal mungkin memang tak pernah ada cinta.
          

Seketika aku ingin memotong gigi geraham agar tak sedikitpun aku menggeram saat tau aku terabaikan untuk sebuah kesenangan yang baru saja kau dapatkan. Mungkin.
          

Temanku bilang, tingkat kepekaan seorang wanita jauh lebih kuat dibanding lelaki manapun. Dan ia buktikan setelah mengamatiku selama berbulan-bulan. Kali ini aku mau menyetujui seratus delapan puluh persen: Aku peka. Bahkan sudah sejak lama aku berpikir apa yang tak pernah kamu pikirkan. Kamu sedang sama yang lain kan? Entah mau kau istilahkan apa, saudara, tetangga atau apalah. Intinya kau sedang menikmati sebuah kesenangan baru.
         

Awalnya aku diam saja, menjalankan titah seorang perempuan baik yang meski pada suatu saat harus rela dibilang begok dan goblok. Aku tak pernah menyunting apapun privasimu, karena kutahu kau tak suka itu. Lama kelamaan, berdiam serasa membunuhku pelan-pelan. Karena aku harus memperjuangkanmu sendirian.
          

Aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Aku tak suka basa-basi. Aku tau. Kamu selingkuh. Titik.          Kupikir tak boleh memanjangkan praduga sampai ke titik-titik yang mengancam kita. Tapi justru kecurigaan awal itulah yang berhasil mendasari isu menjadi fakta. Kau tau aku berasal  dari sebuah kecurigaan. Tapi nyatanya benar kan? Lalu sekarang aku bisa apa? Menuduhmu dengan mata menuding tepat di kepalamu? Kurasa setelahnya aku dipecat dari komunitas perempuan baik-baik.
         

Kau tau aku paling takut dan enggan mengambil sebuah keputusan yang cukup memberatkan. Aku tak mau jadi subyek yang pertama melepaskan. Apalagi jika harus membebanimu tuduhan. Kutahu kamu pintar mengelak dan mengembalikan segala sesuatunya seperti tak ada apa-apa. Aku bahkan dengan sangat bangga tampak bodoh di depanmu untuk cari aman. Siapa yang pengecut di sini? Aku yang tak mampu jadi diri sendiri atau kamu yang tugasnya hanya mengibuli? Aku lebih memilih disakiti daripada harus menyakiti. Tapi akupun tidak yakin aku baik-baik saja dalam bertahan. Lalu aku harus gimana, Al? Aku perlu lari ke langit ke tujuh untuk mencari sebuah kejujuran?
         

Dalam hal ini sama sekali aku tak pernah takut dilepaskan. Bahkan tak jarang aku malah mendoakan. Aku hanya ingin bebas dengan rasaku, Al. Karena saat ada yang saling melepas, segala halnya murni menjadi hakku. Cinta, cemburu, rindu dan apapun itu murni bebas kumiliki kapan saja tapi dengan catatan tanpa kau tau. Kadang aku berfikir sebaiknya begitu. Daripada harus sok memiliki tapi berani menyakiti.
          


Tuhan, otakku sedang acak-acakan, amburadul dan tak karuan.
14 Juni 201400:07

Rabu, 01 Oktober 2014

With Love ❤

Warning! Ini adalah tulisan paling sia-sia. Tapi wajib kalian baca.

Anggaplah aku tokoh melankolis dalam sebuah alur cerita karangan penulis hebat. Lalu si tokoh aku menulis sebuah surat paling memilikuan.
Begini:

"Wahai kalian yang sering kupinjam telinganya saat aku mulai sibuk bercerita, yang sering kupinjam matanya saat aku sedang asyik-asyiknya menulis tentang apa saja, aku minta maaf. Meski aku sendiri yang sering memberitahu kalian betapa kata Terimakasih dan Maaf adalah dua kata paling tidak keren di dunia. Jika kalian tetap mempertahankan itu, baiklah. Aku rela menjadi yang paling tidak keren itu siang ini.


Aku cuma sedang menyamar menjadi Pemimpin Upacara yang bertugas melapor kepada sang Inspektur Upacara yang dalam benakku adalah kalian semua. Aku mau bilang bahwa besok-pagi sekali-aku akan pergi ke sebuah kota yang jangankan membayangkan, mendengar saja serasa otakku jauh terbang di atas kepala. Aku mau ke kota Imitasi serupa Thneedville yang sering aku ceritakan dalam film kesukaanku. Tak perlu kujelaskan lagi bagaimana suasanya kan? Intinya begini saja: Aku sedang tidak ingin melibatkan unsur manusia untuk hal-hal yang.. entahlah, mungkin apa saja. Sudah terlalu lama menjadi peran antagonis meski kujalankan dengan cara yang manis.
Satu kata tidak keren kedua: Terimakasih

Selamat siang!
*Met liefde "

Sincere :)

Mengenai beberapa orang yang sengaja dihadirkan lalu pergi secepat kilat, aku masih saja heran.

Mungkin kemampuanku yang jauh di bawah rata-rata untuk menyerap indikasi-indikasi pemahaman yang semesta berikan. 
Mungkin juga aku terlalu lama mempercayai bahwa hanya ada satu objek terindah di dunia: kamu.
Sehingga untuk peka terhadap situasi alampun, aku tak bisa. Lalu semua isi semestapun tau, aku salah.

Dan saat benar-benar itu semua terjadi, menerima adalah satu-satunya cara melawan firasat. 

**Aku siap. Karena sampai kapanpun aku tau, I'm not alone.

Selasa, 30 September 2014

Magic

“Saat yang kita butuhkan 

hanya satu sapa yang menghangatkan”


Itupun tak perlu senorak yang pernah kamu bayangkan. Aku sudah merasa sukses belajar banyak hal. Meski yang belum kupelajarai dan gagal aku selami justru lebih banyak lagi. Kau tahu? Hari ini aku ingin membekukan 'kita' yang semalam sibuk mencari sebuah kesepakatan. Kita bicarakan banyak hal dan panjang lebar dengan kondisi hati yang kuyakin suah lebih dari sekedar terbakar, tapi kita saling menahan, berusaha menetralkan. Itu hebat!

Kamu bilang takaran khawatirku untuk kehilangan berlebihan dan harus segera dikurangi mulai sekarang. Dan justru itu yang menurutmu kadang membuatmu mendapatkan pernyataan dan pertanyaan baru yang meski sampai kapan tak akan pernah kamu lontarkan. Lalu perlahan akan mengikis kepercayaan yang telah lama dan susah payah telaha kita bangun beberapa tahun silam. Alasan itu kenapa aku harus pandai-pandai kembali meletakkan kepercayaan, menurutmu.

Lalu akupun tak ada pilihan apa-apa selain mengiyakan. Disamping hal itu juga jelas menuju perbaiakan masa depan. Apalagi aku paling anti jika harus kamu todong sebagai pelaku pengikis kepercayaan. Meski sebenarnya latar belakang kekhawatiranku jelas bukan sebuah bentuk ketidakpercayaan, tapi itu murni kesalahanku mengungkapkan rasa sayang. Iya kan? 

Maka pada akhirnya, jangan salahkan aku jika aku lebih mencintaimu dengan caramu yang seperti ini. Kita sama memahami porsi masing-masing sebagai dua orang yang sama menambatkan keinginan pada jawaban Tuhan. Kita memang seharusnya lebih sederhana begini, tak perlu norak lagi layaknya anak SMP dan SMA yang baru mengenal cinta. Meski jujur, akupun baru mengalaminya. 

Dan sungguh, aku lebih nyaman dengan semua ini. Tak ada yang saling mengikat, selama ada hati masing-masing yang harus kita peluk erat. Tentu dengan Doa yang selalu dirapalkan setiap saat. 

Baiklah Al, ik hou van je :)
Tampilkan postingan dengan label Feel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feel. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2015

Menggodok Mie #1

Diposting oleh Unknown di 02.09 0 komentar


“Siapa sangka yang akan hadir di masa depan justru seseorang yang sudah sangat lama meninggalkan”

@Untuk kita yang the first sightnya sama sekali tidak istimewa.
***
                Kamu asyik menikmati agar-agar seharga lima ratusan berwarna hijau cerah-kesukaanku- dan sebungkus snack pilus entah merk apa. Posisi dudukmu sangat membantuku memahami sedikit kesukaan berikut watakmu: kamu penikmat buku dan pemikiran mendunia juga pembangkang aturan luar biasa. Alismu mengernyit, memandang hujan yang semakin menderas di hadapan kita. Untaian benang aneka warna dia atas kopiahmu bergoyang seketika kau menoleh, menatapku.  Kulitmu tak secerah pemain-pemain drama Korea. Mukamu tirus. Matamu tajam dan cekung. Senyumanmu misterius-untuk persepsi ini entah aku memperoleh diksi darimana. Ada lesung pipi di sebelah kiri mulutmu-setidaknya itu kalau aku tak salah ingat. Manis. Rambutmu tipis. Berkostum rapi, padahal waktu itu sudah menunjukkan siang hari yang-menurutku-biasanya membuat seseorang bermalasan memperhatikan penampilan. Tapi kamu tidak. Lalu apa lagi? Kita tunggu saja aku menceritakan tanpa sengaja. Setidaknya itu yang sedikit kuingat tentangmu-yang tak pernah kulihat lagi setelah pertemuan itu- dan pertemuan kita kali pertama.            

Kita bertemu tak seberapa lama. Karena memang tak ada pembicaraan hangat yang kita rindu untuk diperbincangkan. Kita belum pernah kenal sebelumnya. Lalu kenapa kita bertemu? Entah kebetulan atau memang direncanakan Tuhan-aku condong pada opsi kedua, kita tiba-tiba berada dalam satu lingkup tugas dan kewajiban. Ada hal penting yang harus kamu tanyakan tentang perkembangan tugasku yang kamu jelaskan beberapa minggu sebelumnya. Akupun langsung melaporkan bagaimana aku yang pontang-panting melaksanakan tugas semampu yang aku bisa. Selesai topik utama, kamu mulai panjang lebar bercerita. Ada banyak pihak lembaga yang tidak kamu suka karena beberapa alasan yang menurutmu bisa diterima logika. Kamu tak sejalan pemikiran dengan mereka-apa kubilang? Kamu pembangkang luar biasa. Lalu saat kau meminta jatahku berkisah, aku geleng-geleng kepala. Saat itu aku masih kelas dua SMA. Hobiku berbicara memang sudah tercipta sejak aku ada, tapi di depan makhluk sejenismu, aku belum terbiasa. Aku memilih diam saja. Mendengarkan dengan seksama. Setidaknya aku ingin juga menjadi pendengar yang baik disamping profesiku sebagai pembicara andal-banyak oceh maksudnya.

Tigapuluh menit berlalu, hujan semakin deras saja. Sehingga tetesannya sesekali mengenai wajah kita. Basah. Kita tertawa. Dan bodohnya, aku terlambat menyadari bahawa saat itu posisi genteng di atasku sedikit bermasalah. Bukan bocor, tapi entah kenapa tepat di dinding tempat kubersandar, ada air mengalir sedemikian lancarnya. Dan aku baru menyadari setelah bagian belakang tubuhku sudah sangat basah. Kamu tampak panik melihat keadaanku dengan baju basah. Lalu menawariku untuk beberapa jarak lebih dekat dari tempatmu semula duduk. Agar tidak tambah basah, katamu. Aku sungkan. Menolak dengan hati-hati. Biarlah aku basah. Toh bukan kepalaku yang jadi korbannya-aku dijamin muntah-muntah pasca kena air hujan di bagian kepala. Aku merasa aman-aman saja. Untuk beberpa menit kamu tampak masih tak tega melihat tubuhku basah bagian belakang. Lalu pikirku kenapa kamu tak segara pulang saja, sehingga aku bisa cepat meninggalkan tempat itu dan mengganti baju di kamar. Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda kamu akan beranjak.

“Nggak apa kok, kak. Ini sudah biasa”, malu-malu kumeyakinkanmu.

Kamu mengangguk. Lalu kembali meneruskan cerita tentang perjuanganmu dan beberapa temanmu dalam menerbitkan sebuah tulisan yang pada awalnya sangat ditentang beberapa pihak. Lelaki ini unik, pikirku saat itu-bahkan mungkin sampai sekarang.

Entah bagaimana kamu mengakhiri cerita, tiba-tiba kamu sudah berdiri. Pamit kembali ke asrama. Aku mengangguk tanpa sengaja. Entah apa yang sedang kupikirkan saat itu. Mengagumi caramu bercerita, atau aku sedang memikirkan beberapa hal lain. Akutak ingat jelas pastinya.

Aku pun kembali ke kamar, dengan hati sedikit mirip taman bunga. Entah mengapa.

***

Tiga tahun berlalu.

Kawat: Apa kabar, Le?

Lele? Aku mengernyitkan dahi. Lupa namaku? Bukankah sudah tertulis jelas di akunku?

La’la’: Baik.

Aku menjawab simpel. Buru-buru menulis balasan agar rasa kagetku sama sekali tak ketahuan. Wajar aku kaget bukan kepalang, selama tiga tahun kita putus hubungan. Aku sudah selesai dengan proyek tulisan dengan pihakmu. Aku keluar dari asrama dan melanjutkan studi ke kota -yang ulang tahunnya dirayakan selama satu bulan penuh dan sedang berlangsung saat aku menulis tulisan ini-ini. Sama sekali tidak ada yang memberiku kabar tentangmu selama tahun-tahun terakhir itu. Sehingga aku merasa perlu menanyakan banyak hal setelah sapaanmu yang tiba-tiba itu. Aku bahkan sudah semester dua. Entah kamu sedang dimana, kuliah dengan jurusan apa dan banyak pertanyaan lainnya.
                 
Kita lalu melanjutkan percakapan basa-basi tentang ini dan itu. Aku lupa detail percakapan kita. Maka lebih baik tidak kutuliskan saja. Aku khawatir kamu menuntutku jika aku ada kesalahan bahasa.

Sebulan.

Dua bulan

Tiga bulan.

Kamu sedang dalam masalah besar.

Bersambung.


Kamis, 19 Maret 2015

Bukan Surat Cinta

Diposting oleh Unknown di 00.25 0 komentar

Percaya atau tidak, aku tercenung tiga puluh menit sebelum memulai tulisan ini. Bingung harus memulai dengan sapa ceria, datar-datar saja atau bahkan menampakkan saja bahwa aku belum sepenuhnya berhenti menjadi perempuan insomnia setiap malamnya. Semua kata berlomba menjadi yang pertama dalam tulisan. Semua peristiwa meronta menjadi yang paling awal diceritakan. Seandai otakku berbahan beling, sudah kupecahkan jauh sebelum aku berkeinginan menuliskan keadaan paling mematikan ini: mematikan karena harus ada banyak hal yang sengaja aku hadirkan dalam ingatan. Mulai dari rasa kenyang yang kuperoleh tanpa satupun suapan, sampai satu jam setelah melahap beberapa menu masakan, perutku masih merasa kelaparan.

Otakku masih membayangkan banyak hal yang berlalu-lalang sejak beberapa bulan terakhir. Tentang tips mengelus dada yang lebih kreatif, semangat bergabung bersama banyak orang yang kerjanya hanya baca tulis, sampai pada penyusunan resolusi yang ujung-ujungnya mendapat umpatan sendiri dari otak dan hati bahwa rancanganku tak lebih dari sekedar resolusi basi.

Awalnya aku ingin ngakak saja, menyadari betapa aku merasa satu-satunya perempuan termalang di dunia-setidaknya itu lebih menguasai pikiranku beberapa waktu lalu- yang sudah tidak percaya bahwa yang berbuat baik pada sesama dan mengasihi hewan lebih dari manusia lainnya, akan dihampiri seorang pangeran berkuda putih yang rupawan dan sangat keren nama panggilannya.

Aku sudah mensugestikan diri sendiri bahwa di luar sana semua mata lelaki berbentuk sama: KOTAK. Padahal temanku bilang, Spongebob yang tubuhnya kotak saja masih memiliki mata bulat sempurna. Tapi entah, intinya aku merasa mata mereka tidak hanya akan melukai sepasang mata lain yang memandangnya sekali, melainkan berkali-kali. Seperti sebuah kotak dengan empat sudutnya, satu sudut tobat dengan perlakuannya, sudut lain berebut menagih jatahnya. Atau pikiran picik ini datang setelah aku divonis trauma stadium empat. Entah.

Tiga puluh menit berlalu dengan kecamuk pikiran yang lebih buruk dari kata ‘amburadul’. Berputar mengelilingi satu titik paling membahayakan untuk dipandang, dikenang apalagi diharapkan. Meski itu-itu saja yang sampai saat ini masih kulakukan. Semuanya masih berotasi sempurna.
Akhirnya satu keputusan berani kulontarkan: Tak ada tulisan yang lebih bernyawa kecuali jika itu tentang kekonyolanku yang kuanggap terhormat. Dan tak ada tulisan konyol kecuali jika pembacanya kukhususkan untukmu saja. Ya. Tulisan ini untukmu: yang seharusnya naik menara Eiffel, atau minimal ke Monas untuk rasa syukurmu karena kehadiranku yang lebih mirip robot perempuan dengan perasaan lebih kuat dari manusia lainnya lalu menyukaimu sedemikian hebatnya. Atau kamu malah merasa harus meratap di pekuburan sempit pinggiran kota karena aku kau anggap sosok manusia yang bukan main ngototnya memilihmu dalam setiap rangkaian doanya. Dan kamu menyesal pernah berjabat tangan dengannya. Aku tak tau. Aku takut mempertanyakan tanggapanmu.

Hei, aku berbasa-basi terlalu panjang. Bukan karena sok merhasiakan, tapi memang sambil lalu memikirkan jenis tulisan apalagi yang harus kusampaikan. Model marah-marah sudah terlalu biasa untuk dipublikasikan, sok melankolis juga sudah berpuluh-puluh halaman yang akan kamu temukan. Yang pasti tulisan ini akan lebih memahamkanmu bagaimana aku menyihir diri menjadi pemeran tangguh seperti dalam film-film heroik beberapa bulan terakhir ini. Melawan banyak monster yang lebih membahayakan dari Griever, lebih mematikan dari tatapan Gorgon dan lebih menyeramkan dari Banshee. Monster-monster itu muncul dari keragaman pikiranku sendiri. Bagaimana monster cemburu tak tepat waktu, rasa sedih yang berlarut-larut dan ketidak-mampuanku berdamai dengan kenyataan jelas akan sangat ganas menggerogoti hati tanpa kenal ampun. Aku sudah lama berjuang melawan itu semua. Hasilnya? Dengan sangat percaya diri-tapi tidak sombong-aku berani jamin bahwa aku sudah memenangkannya.
                                                                                                          ***
Bicara tentang kamu memang unik. Seunik pernak-pernik peninggalan para keluarga kerajaan yang hanya bisa kita lihat di balik kaca sedemikian tebalnya, tanpa sedetikpun para penjaga museum mengizinkan kita memegangnya. Kamu hanya bisa kuinjak kakinya lewat lagu yang pernah kamu nyanyikan, hanya bisa kuacak rambutnya melalui foto pajangan di dinding kamar dan hanya bisa kupeluk lewat ingatan yang mengoyak kesabaran.
Aku tidak perlu khawatir ditangkap pihak kepolisian saat harus mengusut tindakanmu yang kuanggap sangat kriminal. Membunuh dengan tragis rasa sabar dan keceriaanku untuk berbulan-bulan. Tapi sebagai keluarga korban, sama sekali aku tak menyimpan dendam maupun  membencimu dengan sangat tajam. Aku tidak bisa lakukan itu. Kamu masih saja rutin kurapal dalam doa dan kupanggil-panggil tiap pagi tanpa peduli kamu sesibuk apa. Aku dibilang tidak paham aturan mungkin sangat benar, bahkan jagonya.

Lambat laun aku merasa harus merenovasi sukaku dari yang lumrah dialami teman-teman sebayaku menjadi yang serba tangguh tapi mengacak-acak hati seperti dalam beberapa kisah yang ditulis Dee dalam bukunya, Rectoverso. Aku harus mengaplikasikan lirik lagu dari penyanyi satu-satunya yang paling aku gilai suaranya di Indonesia. Kamu taulah lagunya apa dan milik siapa. Aku harus. Aku harus. Banyak hal yang kutuntutkan sendiri untuk diri sendiri. Cukup caranya yang wajib lebih kuperbaiki. Sedangkan doa? Aku tak berani mengotak-atiknya. Kamu masih tetap rapi dalam susunan fatihah setelah para guru dan kedua orang tua. Tidak berlebihan, kan? Aku tidak menyangkal jika banyak yang bilang aku goblok memperjuangkan ini sendirian. Tapi entah kenapa, keyakinanku berdiri tegak dengan sangat angkuhnya: bahwa kamu tetap lelaki pertama yang akan kuinjak kaki dan kuacak rambutnya setelah saudaraku (ssst, yang memiliki inisial cahaya boleh ngerasa tercubit lengannya :D) menyanyikan All of Me dan Thinking Out Loud dalam upacara pengukuhan aku-kamu menjadi kita. *haha. Nggak ada yang ngelarang mimpi kita sebegini gilanya, kan?*

Aku selalu kehabisan cara menceritakanmu pada semesta. Sebab kupercaya kamu punya banyak ilmu mistis yang mampu membuatku ngakak dan meratap di waktu yang sama. Yang selalu punya alasan kenapa harus kusebut namamu menjelang tidur setiap malamnya. Yang selalu ada dalam rentetan daftar masa depan bahagia. Hahaha. Aku gila? Boleh saja. Tapi aku punya alat lebih besar dari earphone yang bisa menutup rapat telinga. Mau kamu tertawa ya aku ikut tertawa. Kamu terpesona ya aku tujuh kali melompat bahagia. :D

Sebelum kuakhiri surat yang hampir saja kukirim ke rumah Juliet di sana, anggap saja tulisan ini sebagai jawaban dari tanya yang kamu lontarkan beberapa jam sebelumnya. Jika kamu peka dan mau berbaik hati untuk kesekian kalinya, aku mau jawaban dengan pertanyaan yang sama. ‘Bagaimana bentuk kakiku dalam kacamat 3Dmu?’ :D
                                                                                                    SEKIAN

*Kita bertemu di alphabet selanjutnya. Salam dua kaki!. Tendang!. Kita bahagia!
**Ditulis dalam keadaan yang hanya bisa dideskripsikan para peri kepada Cinderella dan dalam waktu yang hanya bisa dijelaskan oleh Doraemon kepada Nobita.

Minggu, 14 Desember 2014

Aku Curiga.

Diposting oleh Unknown di 17.42 0 komentar

Tentangku yang akhir-akhir ini sudah membosankan atau sudah sangat tak menyenangkan, itu wajar. Sebab kamu manusia pada umumnya yang menurut temanku memang memiliki titik jenuh itu. Barangkali aku saja sebagai entah makhluk mana merasa tersanjung terlalu besar dulunya. Padahal mungkin memang tak pernah ada cinta.
          

Seketika aku ingin memotong gigi geraham agar tak sedikitpun aku menggeram saat tau aku terabaikan untuk sebuah kesenangan yang baru saja kau dapatkan. Mungkin.
          

Temanku bilang, tingkat kepekaan seorang wanita jauh lebih kuat dibanding lelaki manapun. Dan ia buktikan setelah mengamatiku selama berbulan-bulan. Kali ini aku mau menyetujui seratus delapan puluh persen: Aku peka. Bahkan sudah sejak lama aku berpikir apa yang tak pernah kamu pikirkan. Kamu sedang sama yang lain kan? Entah mau kau istilahkan apa, saudara, tetangga atau apalah. Intinya kau sedang menikmati sebuah kesenangan baru.
         

Awalnya aku diam saja, menjalankan titah seorang perempuan baik yang meski pada suatu saat harus rela dibilang begok dan goblok. Aku tak pernah menyunting apapun privasimu, karena kutahu kau tak suka itu. Lama kelamaan, berdiam serasa membunuhku pelan-pelan. Karena aku harus memperjuangkanmu sendirian.
          

Aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Aku tak suka basa-basi. Aku tau. Kamu selingkuh. Titik.          Kupikir tak boleh memanjangkan praduga sampai ke titik-titik yang mengancam kita. Tapi justru kecurigaan awal itulah yang berhasil mendasari isu menjadi fakta. Kau tau aku berasal  dari sebuah kecurigaan. Tapi nyatanya benar kan? Lalu sekarang aku bisa apa? Menuduhmu dengan mata menuding tepat di kepalamu? Kurasa setelahnya aku dipecat dari komunitas perempuan baik-baik.
         

Kau tau aku paling takut dan enggan mengambil sebuah keputusan yang cukup memberatkan. Aku tak mau jadi subyek yang pertama melepaskan. Apalagi jika harus membebanimu tuduhan. Kutahu kamu pintar mengelak dan mengembalikan segala sesuatunya seperti tak ada apa-apa. Aku bahkan dengan sangat bangga tampak bodoh di depanmu untuk cari aman. Siapa yang pengecut di sini? Aku yang tak mampu jadi diri sendiri atau kamu yang tugasnya hanya mengibuli? Aku lebih memilih disakiti daripada harus menyakiti. Tapi akupun tidak yakin aku baik-baik saja dalam bertahan. Lalu aku harus gimana, Al? Aku perlu lari ke langit ke tujuh untuk mencari sebuah kejujuran?
         

Dalam hal ini sama sekali aku tak pernah takut dilepaskan. Bahkan tak jarang aku malah mendoakan. Aku hanya ingin bebas dengan rasaku, Al. Karena saat ada yang saling melepas, segala halnya murni menjadi hakku. Cinta, cemburu, rindu dan apapun itu murni bebas kumiliki kapan saja tapi dengan catatan tanpa kau tau. Kadang aku berfikir sebaiknya begitu. Daripada harus sok memiliki tapi berani menyakiti.
          


Tuhan, otakku sedang acak-acakan, amburadul dan tak karuan.
14 Juni 201400:07

Rabu, 12 November 2014

Missing you Al :*

Diposting oleh Unknown di 07.37 0 komentar

Rabu, 01 Oktober 2014

With Love ❤

Diposting oleh Unknown di 19.24 0 komentar
Warning! Ini adalah tulisan paling sia-sia. Tapi wajib kalian baca.

Anggaplah aku tokoh melankolis dalam sebuah alur cerita karangan penulis hebat. Lalu si tokoh aku menulis sebuah surat paling memilikuan.
Begini:

"Wahai kalian yang sering kupinjam telinganya saat aku mulai sibuk bercerita, yang sering kupinjam matanya saat aku sedang asyik-asyiknya menulis tentang apa saja, aku minta maaf. Meski aku sendiri yang sering memberitahu kalian betapa kata Terimakasih dan Maaf adalah dua kata paling tidak keren di dunia. Jika kalian tetap mempertahankan itu, baiklah. Aku rela menjadi yang paling tidak keren itu siang ini.


Aku cuma sedang menyamar menjadi Pemimpin Upacara yang bertugas melapor kepada sang Inspektur Upacara yang dalam benakku adalah kalian semua. Aku mau bilang bahwa besok-pagi sekali-aku akan pergi ke sebuah kota yang jangankan membayangkan, mendengar saja serasa otakku jauh terbang di atas kepala. Aku mau ke kota Imitasi serupa Thneedville yang sering aku ceritakan dalam film kesukaanku. Tak perlu kujelaskan lagi bagaimana suasanya kan? Intinya begini saja: Aku sedang tidak ingin melibatkan unsur manusia untuk hal-hal yang.. entahlah, mungkin apa saja. Sudah terlalu lama menjadi peran antagonis meski kujalankan dengan cara yang manis.
Satu kata tidak keren kedua: Terimakasih

Selamat siang!
*Met liefde "

Sincere :)

Diposting oleh Unknown di 00.12 0 komentar
Mengenai beberapa orang yang sengaja dihadirkan lalu pergi secepat kilat, aku masih saja heran.

Mungkin kemampuanku yang jauh di bawah rata-rata untuk menyerap indikasi-indikasi pemahaman yang semesta berikan. 
Mungkin juga aku terlalu lama mempercayai bahwa hanya ada satu objek terindah di dunia: kamu.
Sehingga untuk peka terhadap situasi alampun, aku tak bisa. Lalu semua isi semestapun tau, aku salah.

Dan saat benar-benar itu semua terjadi, menerima adalah satu-satunya cara melawan firasat. 

**Aku siap. Karena sampai kapanpun aku tau, I'm not alone.

Selasa, 30 September 2014

Magic

Diposting oleh Unknown di 23.57 0 komentar
“Saat yang kita butuhkan 

hanya satu sapa yang menghangatkan”


Itupun tak perlu senorak yang pernah kamu bayangkan. Aku sudah merasa sukses belajar banyak hal. Meski yang belum kupelajarai dan gagal aku selami justru lebih banyak lagi. Kau tahu? Hari ini aku ingin membekukan 'kita' yang semalam sibuk mencari sebuah kesepakatan. Kita bicarakan banyak hal dan panjang lebar dengan kondisi hati yang kuyakin suah lebih dari sekedar terbakar, tapi kita saling menahan, berusaha menetralkan. Itu hebat!

Kamu bilang takaran khawatirku untuk kehilangan berlebihan dan harus segera dikurangi mulai sekarang. Dan justru itu yang menurutmu kadang membuatmu mendapatkan pernyataan dan pertanyaan baru yang meski sampai kapan tak akan pernah kamu lontarkan. Lalu perlahan akan mengikis kepercayaan yang telah lama dan susah payah telaha kita bangun beberapa tahun silam. Alasan itu kenapa aku harus pandai-pandai kembali meletakkan kepercayaan, menurutmu.

Lalu akupun tak ada pilihan apa-apa selain mengiyakan. Disamping hal itu juga jelas menuju perbaiakan masa depan. Apalagi aku paling anti jika harus kamu todong sebagai pelaku pengikis kepercayaan. Meski sebenarnya latar belakang kekhawatiranku jelas bukan sebuah bentuk ketidakpercayaan, tapi itu murni kesalahanku mengungkapkan rasa sayang. Iya kan? 

Maka pada akhirnya, jangan salahkan aku jika aku lebih mencintaimu dengan caramu yang seperti ini. Kita sama memahami porsi masing-masing sebagai dua orang yang sama menambatkan keinginan pada jawaban Tuhan. Kita memang seharusnya lebih sederhana begini, tak perlu norak lagi layaknya anak SMP dan SMA yang baru mengenal cinta. Meski jujur, akupun baru mengalaminya. 

Dan sungguh, aku lebih nyaman dengan semua ini. Tak ada yang saling mengikat, selama ada hati masing-masing yang harus kita peluk erat. Tentu dengan Doa yang selalu dirapalkan setiap saat. 

Baiklah Al, ik hou van je :)

 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang