Selasa, 21 Mei 2013

Esai



Esai
JANGAN BERANI MENUNTUN ORANG BUTA,
SEMENTARA KAU PUN BUTA!
(Telaah atas dinamika politik praktis di bawah golongan yang tidak memahami arti politik dengan sebenarnya)


Bila kita melihat dengan jujur kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dewasa ini, kita segera melihat bahwa kita sedang menghadapi krisis nasional yang bersifat multidimensional. Tidak berlebihan bila kita katakan, dewasa ini kita menghadapi krisis sosial, akhlak, politik, disiplin nasional, moneter, ekonomi bahkan krisis kemanusiaan.
Perjalanan Orde Baru selama tiga puluh tahun harus kita akui telah menampilkan keberhasilan pembangunan dalam berbagai hal, namun justru menghasilkan penyakit-penyakit sosial, ekonomi bahkan penyakit politik. Namun dalam tulisan kali ini, kita akan lebih mempertajam pada pembahasan politik, baik dari segi permasalahannya, bahkan berbagai solusinya.

Indonesia dan Berbagai Permasalahan Politiknya
Di negeri manakah di dunia ini partai politiknya paling lembut, bersih dan tanpa bopeng-bopeng? Rasanya memang tidak ada satupun seperti itu di manapun  di dunia ini. Negara Singapore, Hongkong, Amerika Serikat (AS) dan Inggris sekalipun yang diyakini “kiblat” dunia panggung politik yang patut ditiru tak akan dapat memberi jaminan partai politknya bersih dan adem- ayem bak dewa-dewi di alam nirwana. Akan tetapi patut dihargai dan belajar cara-cara mereka menjalankan politik dan berpolitik pasti selangkah lebih maju dan lebih baik.
Bagaimana dengan fenomena dunia politik di tanah air? Rasanya tak ada lagi pilihan kata-kata yang paling tepat untuk mendiskripsikan betapa “gerah” nya sebagian rakyat ini melihat manuver-manuver penerapan  politik dalam sistem politik yang centang prenang di tanah air?
Tampaknya ada dua sebab utama yang perlu kita cermati: pertama, sistem politik yang kita bangun ternyata tidak lagi tenable dan sustainable karena tidak menjamin adanya akontabilitas dan kreativitas; kedua, struktur mental yang korup dan predatorik ternyata tumbuh semakin parah dari waktu ke waktu selama kurun waktu tiga puluh terakhir ini. Kita rasakan sekarang, bahwa selama ini banyak di antara para penyelenggara Negara yang jauh dari resep kepemimpinan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAWm yaitu shidiq (kejujuran), amanah (akontabilitas), tabligh (penyampaian informasi dengan benar) dan fathanah (cerdas).
Bila banyak di antara para penyelenggara Negara yang sudah tidak jujur, belaku khianat pada amanat raskyat, tidak bertanggung jawab, melakukan distorsi dan disinformasi, serta bebal dan kurang tangkas berpikir, maka yang kita saksikan adalah ketidak jujuran sosial, politik dan ekonomi.
Sekalipun demikian, kita tidak boleh sedikit pun menjadi panik, patah semangat, apalagi berputus asa dalam menghadapi krisis nasional yang bersifat multidimensional itu, khususnya pada masalah politik. Kita tahu bahwa istilah krisis mungkin dapat dianggap terlalu tajam, tetapi istilah ini saya gunakan untuk menyentak kesadaran kita semua bahwa  masalah politik yang kita hadapi saat ini cukup eksplosif.
Masih belum cukupkah berbagai permasalahan politik yang kita alami sekarang  ini untuk meyakinkan kita bahwa sudah sangat tepat waktunya buat bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan segar dan dan prospektif? Ataukah kita masih menunggu rentetan musibah yang lebih besar lagi untuk meyakinkan kita bahwa status quo sekarang ini sudah tidak perlu diawetkan lagi? Tidak bisakah kita menangkap keresahan yang maki meluas dunia kampus dan masyarakat yang lebih luas, terutama rakyat bawah yang merupakan bagian terbesar rakyat kita?
Alangkah baiknya kalau kita tidak buta atau membutakan mata pada keadaan sebenarnya. Hemat saya, mereka yang buta atau membutakan mata hatinya harus memikul tanggung jawab paling besar bila bangsa Indonesia terpaksa terperosok ke dalam masalah politik  yang lebih dahsyat lagi?
Kita harus menghindarkan diri dari keadaan yang lebih parah, dimana the blind leading the blind, the deaf guiding the deaf, yakni orang buta menuntun orang buta, da orang pekak mengarahkan orang tuli. Bila sampai orang yang buta dan tuli hati nurani saling menuntun dan membimbing dengan orang yang juga buta dan tuli hati nurani, sementara orang yang masih melek dan bengeng (berpendengaran jernih) berdiam diri seribu bahasa, maka dapat diperkirakan bangsa besar ini makin terpuruk ke jurang musibah yang makin parah.

Pembangunan Politik  
Pembangunan politik yang dikaitkan dengan hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa depan memang patut  mendapatkan perhatian kita, oleh karena masyarakat itu sebagaimana yang kita ketahui terus menerus mengalami perubahan. Apalagi pada masa akhir-akhir ini perubahan berlangsung sedemikian cepatnya. Mengingat hal itu, memang terdapat kemungkinan bahwa bahwa kita akan menghadapi kondisi kemasyarakatan dengan berbagai tantangan dan permasalahannya,yang berbeda dengan kondisi kemasyarakatan pada masa kini. Antara lain, masyarakat kita di masa depan itu pastilah merupakan masyarakat yang semakin maju, sebagai hasil kumulatif dari pelbagai factor perubahan social, baik yang bersifat global, regional maupun  nasional. Pembangunan politik yang kita lakukan pada masa sekarang dan yang akan terus berlanjut di masa depan, dengan demikian, wajib mengantisipasikan berbagai perkembangan yang mungkin terjadi di masa depan itu.
Masa depan yang tidak teerlalu jauh di hadapan kita adalah saat tinggal landas menuju masyarakat adil dan makmur. Apabila tinggal landas berhasil kita lakukan, itu berarti sudah terselesaikannya tahappendahuluan yang sangat penting bagi proses modernisasi bangsa kita.
Pembangunan politik merupakan salah satu aspek pembangunan nasional yang biasa dipandang sebagai wahana bagi aspek pembangunan laiinnya. Secaraempiris, proses modernisasi itu semenjak berlangsung di Negara Barat beberapa abad yang lalu, hanyalah dapat dilaksanakan melalui wadah system politik yang berbentuk Negara-negara nasional. Untuk Negara yang sedang berkembang,pembangunan politik bertujuan mempertinggi kapabilitas dari wadah tersebut, atau mempertinggikemampuan sistem politiknya.
Dalam hubungannya dengan proses modernisasi, kpaabilitas sistem politik itu terutama ditentukan oleh efektivitasnya dalam menciptakan kondisi yang dapat memotivasi para warga, menyajikan nilai-nilai yang dapat menyentuh harapan serta keinginan mereka untuk maju dan berkembang. Sebab sekedar kehendak dari sekelompok masyarakat, tidaklah mungkin dapat membawa pada proses modernisasi dalam arti katayang sebenarnya. Modernisasi hanya dapat terlaksana jika kehendak tersebut dapat meluas hingga mencapai tingkat aspirasi bangsa.
Dalam penglihatan saya, setidaknya das beberapa hal yang dapat dilakukan dalam prosses pembnagunan politik:
Menciptakan Stabilitas Politik yang Dinamis
            Proses pembangunan dan modernisasi itu dapat diselenggarakan dengan melalui pelbagai jenis susunan kehidupan politik, yang dilandaskan pada ideology yang berbeda-beda, seperti Borjuisme (Negara-negara Barat), Maoisme (Cina) atau Sinkretisme (Italia, Argentina).
            Kita telah berketetapan untuk melaksanakn proses tersebut dengan melalui susunan kehidupan politik yang dilandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan nilai-nilai Pancasila itu, maka seluruh pembangunan nasional, jadi termasuk di dalamnya proses pembangunan politik, merupakan proses petumbuhan demokrasi, bahkan juga demokrasi ekonomi dan social budaya.hal ini sesuai pula untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang merupakan tujuan dari pembangunan nasional kita.
            Pembnangunan politik nasional yang saya kemukakan di atas adalah suatu perjalanan ntuk membangun perwujudan demokrasi sebagaimana yang kita cita-citakan. Dengan demikian, pembangunan politik tidaklah merupakan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan mempunyai kaitan dan interdependensi dengan pembangunan ekonomi dan pembangunan kebudayaan serta kemasyarakatan. Itu pulalah sebabnya, maka pembangunan politik tersebut kita kembangkan agardapat pula mendukung terjadinya pertumbuhan demokrasi ekonomi serta demokrasi kemasyarakatandan kebudayaan di Negara kita. Dlaam konteks yang demikian itulah kita perlu memahami arti penting dari stabilitas politik.
            Pengalaman politik di masa Orde Baru sampai saat sekarang ini menunjukkan kepada kita, betapa stabilitas politik merupakan kondisi yang telah memungkjinkan bangsa kita mampu menumbuhkembangkan pembangunan di berbagai bidang. Ditinjau dari pandangan politik, masa Orde Baru merupakan sejarah stabilitas yang paling mengesankan di dalam sejarah Indonesia modern. Karena itu pula, Orde Baru mampu mengukuhkan keberadaannya sebagai Orde Pembangunan.
Dari  perjalanan sejarah tersebut, kita dapat menarik hikmah yang kiranya mempunyai relevansi pula terhadap pembanguna di masa depan, yakni betapa stabilitas politik itu  mempunyai arti yang mendasar. Sudah pasti stabilitas tersebut adalah stabilitas yang dinamis dan kreatif, sehingga akan dapat menjamin kelancaran pembangunan di bidang-bidang kesejahteraan, kemasyarakatan dan kebudayaan. Stabilitas bukanlah sebuah kondisi yang ketika sudah selesai lalu dapat ditinggalkan, tetapi sebaliknya, stabilitas adlaah adalah sebuah kondisi yang dibutuhkan keberadaannya secara terus-menerus. Kehidupan bangsa dan Negara  yang penuh dengan gejolak dan instabilitas politik, pasti tidak akan mungkin melangsungkan pembangunan yang menyeluruh dan yang sifatnya semakin kompleks. Hubungan yang seperti itu terjadi, karena demokrasi politik tumbuh berjalinan dengan demokrasi ekonomi dan demokrasi social kebudayaan. Stabilitas politik dengan demikian merupakan bagian dari aktualisasi wawasan kebangsaan kita yang bersifat dinamis dan integralistik.

Menyusun Perkiraan dan Telaah Strategis
            Orang-orang Prancis mempunyai suatu adagium yang sering dikutip dalam buku-buku ilmu pemerintahan, yaitu:  bahwa seni memerintah terletak  pada kemampuan kita memperkirakan kecenderungan perkembangan masa depan. Dengan mengadakan perkiraan-perkiraan tersebut akan dapat digariskan kebijakan pemerintah yang akan dianut dalam berbagai bidang. Dengan cara demikian, masalah-masalah yang akan muncul telah dapat dikenal lebih awal, sehingga cukup waktu untuk menyiapkan diri untuk menyiapkannya.
Kemapuanmengaakan perkiraan an telaah yang bersifat strategis ini amatlah vital dlam rangka menegakkan stabilitas politik yang mantap dan dinamis. Kemampuan itu sendiri bersandar pada ketajaman analisa terhadap seluruh kompleksitas gejala yang telah terjadi serta terhadap proyeksinya secara rasional ke masa dating. Jika kita perhatikan, cara berfikir seperti ini merupakan kegiatan utama dari komando tertinggi militer serta “top management” dari dunia bisnis dimanapun juga. Di Negara kita  penyusunan perkiraan dan telaah strategis ini dilakukan oleh Dewan Pertahanan Keamanan Nasional, dengan masukan dari departemen-departemen serta instansi pemerintahan lainnya. Dalam menghadapi penusunan bahan-bahan GBHN 1988, misalnya, Wanhankamnas menyusun apa yang disebut sebagai  Perkiraan Strategi Nasional serta Telaah Strategi Nasional, disingkat Kirstranas dan  Telstranas, dengan cakupan sepuluh tahun ke depan, menurut system rencana bergulir (rolling plan) yang diperbarui setiap tahunnya. Yang pasti, penyusunan dokumen demikian memerlukan kemahiran professional serta wawasan luas.
Dunia ilmu pengetahuan mempunyai padanan dengan kegiatan penyusunan dokumen-dokumen strategis itu, yaitu dalam futurology, yang juga ada di Indonesia. Sayangnya, ilmu ini agak kurang berkembang, disebabkan ilmuwan-ilmuwan kita lebih menitikberatkan kegiatannya sebagai pengamat gejala-gejala empiric, yang sudah tentu akan akan berhenti dengan apa yang terjadi.
Walaupun hal itu memang lazim, namun jelas belum memadai dalam rangka tugas besar nasional kita di bidang pembangunan politik, dimana perlu juga wawasan, visi serta kegiatan pembinaan. Denga kata lain, selain ilmu pengetahuan murni, kita harus mengembangkan ilmu pengetahuan terapan, termasuk dalam ilmu politik yang sudah ditekuni.
Langkah-langkah awal kea rah ini sudah dimulai, antara lain dengan berdirinya berbagai lembaga kajian strategis yang dikelola secara professional, termasuk bekerja sama dengan lembaga kajian sejenis di luar negeri.

Ikut Membantu Pembinaan Organisasi Kekuatan Sosial Politik dan Organisasi Kemasyarakatan
            Saya berpendapat bahwa di masa depan, dengan semakin matangnya organisasi kekuatan social politik dan organisasi kemasyarakatan dalam menunaikan peranannya masing-masing, peran Pembina ini akan beralih menjadi peran sebagai mitra kerja yang sederajat. Memang itulah citra yang hendak kita kembangkan dalam Negara kekeluargaan yang bersifat integralistik ini.
            Untuk itu, sebaiknya organisasikekuatan social politik serta organisasi kemasyarakatan ini menyelenggarakan pendidikan berjenjangnya sendiri untuk menyiapkan  lapisan kepemimpinannya. Yang kita inginkan adalah kemandiriannya, yang sudah pasti merupakan sutu proses yang otonom. Jika itu terlaksana, jajaran birokrasi dapat menempatkan diri di “pinggir”, dengan member peluang yang lebih besar kepada prakarsa serta kreativitas organisasi kekuatan social politik serta organisasi kemasyarakatan itu sendiri dalam menunaikanperan konstitusinalnya masing-masing.
            Demikianlah beberapa pengamatan saya tentang carut-marut dinamika politik Indonesia dengan beberapa solusinya, agar politik praktis di Negara ini tidak salah dalam penerapannya di masa yang akan datang. Semoga sumbangan fikiran ini ada manfaatnya dalam usaha kita bersama untuk memikul tanggung jawab yang semakin besar dalam melanjutkan dan meningkatkan pembangunan bangsa baik untuk masa sekarang, apalagi untuk masa depan. Amin.



0 komentar:

Posting Komentar

Selasa, 21 Mei 2013

Esai

Diposting oleh Unknown di 21.56


Esai
JANGAN BERANI MENUNTUN ORANG BUTA,
SEMENTARA KAU PUN BUTA!
(Telaah atas dinamika politik praktis di bawah golongan yang tidak memahami arti politik dengan sebenarnya)


Bila kita melihat dengan jujur kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dewasa ini, kita segera melihat bahwa kita sedang menghadapi krisis nasional yang bersifat multidimensional. Tidak berlebihan bila kita katakan, dewasa ini kita menghadapi krisis sosial, akhlak, politik, disiplin nasional, moneter, ekonomi bahkan krisis kemanusiaan.
Perjalanan Orde Baru selama tiga puluh tahun harus kita akui telah menampilkan keberhasilan pembangunan dalam berbagai hal, namun justru menghasilkan penyakit-penyakit sosial, ekonomi bahkan penyakit politik. Namun dalam tulisan kali ini, kita akan lebih mempertajam pada pembahasan politik, baik dari segi permasalahannya, bahkan berbagai solusinya.

Indonesia dan Berbagai Permasalahan Politiknya
Di negeri manakah di dunia ini partai politiknya paling lembut, bersih dan tanpa bopeng-bopeng? Rasanya memang tidak ada satupun seperti itu di manapun  di dunia ini. Negara Singapore, Hongkong, Amerika Serikat (AS) dan Inggris sekalipun yang diyakini “kiblat” dunia panggung politik yang patut ditiru tak akan dapat memberi jaminan partai politknya bersih dan adem- ayem bak dewa-dewi di alam nirwana. Akan tetapi patut dihargai dan belajar cara-cara mereka menjalankan politik dan berpolitik pasti selangkah lebih maju dan lebih baik.
Bagaimana dengan fenomena dunia politik di tanah air? Rasanya tak ada lagi pilihan kata-kata yang paling tepat untuk mendiskripsikan betapa “gerah” nya sebagian rakyat ini melihat manuver-manuver penerapan  politik dalam sistem politik yang centang prenang di tanah air?
Tampaknya ada dua sebab utama yang perlu kita cermati: pertama, sistem politik yang kita bangun ternyata tidak lagi tenable dan sustainable karena tidak menjamin adanya akontabilitas dan kreativitas; kedua, struktur mental yang korup dan predatorik ternyata tumbuh semakin parah dari waktu ke waktu selama kurun waktu tiga puluh terakhir ini. Kita rasakan sekarang, bahwa selama ini banyak di antara para penyelenggara Negara yang jauh dari resep kepemimpinan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAWm yaitu shidiq (kejujuran), amanah (akontabilitas), tabligh (penyampaian informasi dengan benar) dan fathanah (cerdas).
Bila banyak di antara para penyelenggara Negara yang sudah tidak jujur, belaku khianat pada amanat raskyat, tidak bertanggung jawab, melakukan distorsi dan disinformasi, serta bebal dan kurang tangkas berpikir, maka yang kita saksikan adalah ketidak jujuran sosial, politik dan ekonomi.
Sekalipun demikian, kita tidak boleh sedikit pun menjadi panik, patah semangat, apalagi berputus asa dalam menghadapi krisis nasional yang bersifat multidimensional itu, khususnya pada masalah politik. Kita tahu bahwa istilah krisis mungkin dapat dianggap terlalu tajam, tetapi istilah ini saya gunakan untuk menyentak kesadaran kita semua bahwa  masalah politik yang kita hadapi saat ini cukup eksplosif.
Masih belum cukupkah berbagai permasalahan politik yang kita alami sekarang  ini untuk meyakinkan kita bahwa sudah sangat tepat waktunya buat bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan segar dan dan prospektif? Ataukah kita masih menunggu rentetan musibah yang lebih besar lagi untuk meyakinkan kita bahwa status quo sekarang ini sudah tidak perlu diawetkan lagi? Tidak bisakah kita menangkap keresahan yang maki meluas dunia kampus dan masyarakat yang lebih luas, terutama rakyat bawah yang merupakan bagian terbesar rakyat kita?
Alangkah baiknya kalau kita tidak buta atau membutakan mata pada keadaan sebenarnya. Hemat saya, mereka yang buta atau membutakan mata hatinya harus memikul tanggung jawab paling besar bila bangsa Indonesia terpaksa terperosok ke dalam masalah politik  yang lebih dahsyat lagi?
Kita harus menghindarkan diri dari keadaan yang lebih parah, dimana the blind leading the blind, the deaf guiding the deaf, yakni orang buta menuntun orang buta, da orang pekak mengarahkan orang tuli. Bila sampai orang yang buta dan tuli hati nurani saling menuntun dan membimbing dengan orang yang juga buta dan tuli hati nurani, sementara orang yang masih melek dan bengeng (berpendengaran jernih) berdiam diri seribu bahasa, maka dapat diperkirakan bangsa besar ini makin terpuruk ke jurang musibah yang makin parah.

Pembangunan Politik  
Pembangunan politik yang dikaitkan dengan hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa depan memang patut  mendapatkan perhatian kita, oleh karena masyarakat itu sebagaimana yang kita ketahui terus menerus mengalami perubahan. Apalagi pada masa akhir-akhir ini perubahan berlangsung sedemikian cepatnya. Mengingat hal itu, memang terdapat kemungkinan bahwa bahwa kita akan menghadapi kondisi kemasyarakatan dengan berbagai tantangan dan permasalahannya,yang berbeda dengan kondisi kemasyarakatan pada masa kini. Antara lain, masyarakat kita di masa depan itu pastilah merupakan masyarakat yang semakin maju, sebagai hasil kumulatif dari pelbagai factor perubahan social, baik yang bersifat global, regional maupun  nasional. Pembangunan politik yang kita lakukan pada masa sekarang dan yang akan terus berlanjut di masa depan, dengan demikian, wajib mengantisipasikan berbagai perkembangan yang mungkin terjadi di masa depan itu.
Masa depan yang tidak teerlalu jauh di hadapan kita adalah saat tinggal landas menuju masyarakat adil dan makmur. Apabila tinggal landas berhasil kita lakukan, itu berarti sudah terselesaikannya tahappendahuluan yang sangat penting bagi proses modernisasi bangsa kita.
Pembangunan politik merupakan salah satu aspek pembangunan nasional yang biasa dipandang sebagai wahana bagi aspek pembangunan laiinnya. Secaraempiris, proses modernisasi itu semenjak berlangsung di Negara Barat beberapa abad yang lalu, hanyalah dapat dilaksanakan melalui wadah system politik yang berbentuk Negara-negara nasional. Untuk Negara yang sedang berkembang,pembangunan politik bertujuan mempertinggi kapabilitas dari wadah tersebut, atau mempertinggikemampuan sistem politiknya.
Dalam hubungannya dengan proses modernisasi, kpaabilitas sistem politik itu terutama ditentukan oleh efektivitasnya dalam menciptakan kondisi yang dapat memotivasi para warga, menyajikan nilai-nilai yang dapat menyentuh harapan serta keinginan mereka untuk maju dan berkembang. Sebab sekedar kehendak dari sekelompok masyarakat, tidaklah mungkin dapat membawa pada proses modernisasi dalam arti katayang sebenarnya. Modernisasi hanya dapat terlaksana jika kehendak tersebut dapat meluas hingga mencapai tingkat aspirasi bangsa.
Dalam penglihatan saya, setidaknya das beberapa hal yang dapat dilakukan dalam prosses pembnagunan politik:
Menciptakan Stabilitas Politik yang Dinamis
            Proses pembangunan dan modernisasi itu dapat diselenggarakan dengan melalui pelbagai jenis susunan kehidupan politik, yang dilandaskan pada ideology yang berbeda-beda, seperti Borjuisme (Negara-negara Barat), Maoisme (Cina) atau Sinkretisme (Italia, Argentina).
            Kita telah berketetapan untuk melaksanakn proses tersebut dengan melalui susunan kehidupan politik yang dilandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan nilai-nilai Pancasila itu, maka seluruh pembangunan nasional, jadi termasuk di dalamnya proses pembangunan politik, merupakan proses petumbuhan demokrasi, bahkan juga demokrasi ekonomi dan social budaya.hal ini sesuai pula untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang merupakan tujuan dari pembangunan nasional kita.
            Pembnangunan politik nasional yang saya kemukakan di atas adalah suatu perjalanan ntuk membangun perwujudan demokrasi sebagaimana yang kita cita-citakan. Dengan demikian, pembangunan politik tidaklah merupakan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan mempunyai kaitan dan interdependensi dengan pembangunan ekonomi dan pembangunan kebudayaan serta kemasyarakatan. Itu pulalah sebabnya, maka pembangunan politik tersebut kita kembangkan agardapat pula mendukung terjadinya pertumbuhan demokrasi ekonomi serta demokrasi kemasyarakatandan kebudayaan di Negara kita. Dlaam konteks yang demikian itulah kita perlu memahami arti penting dari stabilitas politik.
            Pengalaman politik di masa Orde Baru sampai saat sekarang ini menunjukkan kepada kita, betapa stabilitas politik merupakan kondisi yang telah memungkjinkan bangsa kita mampu menumbuhkembangkan pembangunan di berbagai bidang. Ditinjau dari pandangan politik, masa Orde Baru merupakan sejarah stabilitas yang paling mengesankan di dalam sejarah Indonesia modern. Karena itu pula, Orde Baru mampu mengukuhkan keberadaannya sebagai Orde Pembangunan.
Dari  perjalanan sejarah tersebut, kita dapat menarik hikmah yang kiranya mempunyai relevansi pula terhadap pembanguna di masa depan, yakni betapa stabilitas politik itu  mempunyai arti yang mendasar. Sudah pasti stabilitas tersebut adalah stabilitas yang dinamis dan kreatif, sehingga akan dapat menjamin kelancaran pembangunan di bidang-bidang kesejahteraan, kemasyarakatan dan kebudayaan. Stabilitas bukanlah sebuah kondisi yang ketika sudah selesai lalu dapat ditinggalkan, tetapi sebaliknya, stabilitas adlaah adalah sebuah kondisi yang dibutuhkan keberadaannya secara terus-menerus. Kehidupan bangsa dan Negara  yang penuh dengan gejolak dan instabilitas politik, pasti tidak akan mungkin melangsungkan pembangunan yang menyeluruh dan yang sifatnya semakin kompleks. Hubungan yang seperti itu terjadi, karena demokrasi politik tumbuh berjalinan dengan demokrasi ekonomi dan demokrasi social kebudayaan. Stabilitas politik dengan demikian merupakan bagian dari aktualisasi wawasan kebangsaan kita yang bersifat dinamis dan integralistik.

Menyusun Perkiraan dan Telaah Strategis
            Orang-orang Prancis mempunyai suatu adagium yang sering dikutip dalam buku-buku ilmu pemerintahan, yaitu:  bahwa seni memerintah terletak  pada kemampuan kita memperkirakan kecenderungan perkembangan masa depan. Dengan mengadakan perkiraan-perkiraan tersebut akan dapat digariskan kebijakan pemerintah yang akan dianut dalam berbagai bidang. Dengan cara demikian, masalah-masalah yang akan muncul telah dapat dikenal lebih awal, sehingga cukup waktu untuk menyiapkan diri untuk menyiapkannya.
Kemapuanmengaakan perkiraan an telaah yang bersifat strategis ini amatlah vital dlam rangka menegakkan stabilitas politik yang mantap dan dinamis. Kemampuan itu sendiri bersandar pada ketajaman analisa terhadap seluruh kompleksitas gejala yang telah terjadi serta terhadap proyeksinya secara rasional ke masa dating. Jika kita perhatikan, cara berfikir seperti ini merupakan kegiatan utama dari komando tertinggi militer serta “top management” dari dunia bisnis dimanapun juga. Di Negara kita  penyusunan perkiraan dan telaah strategis ini dilakukan oleh Dewan Pertahanan Keamanan Nasional, dengan masukan dari departemen-departemen serta instansi pemerintahan lainnya. Dalam menghadapi penusunan bahan-bahan GBHN 1988, misalnya, Wanhankamnas menyusun apa yang disebut sebagai  Perkiraan Strategi Nasional serta Telaah Strategi Nasional, disingkat Kirstranas dan  Telstranas, dengan cakupan sepuluh tahun ke depan, menurut system rencana bergulir (rolling plan) yang diperbarui setiap tahunnya. Yang pasti, penyusunan dokumen demikian memerlukan kemahiran professional serta wawasan luas.
Dunia ilmu pengetahuan mempunyai padanan dengan kegiatan penyusunan dokumen-dokumen strategis itu, yaitu dalam futurology, yang juga ada di Indonesia. Sayangnya, ilmu ini agak kurang berkembang, disebabkan ilmuwan-ilmuwan kita lebih menitikberatkan kegiatannya sebagai pengamat gejala-gejala empiric, yang sudah tentu akan akan berhenti dengan apa yang terjadi.
Walaupun hal itu memang lazim, namun jelas belum memadai dalam rangka tugas besar nasional kita di bidang pembangunan politik, dimana perlu juga wawasan, visi serta kegiatan pembinaan. Denga kata lain, selain ilmu pengetahuan murni, kita harus mengembangkan ilmu pengetahuan terapan, termasuk dalam ilmu politik yang sudah ditekuni.
Langkah-langkah awal kea rah ini sudah dimulai, antara lain dengan berdirinya berbagai lembaga kajian strategis yang dikelola secara professional, termasuk bekerja sama dengan lembaga kajian sejenis di luar negeri.

Ikut Membantu Pembinaan Organisasi Kekuatan Sosial Politik dan Organisasi Kemasyarakatan
            Saya berpendapat bahwa di masa depan, dengan semakin matangnya organisasi kekuatan social politik dan organisasi kemasyarakatan dalam menunaikan peranannya masing-masing, peran Pembina ini akan beralih menjadi peran sebagai mitra kerja yang sederajat. Memang itulah citra yang hendak kita kembangkan dalam Negara kekeluargaan yang bersifat integralistik ini.
            Untuk itu, sebaiknya organisasikekuatan social politik serta organisasi kemasyarakatan ini menyelenggarakan pendidikan berjenjangnya sendiri untuk menyiapkan  lapisan kepemimpinannya. Yang kita inginkan adalah kemandiriannya, yang sudah pasti merupakan sutu proses yang otonom. Jika itu terlaksana, jajaran birokrasi dapat menempatkan diri di “pinggir”, dengan member peluang yang lebih besar kepada prakarsa serta kreativitas organisasi kekuatan social politik serta organisasi kemasyarakatan itu sendiri dalam menunaikanperan konstitusinalnya masing-masing.
            Demikianlah beberapa pengamatan saya tentang carut-marut dinamika politik Indonesia dengan beberapa solusinya, agar politik praktis di Negara ini tidak salah dalam penerapannya di masa yang akan datang. Semoga sumbangan fikiran ini ada manfaatnya dalam usaha kita bersama untuk memikul tanggung jawab yang semakin besar dalam melanjutkan dan meningkatkan pembangunan bangsa baik untuk masa sekarang, apalagi untuk masa depan. Amin.



0 komentar on "Esai"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang