Selasa, 25 Maret 2014

Kupanggil Kau Kakek :*

Mei 2030.
Kupanggil Kau Kakek



Ini bukan jenis tulisan roman. Melainkan hanya sebuah catatan usang perempuan penunggu petang. Anggap saja ini surat pemberitahuan yang malu kuucapkan.Bertahun-tahun aku mampu nakal tanpa pernah menyampaikan maksud dan tujuan. Hanya melalui senyuman, kupikir aku sudah rampung menyampaikan.

Tentang tulisan ini, hanya sejenis keinginan mengenalkanmu pada seisi kota yang tak pernah melahirkanmu. Ingin memberitahu bahwa kamu pernah berniat ada tapi kau urungkan karena satu dan lain hal. Kamu yang kumaksud adalah lelaki yang kukenal sebagai kakek-kakek. Berusia setengah abad dengan tubuh masih kekar. Kamu  tinggi kurus, bermuka tirus, tapi yakinku banyak disukai teman-teman SMA mu dulu. Nakalnya,  kamu cukup tampan, manis juga kurasa. Ah, kupanggil kau kakek.

 Sebenarnya ada yang paling ingin kuistimewakan kan dalam ribua kisahmu: Di Taman Bunga. Sore itu,

 Kamu tampak kebingungan. Mengitari tepi taman dengan hitungan puluhan. Entah apa yang kau cari atau siapa yang ingin kau temui. Saat itu aku masih duduk kaku di parkiran. Dengan bantuan sebuah motor butut, aku berhasil duduk nyaman memperhatikanmu. Sama sekali kau tak sadar aku mengikutimu. Untuk menyapamu lebih tepatnya aku malu. Sebab kamu baru kukenal puluhan hari lalu. Apalagi saat mendengar berita kegagalanmu mendapatkan sesuatu. Aku semakin tak punya bekal menenangkanmu dan memberimu tawaran lain untuk tenang-tenang saja. Dan kau masih berputar-putar tanpa tahu malu. Petugas keamanan taman berulangkali juga melirik tajam ke arahmu. Tapi dasar kau tak mau peduli, terus berputar tetap jadi pilihanmu.


Satu jam.


Dua jam.

Eits, tunggu. Ada yang lupa kusampaikan dalam tulisan ini dari awal. Sore itu, kau membawa begitu banyak kardus yang isinya entah apa. Sekitar 5 kardus yang kau jinjing dan kau seret begitu saja. Baju? Buku? Makanan? Entah.


Aku mulai berpikir keras. Kamu kenapa? Mau kemana? Mencari siapa? Kuputuskan untuk berbalik arah. Berhenti memperhatikanmu, melainkan memikirkanmu. Bukankah memikirkan bisa kulakukan tanpa harus ada tautan? Ya, kurasa begitu. Aku mulai duduk bersandar di bawah pohon yang kutak tau namanya. Mencari tentangmu dan apa yang membuatmu berkeliling tak jelas seperti itu. Berpikir. Berpikir.


Astaga, matahari rupanya sudah berpulang tanpa kusadar. Ini sudah malam? Lalu kenapa kau belum pulang?

Selanjutnya aku harus bagaimana? Masih menunggumu yang nyaris linglung? Atau pulang saja?

Kuputuskan memilih pilihan jawaban kedua. Karena saat itu aku mulai tenang. Ada satu jawaban yang kutemukan. Kamu sedang mencari 'KAMAR': tempatmu istirahat, bersembunyi dari segala penat, menyimpan segala apapun yang kau punya, dan apapun bisa kau lakukan di sebuah ruangan bernama kamar. Kurasa benar kau sedang mencarinya di taman itu.


Lalu pada yang membaca tulisan ini? Tolong beri aku jawaban atas sebuah pertanyaan: Adakah persedian Kamar di titik pusat Taman?

Sementara kupikir tak ada, karena di sana hanya menyajikan keindahan dan keharuman dari setiap bunga   di dalamnya. Masih untung ada kolam, tak mungkin kamar. Percayalah!

 Sebelum aku pulang dan berbalik arah, aku percaya angin bisa menyampaikan padamu di ujung sana: "Hei, kamu sedang dalam kesia-siaan pencarian. Tamanku tak menyediakan apa yang kau butuhkan. Jika hanya ingin mencari ketenangan yang barangkali sesaat, silakan datang. Bawa kembali 5 kardus beban yang memberatkanmu selama ini, jika tak ingin permukaannya rusak oleh panas dan hujan. Sebab Tamanku tak menyediakan atap. Tapi jangan salah paham, bukan aku yang sengaja tak menampungnya, kamu sendiri yang tetap ingin membawanya. Jelas itu di luar batas mampuku. Selamat tenang. Selamat mencari ketenangan. Yang barangkali menurutmu, di sini tak akan kamu temukan. Selamat ".

Kupanggil kau kakek. Kakek Kancil. Kakek Pablo :)

0 komentar:

Posting Komentar

Selasa, 25 Maret 2014

Kupanggil Kau Kakek :*

Diposting oleh Unknown di 18.06
Mei 2030.
Kupanggil Kau Kakek



Ini bukan jenis tulisan roman. Melainkan hanya sebuah catatan usang perempuan penunggu petang. Anggap saja ini surat pemberitahuan yang malu kuucapkan.Bertahun-tahun aku mampu nakal tanpa pernah menyampaikan maksud dan tujuan. Hanya melalui senyuman, kupikir aku sudah rampung menyampaikan.

Tentang tulisan ini, hanya sejenis keinginan mengenalkanmu pada seisi kota yang tak pernah melahirkanmu. Ingin memberitahu bahwa kamu pernah berniat ada tapi kau urungkan karena satu dan lain hal. Kamu yang kumaksud adalah lelaki yang kukenal sebagai kakek-kakek. Berusia setengah abad dengan tubuh masih kekar. Kamu  tinggi kurus, bermuka tirus, tapi yakinku banyak disukai teman-teman SMA mu dulu. Nakalnya,  kamu cukup tampan, manis juga kurasa. Ah, kupanggil kau kakek.

 Sebenarnya ada yang paling ingin kuistimewakan kan dalam ribua kisahmu: Di Taman Bunga. Sore itu,

 Kamu tampak kebingungan. Mengitari tepi taman dengan hitungan puluhan. Entah apa yang kau cari atau siapa yang ingin kau temui. Saat itu aku masih duduk kaku di parkiran. Dengan bantuan sebuah motor butut, aku berhasil duduk nyaman memperhatikanmu. Sama sekali kau tak sadar aku mengikutimu. Untuk menyapamu lebih tepatnya aku malu. Sebab kamu baru kukenal puluhan hari lalu. Apalagi saat mendengar berita kegagalanmu mendapatkan sesuatu. Aku semakin tak punya bekal menenangkanmu dan memberimu tawaran lain untuk tenang-tenang saja. Dan kau masih berputar-putar tanpa tahu malu. Petugas keamanan taman berulangkali juga melirik tajam ke arahmu. Tapi dasar kau tak mau peduli, terus berputar tetap jadi pilihanmu.


Satu jam.


Dua jam.

Eits, tunggu. Ada yang lupa kusampaikan dalam tulisan ini dari awal. Sore itu, kau membawa begitu banyak kardus yang isinya entah apa. Sekitar 5 kardus yang kau jinjing dan kau seret begitu saja. Baju? Buku? Makanan? Entah.


Aku mulai berpikir keras. Kamu kenapa? Mau kemana? Mencari siapa? Kuputuskan untuk berbalik arah. Berhenti memperhatikanmu, melainkan memikirkanmu. Bukankah memikirkan bisa kulakukan tanpa harus ada tautan? Ya, kurasa begitu. Aku mulai duduk bersandar di bawah pohon yang kutak tau namanya. Mencari tentangmu dan apa yang membuatmu berkeliling tak jelas seperti itu. Berpikir. Berpikir.


Astaga, matahari rupanya sudah berpulang tanpa kusadar. Ini sudah malam? Lalu kenapa kau belum pulang?

Selanjutnya aku harus bagaimana? Masih menunggumu yang nyaris linglung? Atau pulang saja?

Kuputuskan memilih pilihan jawaban kedua. Karena saat itu aku mulai tenang. Ada satu jawaban yang kutemukan. Kamu sedang mencari 'KAMAR': tempatmu istirahat, bersembunyi dari segala penat, menyimpan segala apapun yang kau punya, dan apapun bisa kau lakukan di sebuah ruangan bernama kamar. Kurasa benar kau sedang mencarinya di taman itu.


Lalu pada yang membaca tulisan ini? Tolong beri aku jawaban atas sebuah pertanyaan: Adakah persedian Kamar di titik pusat Taman?

Sementara kupikir tak ada, karena di sana hanya menyajikan keindahan dan keharuman dari setiap bunga   di dalamnya. Masih untung ada kolam, tak mungkin kamar. Percayalah!

 Sebelum aku pulang dan berbalik arah, aku percaya angin bisa menyampaikan padamu di ujung sana: "Hei, kamu sedang dalam kesia-siaan pencarian. Tamanku tak menyediakan apa yang kau butuhkan. Jika hanya ingin mencari ketenangan yang barangkali sesaat, silakan datang. Bawa kembali 5 kardus beban yang memberatkanmu selama ini, jika tak ingin permukaannya rusak oleh panas dan hujan. Sebab Tamanku tak menyediakan atap. Tapi jangan salah paham, bukan aku yang sengaja tak menampungnya, kamu sendiri yang tetap ingin membawanya. Jelas itu di luar batas mampuku. Selamat tenang. Selamat mencari ketenangan. Yang barangkali menurutmu, di sini tak akan kamu temukan. Selamat ".

Kupanggil kau kakek. Kakek Kancil. Kakek Pablo :)

0 komentar on "Kupanggil Kau Kakek :*"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang