Aku
ragu apakah Al sudah bangun atau belum, dari jauh pintu rumahnya masih
tertutup. Belum lagi aku harus melewati sekolah tua yang katanya angker.
Seolah langkah terbawa angin untuk terus lanjut kesana, membangunkan
atau menjemput janji kemaren sore bersamanya. Main Kepantai Jam 4 Pagi.
Jarak
yang bisa di bilang tak jauh dari pantai, membuat ombak terdengar jelas
dan membangunkan ku subuh ini. Teringat janji kemaren yang mengajaknya
‘Olahraga’ jam 4 ke pantai. Maklum kami anak desa yang gak ada taman
bermain disini.
Benar saja, Al dan Keluarganya belum
bangun. Aku tak berani mengetok pintu atau mengucap salam. Ku duduk di
depan pintu rumahnya yang tak berteras, melengkungkan lutut dan
menyandarkan kepala di atasnya. Hingga ku dengar suara pintu terbuka di
belakangku
Pelan ku bangunkan si Abangku, dan akhirnya
terbangun meski dengan sedikit geliat malas. Tapi semangatku tiap minggu
subuh untuk pergi kepantai menghapus kemalasannya.
Berdua
dengannya , kami susuri jalan gelap menuju pantai kebanggaan. Bagaimana
tidak bangga, ini adalah satu-satunya tempat paling menarik di desa
kami. Gelap, Masih gelapp sekali. Beberapa rumah yang kami lewati sudah
mengawali aktifitas seperti hari biasanya. Mencuci penggorengan dan
panci yang di di bawahnya hitam di penuhi arang.
Ah…
segar aroma pantai, desir anginnya memainkan ujung jilbab panjangku.
Ombak Besar gagal menakuti kami yang larut akan indahnya alam. Sandal
kami titipkan di pinggir pantai yang tak bertuan. Lanjut kami telusuri
butiran pasir demi pasir, hingga matahari datang menemani kami.
——————————
Al,
kapan kita bisa seperti itu lagi.Menikmati pantai sesubuh itu.
Menjadikan pantai seperti hanya milik kita. Ombak,Tolong Panggil dan
bangunkan kami lagi :)
*bisa saja hanya sekedar khayalan-

0 komentar:
Posting Komentar