“Untuk apa kau menulis?” katanya.
Selanjutnya hanyalah kata-kata;
“Menulis hanya membuang-buang waktumu. Tak berguna!”
“Bukan penulis namanya jika tak pernah menerbitkan buku!”
“Apa bangganya menjadi penulis?”
“Penulis hanyalah cita-cita usang
yang tak pantas disandingkan dengan pekerjaan lainnya. Kau tahu? Masih
banyak pekerjaan lain di dunia ini. Masih banyak yang harus kau pikirkan
selain tulisan-tulisan bodohmu itu! Buka matamu! Banyak pekerjaan lain
menantimu. Apa pentingnya menulis? Cukup kau berkata-kata dalam hati dan
pikiranmu saja. Tak perlu orang lain tahu. Cukup kau saja. Kau
mengerti?! Tak usah berlebihan. Bergaya pintar tapi memuakkan. Kau tak
sama dengan apa yang kau tulis!”
Aku diam dalam hening. Tapi aku lalu
membunuhnya. Membunuhnya dengan tulisanku, tentunya. Tanpa darah, tanpa
air mata. Tanpa ketakutan, tanpa rintihan. Aku hanya muak dengan caci
makinya. Itu saja. Jadi cukuplah aku sumpal mulutnya dengan kertas dan
pena.
0 komentar:
Posting Komentar