Telah kubilang berulangkali, mendengarkan suara hatiadalah hal
ternyaman untuk kulakukan akhir-akhir ini. Mengajak hati berdialogserasa
kita sukses menjadi perempuan paling bijak. Tak ada nada-nada
egoismenimpali, semua murni dan alami dalam diri. Terkadang aku justru
menyayangkan,kenapa tak dari dulu kesadaran ini kumiliki. Hingga mungkin
aku tak tau apa itusakit hati..
Tapi tunggu sayang,
aku ingin bernafas satu kalilagi. Mengingatkan otot-otot dan bagian
tubuhku yang lain bahwa aku telahbenar-benar berdiri di siang bolong.
Aku meyakinkan ini bukan mimpi. Inikeputusan yang kupilih sendiri. Tak
ada alasan menyesali. Lebih baik menikmati.Tak usah neko-neko. Nikmati.
Selebihnya menyadari bahwa harapan butuhdiseimbangkan dengan Doa. Aku
percaya.
Kali ini mungkin aku harus meneriakkan pada
bentuktubuh di depan datar cermin ini. Merasakan sakit adalah pilihan
salah satunya. Taklagi mendapatimu yang juga berdiri untuk kulihat dalam
cermin ini. Tak lagimenuakan lagu-lagu sampai pagi berembun. Tak lagi
terbahak dengan kita yangterkatung menahan kantuk. Semuanya tidak lagi,
eh sori, jarang barangkali.
Kau tau sikap seorang
sahabat yang baru kenalan? Takjauh beda dengan kita sekarang, malu-malu.
Kaku. Demi kerelaan orang tua dancita kau bilang. Aku manut saja.
Mengalir. Tapi sudahlah, kurasa tak mengapa. Asalkita tetap saling
percaya. Menangguhkan Doa sampai waktu yang tidak ditentukan.Aku dalah
perempuan baik dalam penungguan. Sepertinya. Toh saat merindumu, akubisa
dengan berani mengajak alam di sekitarku untuk menemaniku.
Kau
tenang sayang, aku tak akan lagi menghayaldengan cara mereka
kebanyakan. Kita punya cara sendiri untuk bahagia. Dan untukyang
kesekian, aku mencintaimu. Itu saja.. :)


0 komentar:
Posting Komentar