Nufa
La’la’
Jangan
ragukan kesanggupanku untuk bertahan. Sebab aku paham betul apa itu
pilihan.memilih senyum, sapa dan salammu tentu menjadi tuntutan bagiku. Lantas kenapa
harus kecewa saat menunggu?. Kalau tak paham tentang rindu, jangan coba-coba
menunggu. Pikiran akan kacauberkecamuk. Nafsu pun seakan membuana. Dan itu yang
dielu-elukan sebagai rindu. Padahal rindu akan mampu bertahan dengan posisi
bibir melengkung, serupa pelangi terbalik..
Ya,
kali ini aku memilih rindu, dan bertahan menunggu. Padahal bukan rangfkaian
bunga yang akan kuterima, bukan pula
cokelat Fry yang akan kudapatkan. Sebab menurutmu, kotamu jauh dari kotaku. Entah
yang sebenarnya.. yang jelas, aku merindumu yang tak pernah kutahu wajahmu. Tapi
sungguh itu sangat mengokohkanku. Dan cukup membuatku berdiri tegak tak
berarah. Itu karenamu..
Perempuan
mana yang berani mengkultuskan rindu pada sosok lelaki yang belum ia tahu. Mungkin
hanya aku yang berani bertaruh. Oh, aku lupa.. aku punya sahabat. Diapun sedang
bermain rindu bersama lelaki yang tak pernah dikenalnya. Tapi dia begitu yakin
akan pilihannya, akna mengantarnya menuju rumah bahagia nantinya. Layaknya sang
sahabat, akupun begitu. Sangat yakin dengan pilihan ini, yakin kau memiliki
cinta untukku.. semoga!
Entah
ini apa namanya, perjanjian tak bersejarah kukira. Dengan serempaknya, aku dan
sahabatku memilih rindu untuk kita persembahkan pada sosok yang tabu. Perempuan
lainnya mana mau bercinta lintas kota.. ah, semisal lelucon dalam
dongeng-dongeng terdahulu.. tapi ini duniaku, pun begitu ungkap sahabatku..
Seperti
apakah kamu, aku tak peduli. Terlalu bodoh bagiku menanyakan hal-hal serupa. Memangnya
hatiku mau kukorbankan untuk rupa? Tentu tidak,, Siapa sangka tokoh-tokoh
amoral negeri ini diperankan oleh pemain-pemain tak buruk rupa. Lalu mungkinkah
itu semua ditukar dengan hati? Sekali lagi tidak. Hati harus dibalas dengan
hati. Itulah sebabnya aku menjatuhkan pilihan di KAMU. Sebab hatiku tau hatimu,
pun sebaliknya.
Ta’aruf
hati itu sudah cukup bagiku. Sebagai awal membentuk senyum di persimpangan
jalan buntu. Dan pada akhirnya kisah ini tak akan konyol,meski hanya berawal
dari kenekatanku. Kisah ini akan indah pada waktunya. Di saat mereka anggap ini
cerita konyol atau bahkan berdecak kagum dengan bahagia yang kita sulam di
balik kekonyolan. Padahal ini bukan sekedar lelucon sayang.. Kata indah akan
ada di hadapan jodoh masing-masing, percayalah!
*jangan mau merugi dengan menilai rupa melalui
kedalaman hati..
0 komentar:
Posting Komentar