SEBASAH
HUJAN PERTAMA
Nufa
La’la’
Tak
peduli berapa lembar buku yang memuat tentangmu. Selalu ada yang ingin kuceritakan,
bahkan setiap sendi waktumu. Atau mungkin aku yang terlalu cerewet,
menarasikanmu dalam setiap tulisan-tulisanku. Yang entah punya nilai berapa jika
kuikutkan lomba mengarang. Karena saat menuliskanmu, aku melupakan semua teknis
menulis yang pernah kupelajari saat karantina kepenulisan semasa SMA dulu. Yang
penting happy fun dengan pena dan kertasku, tentunya itu tentangmu.
Yang kutulispun sangat sederhana. Sesederhana tulisan
bocah SD yang meloncat kegirangan saat mendapatkan hadiah dari guru
Matematikanya. Lalu dia akan menulisakan perasaan “hore”nya di cover belakang
buku Matematikanya.
“hore, hari ini aku mendapatkan cokelat dari Bu Guru
karena aku berhasil memecahkan soal yang ia berikan tadi..”, ucapnya girang.
Yah, sesederhana itu tulisanku tentangmu, sekedar
menarisakan rasa “asyik”ku karena Tuhan pertemukanku denganmu. Sederhana bukan?
Tapi entah, ketika membacanya, aku baru menyadari, bahwa perasaanku tak
sesederhana tulisanku. Bahwa perasaanku benar-benar memilihmu, tak peduli
apapun kamu.
Sekali lagi, ini tentang kamu. Seseorang yang kukenal
hanya berawal dari rentetan-rentetan kalimat panjang di setiap mimpiku. Kau benar-benar
berawal dari mimpi, mimpi menjadi seorang Putri Rapunzel yang begitu diharapkan
oleh si Pangeran berkuda putih.. sebuah mimpi saat suatu malam kuterlelap dalam
kantuk. Sebab seharian aku kelelahan diburu mantanku, mantan pacar SMPku dulu. Bias
dibayangkan bagaimana dulu aku bermain rindu dengannya, semuanya serba
main-main. Tapi tiba-tiba dia muncul di angka 18-ku, aneh bukan? Mengajakku kembali,
padahal “dia sudah tak sendiri” berikut kata teman karibnya.
Ah, mungkinkah ia mau main-main denganku. Meremehkanku
dan anggap aku perempuan lemah yang tak mampu berdiri tanpanya.. ah, sungguh
kurang ajar. Hari itu kulepaskan penatku
di bawah hujan, karena aku benci hujan. Aku luapkan amarahku pada setiap
rintiknya. Hingga malam tiba, aku tak merasakan apa-apa. Dan itu malam pertama
aku berkisah tentangmu..
Mimpi itu:
Aku
berada di sebuah lorong tua dengan bangunan-bangunan kuno di kiri-kanannya. Sembari
penuh tulisan dan goresan di setiap dindingnya. Kalimatnya pun aneh bagiku, tak
hanya kalimat pendek, serupa paragraflah isinya,, mungkin ini bekas kota
seorang penulis dari kalangan rakyat jelata. Sehingga untuk sebuah pen dan kertaspun
ia tak mampu. Mungkin..
Ada sebuah tulisan yang cukup menarik perhatianku,
kalimatnya begini:
“Temanku bilang:
Kita harus menunggu 6 bulan lamanya, demi
tetesan gerimis sore ini yang tak seberapa. Aku tak begitu pedulikan
suaranya,karena sore ini terlalu indah untuk kuselingkuhi dengannya. Bagiku,
sore esok atau lusa aku bias memintanya mengulang kembali perkataannya barusan.
Yah, kali ini aku lebih memilih gerimis pertama setelah lama mencumbu gersang
yang sejajar kegersanganku..dan kau, sekarang 6 bulanmu telah berakhir..
percaya!”
Begitulah kalimat yang menyita perhatianku, apalagi
kalimat terakhir, siapa yang dimaksud “kau”
dalam tulisan itu? Mungkinkah aku? Tapi manamungkin? Ah, sudahlah, aku tak
mengerti. Kuteruskan menyusuri koridor di sepanjang jalanan tua itu sambil
menerka-nerka apa maksud dari tulisan seorang penulis yang kukira bukan penulis biasa, aku menemukan ruh
di dalamnya. Tiba-tiba, seperti ada sekelebat bayangan sosok berkuda di belakangku,,
spontan aku meloncat girang sembari bilang “hore………………..” berkali-kali kuucapkan kata itu, hingga aku merasakan
tubuhku dingin, seperti di bawah hujan, tapi mala mini langit tak berawan,
pikirku.. kontan kubuka mata, astaga, trnyata ayah mengguyurku dengan seember
air karena aku tak mau bangun sedari tadi, menurtnya. Ah ayah, kau tak selembut
Ibu saat membangunkanku..
Kusempatkan melihat jam di layar hapeku. Astaga, sudah
jam 08.00 pagi. Kuptuskan untuk mandi, Eits,
tunggu, ada satu pesan masuk. Tak peduli dengan mata yang masih silau dengan
cahaya LCDnya, kubuka pesan itu. Dari Rie.. “Bagaimana jika aku suka?” uh,,
kukucek-kucek mataku. Menatap layar kembali, berharap hanya mataku yang barusan
ngawur. Kulihat sekali lagi, Tuhan, kalimat itu benar-benar seperti yang
kulihat pertama kali, tak ada yang berubah. Lalu apa maksudnya? Rie? Lelaki pemilik
suara baritone yang kukenal sebulan yang lalu. Lelaki yang merelakan dirinya
kupanggil abang, karena dia tahu aku terlahir yang tertua. Lantas apamaksudnya
dengan smsnya barusan? Rie suka siapa?
Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan menekan
tombol “replay” dan kutulis sebuah balasan untuknya, sebuah kalimat tanya “Abang
suka siapa?”. Aku berniat untuk tak menunggu balasan darinya, ku letakkan
hapeku di atas bantal tidur, namun belum beranjak mataku dari layar hape, satu
pesan baru muncul. “Abang suka kamu sayang..”. ah, tidak mungkin. Selama ini aku biarkan diriku
bermanja-manja di depannya, tak mungkin tiba-tiba dia suka.. Ah Rie, secepat
itu kau tawarkan permainanmu?
Tapi sudahlah, lupakan sejarah terbentuknya kisah ini. Yang
pasti, aku benar-benar bersamamu Rie. Kini aku tahu, maksud dari tulisan di
mimpiki malam itu. Kemarau harus menunggu 6 bulan lamanya untuk setetes gerimis
yang tak seberapa. Jadi butuh waktu lama dalam menunggu. Akupun menyadari,
cukup lama aku sendiri. Dan tak percaya dengan siapapun yang menghampiri. Baru kali
ini, saat aku melepas seragam putih abu-abuku, keinginan bermain rindu pun kumiliki.
Dan kali ini benar-benar punya ruh. Entah mengapa..
Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan aku berbisik: “Rie,
kau tetes hujan pertama dalam penantian panjangku yang kemarau..”.
*** ***
Dan
ini tulisan tentagmu, yang kutulis sepenuh hati, penuh emosi, rindu, saying dan
rasa apapun itu. Aku selalu berkecamuk tiap kali menceritakanmu pada setiap
diary-diaryku. Tapi tahukah? Aku tak sesederhana tulisan ini memandangmu. Aku tak
sejelek ini memahamimu. Bagiku, kau tak mudah disederhanakan. Meski kutahu
bahagia itu sederhana, cukup tersenyum memandangmu saat kau pun tersenyum. Sungguh
indah kukira, tapi kapan? Ah… lupakan!
The
End
0 komentar:
Posting Komentar