Minggu, 19 Mei 2013

Catatan Tentangmu



SEBASAH HUJAN PERTAMA
Nufa La’la’



Tak peduli berapa lembar buku yang memuat tentangmu. Selalu ada yang ingin kuceritakan, bahkan setiap sendi waktumu. Atau mungkin aku yang terlalu cerewet, menarasikanmu dalam setiap tulisan-tulisanku. Yang entah punya nilai berapa jika kuikutkan lomba mengarang. Karena saat menuliskanmu, aku melupakan semua teknis menulis yang pernah kupelajari saat karantina kepenulisan semasa SMA dulu. Yang penting  happy fun dengan pena dan kertasku, tentunya itu tentangmu.
            Yang kutulispun sangat sederhana. Sesederhana tulisan bocah SD yang meloncat kegirangan saat mendapatkan hadiah dari guru Matematikanya. Lalu dia akan menulisakan perasaan “hore”nya di cover belakang buku Matematikanya.
            “hore, hari ini aku mendapatkan cokelat dari Bu Guru karena aku berhasil memecahkan soal yang ia berikan tadi..”, ucapnya girang.
            Yah, sesederhana itu tulisanku tentangmu, sekedar menarisakan rasa “asyik”ku karena Tuhan pertemukanku denganmu. Sederhana bukan? Tapi entah, ketika membacanya, aku baru menyadari, bahwa perasaanku tak sesederhana tulisanku. Bahwa perasaanku benar-benar memilihmu, tak peduli apapun kamu.
            Sekali lagi, ini tentang kamu. Seseorang yang kukenal hanya berawal dari rentetan-rentetan kalimat panjang di setiap mimpiku. Kau benar-benar berawal dari mimpi, mimpi menjadi seorang Putri Rapunzel yang begitu diharapkan oleh si Pangeran berkuda putih.. sebuah mimpi saat suatu malam kuterlelap dalam kantuk. Sebab seharian aku kelelahan diburu mantanku, mantan pacar SMPku dulu. Bias dibayangkan bagaimana dulu aku bermain rindu dengannya, semuanya serba main-main. Tapi tiba-tiba dia muncul di angka 18-ku, aneh bukan? Mengajakku kembali, padahal “dia sudah tak sendiri” berikut kata teman karibnya.
            Ah, mungkinkah ia mau main-main denganku. Meremehkanku dan anggap aku perempuan lemah yang tak mampu berdiri tanpanya.. ah, sungguh kurang ajar.  Hari itu kulepaskan penatku di bawah hujan, karena aku benci hujan. Aku luapkan amarahku pada setiap rintiknya. Hingga malam tiba, aku tak merasakan apa-apa. Dan itu malam pertama aku berkisah tentangmu..
            Mimpi itu:
            Aku berada di sebuah lorong tua dengan bangunan-bangunan kuno di kiri-kanannya. Sembari penuh tulisan dan goresan di setiap dindingnya. Kalimatnya pun aneh bagiku, tak hanya kalimat pendek, serupa paragraflah isinya,, mungkin ini bekas kota seorang penulis dari kalangan rakyat jelata. Sehingga untuk sebuah pen dan kertaspun ia tak mampu. Mungkin..
            Ada sebuah tulisan yang cukup menarik perhatianku, kalimatnya begini:
            Temanku bilang: Kita harus menunggu 6 bulan lamanya, demi tetesan gerimis sore ini yang tak seberapa. Aku tak begitu pedulikan suaranya,karena sore ini terlalu indah untuk kuselingkuhi dengannya. Bagiku, sore esok atau lusa aku bias memintanya mengulang kembali perkataannya barusan. Yah, kali ini aku lebih memilih gerimis pertama setelah lama mencumbu gersang yang sejajar kegersanganku..dan kau, sekarang 6 bulanmu telah berakhir.. percaya!”
            Begitulah kalimat yang menyita perhatianku, apalagi kalimat terakhir, siapa yang  dimaksud “kau” dalam tulisan itu? Mungkinkah aku? Tapi manamungkin? Ah, sudahlah, aku tak mengerti. Kuteruskan menyusuri koridor di sepanjang jalanan tua itu sambil menerka-nerka apa maksud dari tulisan seorang penulis yang  kukira bukan penulis biasa, aku menemukan ruh di dalamnya. Tiba-tiba, seperti ada sekelebat bayangan sosok berkuda di belakangku,, spontan aku meloncat girang sembari bilang “hore………………..” berkali-kali  kuucapkan kata itu, hingga aku merasakan tubuhku dingin, seperti di bawah hujan, tapi mala mini langit tak berawan, pikirku.. kontan kubuka mata, astaga, trnyata ayah mengguyurku dengan seember air karena aku tak mau bangun sedari tadi, menurtnya. Ah ayah, kau tak selembut Ibu saat membangunkanku..
            Kusempatkan melihat jam di layar hapeku. Astaga, sudah jam 08.00 pagi.  Kuptuskan untuk mandi, Eits, tunggu, ada satu pesan masuk. Tak peduli dengan mata yang masih silau dengan cahaya LCDnya, kubuka pesan itu. Dari Rie.. “Bagaimana jika aku suka?” uh,, kukucek-kucek mataku. Menatap layar kembali, berharap hanya mataku yang barusan ngawur. Kulihat sekali lagi, Tuhan, kalimat itu benar-benar seperti yang kulihat pertama kali, tak ada yang berubah. Lalu apa maksudnya? Rie? Lelaki pemilik suara baritone yang kukenal sebulan yang lalu. Lelaki yang merelakan dirinya kupanggil abang, karena dia tahu aku terlahir yang tertua. Lantas apamaksudnya dengan smsnya barusan? Rie suka siapa?
            Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan menekan tombol “replay” dan kutulis sebuah balasan untuknya, sebuah kalimat tanya “Abang suka siapa?”. Aku berniat untuk tak menunggu balasan darinya, ku letakkan hapeku di atas bantal tidur, namun belum beranjak mataku dari layar hape, satu pesan baru muncul. “Abang suka kamu sayang..”. ah, tidak  mungkin. Selama ini aku biarkan diriku bermanja-manja di depannya, tak mungkin tiba-tiba dia suka.. Ah Rie, secepat itu kau tawarkan permainanmu?
            Tapi sudahlah, lupakan sejarah terbentuknya kisah ini. Yang pasti, aku benar-benar bersamamu Rie. Kini aku tahu, maksud dari tulisan di mimpiki malam itu. Kemarau harus menunggu 6 bulan lamanya untuk setetes gerimis yang tak seberapa. Jadi butuh waktu lama dalam menunggu. Akupun menyadari, cukup lama aku sendiri. Dan tak percaya dengan siapapun yang menghampiri. Baru kali ini, saat aku melepas seragam putih abu-abuku, keinginan bermain rindu pun kumiliki. Dan kali ini benar-benar punya ruh. Entah mengapa..
            Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan aku berbisik: “Rie, kau tetes hujan pertama dalam penantian panjangku yang kemarau..”.
***      ***
Dan ini tulisan tentagmu, yang kutulis sepenuh hati, penuh emosi, rindu, saying dan rasa apapun itu. Aku selalu berkecamuk tiap kali menceritakanmu pada setiap diary-diaryku. Tapi tahukah? Aku tak sesederhana tulisan ini memandangmu. Aku tak sejelek ini memahamimu. Bagiku, kau tak mudah disederhanakan. Meski kutahu bahagia itu sederhana, cukup tersenyum memandangmu saat kau pun tersenyum. Sungguh indah kukira, tapi kapan? Ah… lupakan!

The End

0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 19 Mei 2013

Catatan Tentangmu

Diposting oleh Unknown di 23.54


SEBASAH HUJAN PERTAMA
Nufa La’la’



Tak peduli berapa lembar buku yang memuat tentangmu. Selalu ada yang ingin kuceritakan, bahkan setiap sendi waktumu. Atau mungkin aku yang terlalu cerewet, menarasikanmu dalam setiap tulisan-tulisanku. Yang entah punya nilai berapa jika kuikutkan lomba mengarang. Karena saat menuliskanmu, aku melupakan semua teknis menulis yang pernah kupelajari saat karantina kepenulisan semasa SMA dulu. Yang penting  happy fun dengan pena dan kertasku, tentunya itu tentangmu.
            Yang kutulispun sangat sederhana. Sesederhana tulisan bocah SD yang meloncat kegirangan saat mendapatkan hadiah dari guru Matematikanya. Lalu dia akan menulisakan perasaan “hore”nya di cover belakang buku Matematikanya.
            “hore, hari ini aku mendapatkan cokelat dari Bu Guru karena aku berhasil memecahkan soal yang ia berikan tadi..”, ucapnya girang.
            Yah, sesederhana itu tulisanku tentangmu, sekedar menarisakan rasa “asyik”ku karena Tuhan pertemukanku denganmu. Sederhana bukan? Tapi entah, ketika membacanya, aku baru menyadari, bahwa perasaanku tak sesederhana tulisanku. Bahwa perasaanku benar-benar memilihmu, tak peduli apapun kamu.
            Sekali lagi, ini tentang kamu. Seseorang yang kukenal hanya berawal dari rentetan-rentetan kalimat panjang di setiap mimpiku. Kau benar-benar berawal dari mimpi, mimpi menjadi seorang Putri Rapunzel yang begitu diharapkan oleh si Pangeran berkuda putih.. sebuah mimpi saat suatu malam kuterlelap dalam kantuk. Sebab seharian aku kelelahan diburu mantanku, mantan pacar SMPku dulu. Bias dibayangkan bagaimana dulu aku bermain rindu dengannya, semuanya serba main-main. Tapi tiba-tiba dia muncul di angka 18-ku, aneh bukan? Mengajakku kembali, padahal “dia sudah tak sendiri” berikut kata teman karibnya.
            Ah, mungkinkah ia mau main-main denganku. Meremehkanku dan anggap aku perempuan lemah yang tak mampu berdiri tanpanya.. ah, sungguh kurang ajar.  Hari itu kulepaskan penatku di bawah hujan, karena aku benci hujan. Aku luapkan amarahku pada setiap rintiknya. Hingga malam tiba, aku tak merasakan apa-apa. Dan itu malam pertama aku berkisah tentangmu..
            Mimpi itu:
            Aku berada di sebuah lorong tua dengan bangunan-bangunan kuno di kiri-kanannya. Sembari penuh tulisan dan goresan di setiap dindingnya. Kalimatnya pun aneh bagiku, tak hanya kalimat pendek, serupa paragraflah isinya,, mungkin ini bekas kota seorang penulis dari kalangan rakyat jelata. Sehingga untuk sebuah pen dan kertaspun ia tak mampu. Mungkin..
            Ada sebuah tulisan yang cukup menarik perhatianku, kalimatnya begini:
            Temanku bilang: Kita harus menunggu 6 bulan lamanya, demi tetesan gerimis sore ini yang tak seberapa. Aku tak begitu pedulikan suaranya,karena sore ini terlalu indah untuk kuselingkuhi dengannya. Bagiku, sore esok atau lusa aku bias memintanya mengulang kembali perkataannya barusan. Yah, kali ini aku lebih memilih gerimis pertama setelah lama mencumbu gersang yang sejajar kegersanganku..dan kau, sekarang 6 bulanmu telah berakhir.. percaya!”
            Begitulah kalimat yang menyita perhatianku, apalagi kalimat terakhir, siapa yang  dimaksud “kau” dalam tulisan itu? Mungkinkah aku? Tapi manamungkin? Ah, sudahlah, aku tak mengerti. Kuteruskan menyusuri koridor di sepanjang jalanan tua itu sambil menerka-nerka apa maksud dari tulisan seorang penulis yang  kukira bukan penulis biasa, aku menemukan ruh di dalamnya. Tiba-tiba, seperti ada sekelebat bayangan sosok berkuda di belakangku,, spontan aku meloncat girang sembari bilang “hore………………..” berkali-kali  kuucapkan kata itu, hingga aku merasakan tubuhku dingin, seperti di bawah hujan, tapi mala mini langit tak berawan, pikirku.. kontan kubuka mata, astaga, trnyata ayah mengguyurku dengan seember air karena aku tak mau bangun sedari tadi, menurtnya. Ah ayah, kau tak selembut Ibu saat membangunkanku..
            Kusempatkan melihat jam di layar hapeku. Astaga, sudah jam 08.00 pagi.  Kuptuskan untuk mandi, Eits, tunggu, ada satu pesan masuk. Tak peduli dengan mata yang masih silau dengan cahaya LCDnya, kubuka pesan itu. Dari Rie.. “Bagaimana jika aku suka?” uh,, kukucek-kucek mataku. Menatap layar kembali, berharap hanya mataku yang barusan ngawur. Kulihat sekali lagi, Tuhan, kalimat itu benar-benar seperti yang kulihat pertama kali, tak ada yang berubah. Lalu apa maksudnya? Rie? Lelaki pemilik suara baritone yang kukenal sebulan yang lalu. Lelaki yang merelakan dirinya kupanggil abang, karena dia tahu aku terlahir yang tertua. Lantas apamaksudnya dengan smsnya barusan? Rie suka siapa?
            Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan menekan tombol “replay” dan kutulis sebuah balasan untuknya, sebuah kalimat tanya “Abang suka siapa?”. Aku berniat untuk tak menunggu balasan darinya, ku letakkan hapeku di atas bantal tidur, namun belum beranjak mataku dari layar hape, satu pesan baru muncul. “Abang suka kamu sayang..”. ah, tidak  mungkin. Selama ini aku biarkan diriku bermanja-manja di depannya, tak mungkin tiba-tiba dia suka.. Ah Rie, secepat itu kau tawarkan permainanmu?
            Tapi sudahlah, lupakan sejarah terbentuknya kisah ini. Yang pasti, aku benar-benar bersamamu Rie. Kini aku tahu, maksud dari tulisan di mimpiki malam itu. Kemarau harus menunggu 6 bulan lamanya untuk setetes gerimis yang tak seberapa. Jadi butuh waktu lama dalam menunggu. Akupun menyadari, cukup lama aku sendiri. Dan tak percaya dengan siapapun yang menghampiri. Baru kali ini, saat aku melepas seragam putih abu-abuku, keinginan bermain rindu pun kumiliki. Dan kali ini benar-benar punya ruh. Entah mengapa..
            Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan aku berbisik: “Rie, kau tetes hujan pertama dalam penantian panjangku yang kemarau..”.
***      ***
Dan ini tulisan tentagmu, yang kutulis sepenuh hati, penuh emosi, rindu, saying dan rasa apapun itu. Aku selalu berkecamuk tiap kali menceritakanmu pada setiap diary-diaryku. Tapi tahukah? Aku tak sesederhana tulisan ini memandangmu. Aku tak sejelek ini memahamimu. Bagiku, kau tak mudah disederhanakan. Meski kutahu bahagia itu sederhana, cukup tersenyum memandangmu saat kau pun tersenyum. Sungguh indah kukira, tapi kapan? Ah… lupakan!

The End

0 komentar on "Catatan Tentangmu"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang