Bukankah engkau
bertahajud di guguran bintang-bintang
Langit malampun luruh tinggalkan hujan
Menyaksikan rumput di sore tumbang
Bukankah engkau yang menari
meski waktu tak lagi satu
Bercampur bait syahdu
Di hujan malam yang mengkultuskan rindu
Bukankan engkau
yang terus mengeja
pada setia kata-kata
Di lorong-lorong kalimat panjang yang menua
Lalu aku
yang diam-diam termangu di balik datar cermin ini
Menggantung pena-pena runcing, tak kunjung kering
Apalagi kakiku sedang lumpuh
Merangkak, menuju tebing biru
Menerawang, berkejaran dengan kepulan asap pekat
Gelap.
Menyadari, kembali kugagal melukis tabu
tak sekuat kau menarik bait di puncak cakrawala, menjadi indah di atas riak ombak beludru
Ajari aku mengukir bisu, berpuisi meski pilu..
-Pilar Harapan, 2013-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jumat, 17 Mei 2013
--> Ajari Aku Berpuisi """
Bukankah engkau
bertahajud di guguran bintang-bintang
Langit malampun luruh tinggalkan hujan
Menyaksikan rumput di sore tumbang
Bukankah engkau yang menari
meski waktu tak lagi satu
Bercampur bait syahdu
Di hujan malam yang mengkultuskan rindu
Bukankan engkau
yang terus mengeja
pada setia kata-kata
Di lorong-lorong kalimat panjang yang menua
Lalu aku
yang diam-diam termangu di balik datar cermin ini
Menggantung pena-pena runcing, tak kunjung kering
Apalagi kakiku sedang lumpuh
Merangkak, menuju tebing biru
Menerawang, berkejaran dengan kepulan asap pekat
Gelap.
Menyadari, kembali kugagal melukis tabu
tak sekuat kau menarik bait di puncak cakrawala, menjadi indah di atas riak ombak beludru
Ajari aku mengukir bisu, berpuisi meski pilu..
-Pilar Harapan, 2013-
bertahajud di guguran bintang-bintang
Langit malampun luruh tinggalkan hujan
Menyaksikan rumput di sore tumbang
Bukankah engkau yang menari
meski waktu tak lagi satu
Bercampur bait syahdu
Di hujan malam yang mengkultuskan rindu
Bukankan engkau
yang terus mengeja
pada setia kata-kata
Di lorong-lorong kalimat panjang yang menua
Lalu aku
yang diam-diam termangu di balik datar cermin ini
Menggantung pena-pena runcing, tak kunjung kering
Apalagi kakiku sedang lumpuh
Merangkak, menuju tebing biru
Menerawang, berkejaran dengan kepulan asap pekat
Gelap.
Menyadari, kembali kugagal melukis tabu
tak sekuat kau menarik bait di puncak cakrawala, menjadi indah di atas riak ombak beludru
Ajari aku mengukir bisu, berpuisi meski pilu..
-Pilar Harapan, 2013-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar