Silahkan lihat betapa jahatnya aku, berani mengusikmu dari zona
nyaman masa lalumu. Bukan alasan tak percaya, justru besarnya
kepercayaan ini yang mebuatku ingin mengatakan: Aku cemburu. Tanpa boleh
kau lupa, cemburuku hanya sepanjang aku menuliskannya. Saat nanti kau
temukan titik di akhir tulisan ini, di situlah cemburuku berakhir.
Mari kulanjutkan:
Pada perempuan itu, kuakui aku cemburu.
Bukan pada kecantikan parasnya, bukan pada kebagusan pekertinya, bukan pula pada kejeniusan otaknya.
Aku
hanya cemburu pada kekuatannya yang mampu bangunkanmu bahkan di tengah
malam hanya demi beberapa kalimat doa dan beberapa larik puisi.
Mengajakmu untuk peka dalam bacaan-bacaan alam. Angin, embun, ombak dan
cahaya kau rasakan sebagai caranya mengajarkan Rindu. Dia mendekatimu,
kau dengan bijak akan bersyukur. Dia menjauhimu, dengan tenang kau
berdoa.
Pada perempuan itu sekali lagi aku cemburu.
Dengan senyumnya nyaris membuatmu sekarat. Desah nafasnya yang tak kan pernah kau lupa sejak di bibir pantai sore itu.
Aku bukan tak tau Sayang,
Dari
dulu kuanggap hanya sebaris masalalu, yang pernah kalian miliki. Tapi
sekarang aku ingin tau, sampai dimana kau nilai kejahatanku jika
mengusik itu.
Jujur, aku ingin meneriakkan ini tepat di depan mukamu.
Menanyakanmu dengan sempurna, berapa kelipatan Baik-Buruk yang kau
dapat di masanya dan masaku.
Kau tau aku suka menulis,
tapi ditulis lebih indah kurasa. Wajar saja aku cemburu, sebab perempuan
itu yang berulangkali kau tulis, bukan aku.
Dan perempuan itu berhasil menjadikanmu Penulis.
Kau begitu nyaman dengan kejujuran di bawah kata-katamu, yang kurasa itu lebih bisa dipercaya.
Ribuan lembar bahkan tak cukup untuk mewakili seberapa kau Rindu.
Aku tak ingin membandingkannya dengan apapun.
Apalagi
hanya dengan satu kalimat di ponselku "Aku Rindu". Dulunya aku
tersanjung dan merasa menjadi perempuan baik bisa mempercayaimu begitu
besarnya. Sekarang kalimat di layar hapeku seperti tak punya nilai
apa-apa. Maka aku tak ingin membandingkannya, sebab jelas tak sebanding.
Sekarang aku berkata lebih lirih, tanpa teriak. Agar aku tak lancang memekakkan telingamu.
'Pada perempuan itu aku cemburu'.
Dan aku sengaja mengistirahatkan otakku hari ini.
Sekedar tak ingin menerima umpatan dari diri sendiri, sebab dengan kurang ajar aku mencemburuinya.
Tapi tetap saja kuhalalkan. Setidaknya untuk kali ini. Sekali lagi.
Aku tau, katanya masalalumu adalah milikmu, masa laluku adalah milikku dan masadepan adalah... Ah, persetan.
Aku
hanya kembali ingin tau, jika aku dan perempuan itu berdiri di ruang
yang sama, dalam waktu yang bernama satu. Tiba-tiba datang malaikat
menawarimu pilihan, mustahil kau memilih menjadikannya rapi di ruang
kenangan.
Dan untuk yang kesekian, pada perempuan itu aku cemburu.
Yang sukses membuatmu nyaris gila. Terhuyung-huyung ditampar kenyataan.
Pada permpuan itu aku cemburu.
Aku cemburu pada perempuan itu.
Atas nama hati, tanpa dukungan otak: Aku cemburu. Titik.
Kamis, 17 Oktober 2013
Jumat, 20 September 2013
Saat Tuhan Menciptakan Seorang Ibu
Saat menciptakan seorang Ibu, Tuhan bekerja overtime pada hari ke-6. Seorang
malaikat menghampiri dan berkata lembut:
“Tuhan, banyak nian waktu yang Engkau habiskan untuk
menciptakan ‘Ibu’ ini?”
Tuhan menjawab pelan, “Tidakkah kau lihat perincian yang
harus dikerjakan? Ibu ini harus terbuat dari bahan yang bisa divuvi tapi bukan
dari plastik. Harus terdiri dari 200 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat
capai. Ia harus bisa hidup dari sedikit the kental dan makanan seadanya. Memiliki
telinga yang lebar untuk menampung keluhan. Memiliki ciuman yang dapat
menyembuhkan kaki-kaki yang keseleo, lidah yang manis untuk merekatkan hati
yang patah, dan enam pasang tangan.”
Malaikat itu menggeleng-gelenkan kepalanya. “Enam pasang
tangan?”
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan melainkan tangan
yang melayani sana-sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik,” jawab Tuhan.
“Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang Ibu”
“Bagaimana modelnya?” malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk-angguk, lalu ucapnya, “Sepasang mata yang
dapat menembus ‘pintu’ yang tetutup rapat dan bertanya, ‘apa yang sedang kau
lakukan di dalam situ?’ padahal, sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.
Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia
bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya
tak boleh ia lihat. Dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak
yang mengakui kekeliruannya. Mata itu haarus bisa bicara!
Mata itu harus
berkata, ‘saya mengerti dan saya sayang padamu!’ meskipun tidak diucapkan
sepatah katapun.”
“Tuhan,” kata malaikat itu lagi, “istirahatlah!”
“Tidak bisa! Saya sudah hampir selesai. Ia harus bisa
menyembuhkan diri sendniri kalau ia sakit. Ia harus bisa memberi makan enam
orang dengan setengah ons daging. Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahub
mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi.”
Akhirnya, malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan
perlahan. “Terlalu lunak!” katanya memberi komentar.
“Tetapi kuat!” kata Tuhan bersemangat, “tak akan kau
bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita!”
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi
gagasan, ide dan berkompromi.”kata Sang Pencipta.
Akhirnya, malaikat menyentuh sesuatu di pipi. “Ah, ada kebocoran
di sini!”.
“Itu bukan kebocoran,” kata Tuhan, “itu adalah tempat air
mata.”
“untuk apa air mata?” tanya malaikat sekali lagi.
“Air mata adalah cara untuk Ibu mengekspresikan
kesenangannya, kesedihannya, kekecewaannya, kesakitannya, kesepiannya,
kesulitannya dan kebanggaannya.”
“Tuhan memang ahlinya…” kata malaikat, pelan.
*Dari buku Malaikat
Kecilku. J
Label:
Subhanallah..
Kamis, 19 September 2013
Labirin Rindu.. :D
Saat gamang mendekap, rasanya tak begitu yakin mampu bertanya, kenapa setiap musim yang terlalui tak pernah meninggalkan namanya…Seperti teduh angin sore sesekali luruhkan helai daun yang berserak dan lembab oleh hujan…
………………………
Ada cerita kembali terdengar seperti suara hujan jatuh di dedaunan, tanah dan atap rumah…serupa irama detik jam atau suara helaan nafas….Sunyi dan selarik puisi tentangmu menyekapku dalam labirin rindu yang panjang… Sekejap menjadi lengkap ketika aku berpapasan dengan rasamu.. Ah… cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya, katamu menggerimis serupa kecupan….
……………………….
Ku urai cerita ini sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, berharap hatimu menyampaikan sesuatu dengan sederhana… kelak saat malam mengendap senyap, aku dan kamu temukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirkan sebentuk cinta lewat puisi dan juga doa…
Label:
Ini Tulisanku,
Khayalan.. =))
Selasa, 17 September 2013
Aku Dan Alam..
Setiap kali dalam perjalanan kemana-mana, hal yang paling menyenangkan untuk dilihat adalah pemandangan dipesisir pantai, pecahan ombak dan sinar matahari yang menyinari laut dengan kemilaunya. Yang membuatku takjub pada mereka mungkin hanya lewat di kehidupanku hanya beberapa saat, yang jadi
pertanyaan lalu buat apa mereka ada untukku untuk memandang hala-hal
yang indah dalam isi perjalanan ini?
Dan mereka pun tak pernah menyadari
aku berada dia antara mereka untuk memandangnya, untuk apa aku
diciptakan untuk mereka yang hanya menikmati saja? Sungguh tak pernah
akan sampai jika akal yang berbicara dengan hipotesis dihasilkan
menggunakan ilmu dan otak yang penuh dengan batasan ini. Yang aku tahu
bahwa tidak ada yang diciptakan untuk suatu kesia-siaan semuanya pasti
ada manfaatnya.
Tapi setiap manusia menjadi aktor utama untuk ceritanya
sendiri, ya sudah pasti. Tetapi dibalik itu juga publikasi juga
dibutuhkan untuk sharing bersama. Sementara dalam mengaktorkan diri
sendiri sudah dipastikan semua orang-orang yang berada di sekitar-nya
hanya figuran saja dalam sebuah naskah ataupun sebuah bidikan lensa
foto. Sedangkan akhir sebuah cerita ditentukan oleh individu
masing-masing. Mungkin itu alasan mengapa manusia harus menghargai dunia
yang penuh serba serbi flora, fauna dan imajinasi dalam sebuah karya,
ataupun sebuah perbuatan yang pastinya dunia sebagai objek untuk
mengupas segala yang di alam bumi ini. Saya tidak berhipotesis ria, dan
saya tidak memainkan kata-kata dalam bentuk tulisan dan saya tidak bisa
untuk itu, tetapi hanya sedikit menulis untuk diriku pribadi dan saya
berterima kasih kalau seandai ada yang membaca tulisan amburadul ini.
Save The World
Label:
CatatAn.. ^_^
Aku Menulis. Tak Perlu Alasan!
“Untuk apa kau menulis?” katanya.
Selanjutnya hanyalah kata-kata;
“Menulis hanya membuang-buang waktumu. Tak berguna!”
“Bukan penulis namanya jika tak pernah menerbitkan buku!”
“Apa bangganya menjadi penulis?”
“Penulis hanyalah cita-cita usang
yang tak pantas disandingkan dengan pekerjaan lainnya. Kau tahu? Masih
banyak pekerjaan lain di dunia ini. Masih banyak yang harus kau pikirkan
selain tulisan-tulisan bodohmu itu! Buka matamu! Banyak pekerjaan lain
menantimu. Apa pentingnya menulis? Cukup kau berkata-kata dalam hati dan
pikiranmu saja. Tak perlu orang lain tahu. Cukup kau saja. Kau
mengerti?! Tak usah berlebihan. Bergaya pintar tapi memuakkan. Kau tak
sama dengan apa yang kau tulis!”
Aku diam dalam hening. Tapi aku lalu
membunuhnya. Membunuhnya dengan tulisanku, tentunya. Tanpa darah, tanpa
air mata. Tanpa ketakutan, tanpa rintihan. Aku hanya muak dengan caci
makinya. Itu saja. Jadi cukuplah aku sumpal mulutnya dengan kertas dan
pena.
Label:
CatatAn.. ^_^
Selasa, 03 September 2013
Bahagia.. :)
Telah kubilang berulangkali, mendengarkan suara hatiadalah hal
ternyaman untuk kulakukan akhir-akhir ini. Mengajak hati berdialogserasa
kita sukses menjadi perempuan paling bijak. Tak ada nada-nada
egoismenimpali, semua murni dan alami dalam diri. Terkadang aku justru
menyayangkan,kenapa tak dari dulu kesadaran ini kumiliki. Hingga mungkin
aku tak tau apa itusakit hati..
Tapi tunggu sayang,
aku ingin bernafas satu kalilagi. Mengingatkan otot-otot dan bagian
tubuhku yang lain bahwa aku telahbenar-benar berdiri di siang bolong.
Aku meyakinkan ini bukan mimpi. Inikeputusan yang kupilih sendiri. Tak
ada alasan menyesali. Lebih baik menikmati.Tak usah neko-neko. Nikmati.
Selebihnya menyadari bahwa harapan butuhdiseimbangkan dengan Doa. Aku
percaya.
Kali ini mungkin aku harus meneriakkan pada
bentuktubuh di depan datar cermin ini. Merasakan sakit adalah pilihan
salah satunya. Taklagi mendapatimu yang juga berdiri untuk kulihat dalam
cermin ini. Tak lagimenuakan lagu-lagu sampai pagi berembun. Tak lagi
terbahak dengan kita yangterkatung menahan kantuk. Semuanya tidak lagi,
eh sori, jarang barangkali.
Kau tau sikap seorang
sahabat yang baru kenalan? Takjauh beda dengan kita sekarang, malu-malu.
Kaku. Demi kerelaan orang tua dancita kau bilang. Aku manut saja.
Mengalir. Tapi sudahlah, kurasa tak mengapa. Asalkita tetap saling
percaya. Menangguhkan Doa sampai waktu yang tidak ditentukan.Aku dalah
perempuan baik dalam penungguan. Sepertinya. Toh saat merindumu, akubisa
dengan berani mengajak alam di sekitarku untuk menemaniku.
Kau
tenang sayang, aku tak akan lagi menghayaldengan cara mereka
kebanyakan. Kita punya cara sendiri untuk bahagia. Dan untukyang
kesekian, aku mencintaimu. Itu saja.. :)
Label:
CatatAn.. ^_^
Badai;
Terkadang, kehidupan ini melintasi badai.
Bagi beberapa orang, badai itu adalah penyakit yang datang dan diketahui, tanpa diingini.
Bagi beberapa orang yang lain, badai itu adalah kehilangan pekerjaan, diantara tumpukan tagihan dan hanya ada satu penghasilan.
Badai yang lain, bagi orang yang berbeda, keluarga yang terkoyak, tanpa tanda-tanda apapun.
Bagi anak-anak, badai adalah mendengar orang tua akan berpisah, dan mereka harus memilih daddy or mommy. Bagi remaja, badai mungkin saat putus cinta.
Badai adalah badai….
Kehidupan harus tetap dijalani. Beberapa kali dalam lintasan peristiwa, kita akan menghadapi badai-badai serupa. Sekali lagi, kecuali kita mau “quit” menyerah, maka, kita harus mampu terbang ditengah badai.
Menulis tentang ini, mengingatkan saya dengan beberapa hal yang pernah saya dengar, bahwa burung rajawali, adalah burung yang terbang lebih tinggi pada saat badai, dan luarbiasanya adalah kecepatannya bertambah, justru pada saat badai, walaupun ia tidak mengepakkan sayapnya.
Saya berpikir, dalam keadaan seperti ini, mungkinkah kita dapat melakukan sesuatu yang menghargai perbedaan. Mungkin hanya bagi sedikit orang,… tetapi tetap lakukan saja.
Sekurangnya mari memberi arti diri kita dengan perbedaan itu..
Bagi beberapa orang, badai itu adalah penyakit yang datang dan diketahui, tanpa diingini.
Bagi beberapa orang yang lain, badai itu adalah kehilangan pekerjaan, diantara tumpukan tagihan dan hanya ada satu penghasilan.
Badai yang lain, bagi orang yang berbeda, keluarga yang terkoyak, tanpa tanda-tanda apapun.
Bagi anak-anak, badai adalah mendengar orang tua akan berpisah, dan mereka harus memilih daddy or mommy. Bagi remaja, badai mungkin saat putus cinta.
Badai adalah badai….
Kehidupan harus tetap dijalani. Beberapa kali dalam lintasan peristiwa, kita akan menghadapi badai-badai serupa. Sekali lagi, kecuali kita mau “quit” menyerah, maka, kita harus mampu terbang ditengah badai.
Menulis tentang ini, mengingatkan saya dengan beberapa hal yang pernah saya dengar, bahwa burung rajawali, adalah burung yang terbang lebih tinggi pada saat badai, dan luarbiasanya adalah kecepatannya bertambah, justru pada saat badai, walaupun ia tidak mengepakkan sayapnya.
Saya berpikir, dalam keadaan seperti ini, mungkinkah kita dapat melakukan sesuatu yang menghargai perbedaan. Mungkin hanya bagi sedikit orang,… tetapi tetap lakukan saja.
Sekurangnya mari memberi arti diri kita dengan perbedaan itu..
Label:
Khayalan.. =))
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamis, 17 Oktober 2013
Aku Cemburu. ;-)
Silahkan lihat betapa jahatnya aku, berani mengusikmu dari zona
nyaman masa lalumu. Bukan alasan tak percaya, justru besarnya
kepercayaan ini yang mebuatku ingin mengatakan: Aku cemburu. Tanpa boleh
kau lupa, cemburuku hanya sepanjang aku menuliskannya. Saat nanti kau
temukan titik di akhir tulisan ini, di situlah cemburuku berakhir.
Mari kulanjutkan:
Pada perempuan itu, kuakui aku cemburu.
Bukan pada kecantikan parasnya, bukan pada kebagusan pekertinya, bukan pula pada kejeniusan otaknya.
Aku hanya cemburu pada kekuatannya yang mampu bangunkanmu bahkan di tengah malam hanya demi beberapa kalimat doa dan beberapa larik puisi. Mengajakmu untuk peka dalam bacaan-bacaan alam. Angin, embun, ombak dan cahaya kau rasakan sebagai caranya mengajarkan Rindu. Dia mendekatimu, kau dengan bijak akan bersyukur. Dia menjauhimu, dengan tenang kau berdoa.
Pada perempuan itu sekali lagi aku cemburu.
Dengan senyumnya nyaris membuatmu sekarat. Desah nafasnya yang tak kan pernah kau lupa sejak di bibir pantai sore itu.
Aku bukan tak tau Sayang,
Dari dulu kuanggap hanya sebaris masalalu, yang pernah kalian miliki. Tapi sekarang aku ingin tau, sampai dimana kau nilai kejahatanku jika mengusik itu.
Jujur, aku ingin meneriakkan ini tepat di depan mukamu. Menanyakanmu dengan sempurna, berapa kelipatan Baik-Buruk yang kau dapat di masanya dan masaku.
Kau tau aku suka menulis, tapi ditulis lebih indah kurasa. Wajar saja aku cemburu, sebab perempuan itu yang berulangkali kau tulis, bukan aku.
Dan perempuan itu berhasil menjadikanmu Penulis.
Kau begitu nyaman dengan kejujuran di bawah kata-katamu, yang kurasa itu lebih bisa dipercaya.
Ribuan lembar bahkan tak cukup untuk mewakili seberapa kau Rindu.
Aku tak ingin membandingkannya dengan apapun.
Apalagi hanya dengan satu kalimat di ponselku "Aku Rindu". Dulunya aku tersanjung dan merasa menjadi perempuan baik bisa mempercayaimu begitu besarnya. Sekarang kalimat di layar hapeku seperti tak punya nilai apa-apa. Maka aku tak ingin membandingkannya, sebab jelas tak sebanding.
Sekarang aku berkata lebih lirih, tanpa teriak. Agar aku tak lancang memekakkan telingamu.
'Pada perempuan itu aku cemburu'.
Dan aku sengaja mengistirahatkan otakku hari ini.
Sekedar tak ingin menerima umpatan dari diri sendiri, sebab dengan kurang ajar aku mencemburuinya.
Tapi tetap saja kuhalalkan. Setidaknya untuk kali ini. Sekali lagi.
Aku tau, katanya masalalumu adalah milikmu, masa laluku adalah milikku dan masadepan adalah... Ah, persetan.
Aku hanya kembali ingin tau, jika aku dan perempuan itu berdiri di ruang yang sama, dalam waktu yang bernama satu. Tiba-tiba datang malaikat menawarimu pilihan, mustahil kau memilih menjadikannya rapi di ruang kenangan.
Dan untuk yang kesekian, pada perempuan itu aku cemburu.
Yang sukses membuatmu nyaris gila. Terhuyung-huyung ditampar kenyataan.
Pada permpuan itu aku cemburu.
Aku cemburu pada perempuan itu.
Atas nama hati, tanpa dukungan otak: Aku cemburu. Titik.
Mari kulanjutkan:
Pada perempuan itu, kuakui aku cemburu.
Bukan pada kecantikan parasnya, bukan pada kebagusan pekertinya, bukan pula pada kejeniusan otaknya.
Aku hanya cemburu pada kekuatannya yang mampu bangunkanmu bahkan di tengah malam hanya demi beberapa kalimat doa dan beberapa larik puisi. Mengajakmu untuk peka dalam bacaan-bacaan alam. Angin, embun, ombak dan cahaya kau rasakan sebagai caranya mengajarkan Rindu. Dia mendekatimu, kau dengan bijak akan bersyukur. Dia menjauhimu, dengan tenang kau berdoa.
Pada perempuan itu sekali lagi aku cemburu.
Dengan senyumnya nyaris membuatmu sekarat. Desah nafasnya yang tak kan pernah kau lupa sejak di bibir pantai sore itu.
Aku bukan tak tau Sayang,
Dari dulu kuanggap hanya sebaris masalalu, yang pernah kalian miliki. Tapi sekarang aku ingin tau, sampai dimana kau nilai kejahatanku jika mengusik itu.
Jujur, aku ingin meneriakkan ini tepat di depan mukamu. Menanyakanmu dengan sempurna, berapa kelipatan Baik-Buruk yang kau dapat di masanya dan masaku.
Kau tau aku suka menulis, tapi ditulis lebih indah kurasa. Wajar saja aku cemburu, sebab perempuan itu yang berulangkali kau tulis, bukan aku.
Dan perempuan itu berhasil menjadikanmu Penulis.
Kau begitu nyaman dengan kejujuran di bawah kata-katamu, yang kurasa itu lebih bisa dipercaya.
Ribuan lembar bahkan tak cukup untuk mewakili seberapa kau Rindu.
Aku tak ingin membandingkannya dengan apapun.
Apalagi hanya dengan satu kalimat di ponselku "Aku Rindu". Dulunya aku tersanjung dan merasa menjadi perempuan baik bisa mempercayaimu begitu besarnya. Sekarang kalimat di layar hapeku seperti tak punya nilai apa-apa. Maka aku tak ingin membandingkannya, sebab jelas tak sebanding.
Sekarang aku berkata lebih lirih, tanpa teriak. Agar aku tak lancang memekakkan telingamu.
'Pada perempuan itu aku cemburu'.
Dan aku sengaja mengistirahatkan otakku hari ini.
Sekedar tak ingin menerima umpatan dari diri sendiri, sebab dengan kurang ajar aku mencemburuinya.
Tapi tetap saja kuhalalkan. Setidaknya untuk kali ini. Sekali lagi.
Aku tau, katanya masalalumu adalah milikmu, masa laluku adalah milikku dan masadepan adalah... Ah, persetan.
Aku hanya kembali ingin tau, jika aku dan perempuan itu berdiri di ruang yang sama, dalam waktu yang bernama satu. Tiba-tiba datang malaikat menawarimu pilihan, mustahil kau memilih menjadikannya rapi di ruang kenangan.
Dan untuk yang kesekian, pada perempuan itu aku cemburu.
Yang sukses membuatmu nyaris gila. Terhuyung-huyung ditampar kenyataan.
Pada permpuan itu aku cemburu.
Aku cemburu pada perempuan itu.
Atas nama hati, tanpa dukungan otak: Aku cemburu. Titik.
Jumat, 20 September 2013
Saat Tuhan Menciptakan Seorang Ibu
Saat menciptakan seorang Ibu, Tuhan bekerja overtime pada hari ke-6. Seorang
malaikat menghampiri dan berkata lembut:
“Tuhan, banyak nian waktu yang Engkau habiskan untuk
menciptakan ‘Ibu’ ini?”
Tuhan menjawab pelan, “Tidakkah kau lihat perincian yang
harus dikerjakan? Ibu ini harus terbuat dari bahan yang bisa divuvi tapi bukan
dari plastik. Harus terdiri dari 200 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat
capai. Ia harus bisa hidup dari sedikit the kental dan makanan seadanya. Memiliki
telinga yang lebar untuk menampung keluhan. Memiliki ciuman yang dapat
menyembuhkan kaki-kaki yang keseleo, lidah yang manis untuk merekatkan hati
yang patah, dan enam pasang tangan.”
Malaikat itu menggeleng-gelenkan kepalanya. “Enam pasang
tangan?”
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan melainkan tangan
yang melayani sana-sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik,” jawab Tuhan.
“Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang Ibu”
“Bagaimana modelnya?” malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk-angguk, lalu ucapnya, “Sepasang mata yang
dapat menembus ‘pintu’ yang tetutup rapat dan bertanya, ‘apa yang sedang kau
lakukan di dalam situ?’ padahal, sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.
Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia
bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya
tak boleh ia lihat. Dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak
yang mengakui kekeliruannya. Mata itu haarus bisa bicara!
Mata itu harus
berkata, ‘saya mengerti dan saya sayang padamu!’ meskipun tidak diucapkan
sepatah katapun.”
“Tuhan,” kata malaikat itu lagi, “istirahatlah!”
“Tidak bisa! Saya sudah hampir selesai. Ia harus bisa
menyembuhkan diri sendniri kalau ia sakit. Ia harus bisa memberi makan enam
orang dengan setengah ons daging. Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahub
mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi.”
Akhirnya, malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan
perlahan. “Terlalu lunak!” katanya memberi komentar.
“Tetapi kuat!” kata Tuhan bersemangat, “tak akan kau
bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita!”
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi
gagasan, ide dan berkompromi.”kata Sang Pencipta.
Akhirnya, malaikat menyentuh sesuatu di pipi. “Ah, ada kebocoran
di sini!”.
“Itu bukan kebocoran,” kata Tuhan, “itu adalah tempat air
mata.”
“untuk apa air mata?” tanya malaikat sekali lagi.
“Air mata adalah cara untuk Ibu mengekspresikan
kesenangannya, kesedihannya, kekecewaannya, kesakitannya, kesepiannya,
kesulitannya dan kebanggaannya.”
“Tuhan memang ahlinya…” kata malaikat, pelan.
*Dari buku Malaikat
Kecilku. J
Kamis, 19 September 2013
Labirin Rindu.. :D
Saat gamang mendekap, rasanya tak begitu yakin mampu bertanya, kenapa setiap musim yang terlalui tak pernah meninggalkan namanya…Seperti teduh angin sore sesekali luruhkan helai daun yang berserak dan lembab oleh hujan…
………………………
Ada cerita kembali terdengar seperti suara hujan jatuh di dedaunan, tanah dan atap rumah…serupa irama detik jam atau suara helaan nafas….Sunyi dan selarik puisi tentangmu menyekapku dalam labirin rindu yang panjang… Sekejap menjadi lengkap ketika aku berpapasan dengan rasamu.. Ah… cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya, katamu menggerimis serupa kecupan….
……………………….
Ku urai cerita ini sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, berharap hatimu menyampaikan sesuatu dengan sederhana… kelak saat malam mengendap senyap, aku dan kamu temukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirkan sebentuk cinta lewat puisi dan juga doa…
Selasa, 17 September 2013
Aku Dan Alam..
Setiap kali dalam perjalanan kemana-mana, hal yang paling menyenangkan untuk dilihat adalah pemandangan dipesisir pantai, pecahan ombak dan sinar matahari yang menyinari laut dengan kemilaunya. Yang membuatku takjub pada mereka mungkin hanya lewat di kehidupanku hanya beberapa saat, yang jadi
pertanyaan lalu buat apa mereka ada untukku untuk memandang hala-hal
yang indah dalam isi perjalanan ini?
Dan mereka pun tak pernah menyadari
aku berada dia antara mereka untuk memandangnya, untuk apa aku
diciptakan untuk mereka yang hanya menikmati saja? Sungguh tak pernah
akan sampai jika akal yang berbicara dengan hipotesis dihasilkan
menggunakan ilmu dan otak yang penuh dengan batasan ini. Yang aku tahu
bahwa tidak ada yang diciptakan untuk suatu kesia-siaan semuanya pasti
ada manfaatnya.
Tapi setiap manusia menjadi aktor utama untuk ceritanya
sendiri, ya sudah pasti. Tetapi dibalik itu juga publikasi juga
dibutuhkan untuk sharing bersama. Sementara dalam mengaktorkan diri
sendiri sudah dipastikan semua orang-orang yang berada di sekitar-nya
hanya figuran saja dalam sebuah naskah ataupun sebuah bidikan lensa
foto. Sedangkan akhir sebuah cerita ditentukan oleh individu
masing-masing. Mungkin itu alasan mengapa manusia harus menghargai dunia
yang penuh serba serbi flora, fauna dan imajinasi dalam sebuah karya,
ataupun sebuah perbuatan yang pastinya dunia sebagai objek untuk
mengupas segala yang di alam bumi ini. Saya tidak berhipotesis ria, dan
saya tidak memainkan kata-kata dalam bentuk tulisan dan saya tidak bisa
untuk itu, tetapi hanya sedikit menulis untuk diriku pribadi dan saya
berterima kasih kalau seandai ada yang membaca tulisan amburadul ini.
Save The World
Aku Menulis. Tak Perlu Alasan!
“Untuk apa kau menulis?” katanya.
Selanjutnya hanyalah kata-kata;
“Menulis hanya membuang-buang waktumu. Tak berguna!”
“Bukan penulis namanya jika tak pernah menerbitkan buku!”
“Apa bangganya menjadi penulis?”
“Penulis hanyalah cita-cita usang
yang tak pantas disandingkan dengan pekerjaan lainnya. Kau tahu? Masih
banyak pekerjaan lain di dunia ini. Masih banyak yang harus kau pikirkan
selain tulisan-tulisan bodohmu itu! Buka matamu! Banyak pekerjaan lain
menantimu. Apa pentingnya menulis? Cukup kau berkata-kata dalam hati dan
pikiranmu saja. Tak perlu orang lain tahu. Cukup kau saja. Kau
mengerti?! Tak usah berlebihan. Bergaya pintar tapi memuakkan. Kau tak
sama dengan apa yang kau tulis!”
Aku diam dalam hening. Tapi aku lalu
membunuhnya. Membunuhnya dengan tulisanku, tentunya. Tanpa darah, tanpa
air mata. Tanpa ketakutan, tanpa rintihan. Aku hanya muak dengan caci
makinya. Itu saja. Jadi cukuplah aku sumpal mulutnya dengan kertas dan
pena.
Selasa, 03 September 2013
Bahagia.. :)
Telah kubilang berulangkali, mendengarkan suara hatiadalah hal
ternyaman untuk kulakukan akhir-akhir ini. Mengajak hati berdialogserasa
kita sukses menjadi perempuan paling bijak. Tak ada nada-nada
egoismenimpali, semua murni dan alami dalam diri. Terkadang aku justru
menyayangkan,kenapa tak dari dulu kesadaran ini kumiliki. Hingga mungkin
aku tak tau apa itusakit hati..
Tapi tunggu sayang,
aku ingin bernafas satu kalilagi. Mengingatkan otot-otot dan bagian
tubuhku yang lain bahwa aku telahbenar-benar berdiri di siang bolong.
Aku meyakinkan ini bukan mimpi. Inikeputusan yang kupilih sendiri. Tak
ada alasan menyesali. Lebih baik menikmati.Tak usah neko-neko. Nikmati.
Selebihnya menyadari bahwa harapan butuhdiseimbangkan dengan Doa. Aku
percaya.
Kali ini mungkin aku harus meneriakkan pada
bentuktubuh di depan datar cermin ini. Merasakan sakit adalah pilihan
salah satunya. Taklagi mendapatimu yang juga berdiri untuk kulihat dalam
cermin ini. Tak lagimenuakan lagu-lagu sampai pagi berembun. Tak lagi
terbahak dengan kita yangterkatung menahan kantuk. Semuanya tidak lagi,
eh sori, jarang barangkali.
Kau tau sikap seorang
sahabat yang baru kenalan? Takjauh beda dengan kita sekarang, malu-malu.
Kaku. Demi kerelaan orang tua dancita kau bilang. Aku manut saja.
Mengalir. Tapi sudahlah, kurasa tak mengapa. Asalkita tetap saling
percaya. Menangguhkan Doa sampai waktu yang tidak ditentukan.Aku dalah
perempuan baik dalam penungguan. Sepertinya. Toh saat merindumu, akubisa
dengan berani mengajak alam di sekitarku untuk menemaniku.
Kau
tenang sayang, aku tak akan lagi menghayaldengan cara mereka
kebanyakan. Kita punya cara sendiri untuk bahagia. Dan untukyang
kesekian, aku mencintaimu. Itu saja.. :)
Badai;
Terkadang, kehidupan ini melintasi badai.
Bagi beberapa orang, badai itu adalah penyakit yang datang dan diketahui, tanpa diingini.
Bagi beberapa orang yang lain, badai itu adalah kehilangan pekerjaan, diantara tumpukan tagihan dan hanya ada satu penghasilan.
Badai yang lain, bagi orang yang berbeda, keluarga yang terkoyak, tanpa tanda-tanda apapun.
Bagi anak-anak, badai adalah mendengar orang tua akan berpisah, dan mereka harus memilih daddy or mommy. Bagi remaja, badai mungkin saat putus cinta.
Badai adalah badai….
Kehidupan harus tetap dijalani. Beberapa kali dalam lintasan peristiwa, kita akan menghadapi badai-badai serupa. Sekali lagi, kecuali kita mau “quit” menyerah, maka, kita harus mampu terbang ditengah badai.
Menulis tentang ini, mengingatkan saya dengan beberapa hal yang pernah saya dengar, bahwa burung rajawali, adalah burung yang terbang lebih tinggi pada saat badai, dan luarbiasanya adalah kecepatannya bertambah, justru pada saat badai, walaupun ia tidak mengepakkan sayapnya.
Saya berpikir, dalam keadaan seperti ini, mungkinkah kita dapat melakukan sesuatu yang menghargai perbedaan. Mungkin hanya bagi sedikit orang,… tetapi tetap lakukan saja.
Sekurangnya mari memberi arti diri kita dengan perbedaan itu..
Bagi beberapa orang, badai itu adalah penyakit yang datang dan diketahui, tanpa diingini.
Bagi beberapa orang yang lain, badai itu adalah kehilangan pekerjaan, diantara tumpukan tagihan dan hanya ada satu penghasilan.
Badai yang lain, bagi orang yang berbeda, keluarga yang terkoyak, tanpa tanda-tanda apapun.
Bagi anak-anak, badai adalah mendengar orang tua akan berpisah, dan mereka harus memilih daddy or mommy. Bagi remaja, badai mungkin saat putus cinta.
Badai adalah badai….
Kehidupan harus tetap dijalani. Beberapa kali dalam lintasan peristiwa, kita akan menghadapi badai-badai serupa. Sekali lagi, kecuali kita mau “quit” menyerah, maka, kita harus mampu terbang ditengah badai.
Menulis tentang ini, mengingatkan saya dengan beberapa hal yang pernah saya dengar, bahwa burung rajawali, adalah burung yang terbang lebih tinggi pada saat badai, dan luarbiasanya adalah kecepatannya bertambah, justru pada saat badai, walaupun ia tidak mengepakkan sayapnya.
Saya berpikir, dalam keadaan seperti ini, mungkinkah kita dapat melakukan sesuatu yang menghargai perbedaan. Mungkin hanya bagi sedikit orang,… tetapi tetap lakukan saja.
Sekurangnya mari memberi arti diri kita dengan perbedaan itu..
Langganan:
Postingan (Atom)







