Selasa, 13 Mei 2014

Resmi: Hari ini rindu Ibu. (Sebuah Refleksi)




**Barangkali dalam hal ini ingatanku akan bekerja lebih baik. Tak seperti saat disuruh menghafal pelajaran dan matakuliah yang super duper membingungkan. Ingatanku serupa hardisk yang mampu menampung ribuan giga file dari segala peristiwa, yang saat ini entah kenapa bisa terputar begitu saja.
Awalnya aku tak ingin mengingatnya, khawatir kelimpungan menampung gejolak rindu setelahnya. Tapi dasar aku lupa, dalam ilmu Biologi dasar bukannya sudah dijelaskan betapa romantisnya hubungan gen antara seorang Ibu dan anak. Dan hari ini, kau resmi terkana setrum itu. Gerahamku mengeras, badanku menegang, mataku memanas. Aku hanya ingin satu hal: Menghambur di pelukmu. Lalu menceritakan dengan lantang tentang orang-orang yang akhir-akhir ini tugasnya melebihi seorang hantu yang paling menyeramkan. Yang akhir-akhir ini belajar menyaingi rinduku pada penghuni rumah ternyamanku. Tapi tak perlu ada yang perlu dikhawatirkan, hantu itu memang manyeramkan tapi tak sedikitpun membahayakan. Dan rindu itu, memang sama besar, tapi aku akan sadar saat menanyakan kembali pada hati dengan lebih tenang.
Tentang Ibu;
Tak peduli seberapa sering dia marah, saat dalam keadaan ini hanya di pangkuannya aku  ingin berkeluh kesah. Mengalirkan air mata tanpa ada sungkannya. Melampiaskan segala kecewa dan luka bahkan sampai tak jarang mencubitnya. Membisikkan tepat di telinganya bahwa ia aku larang menceritakan apapun di depan ayah, dilarang memarahi, dilarang menasihati. Pada fase pertama dia hanya boleh mendengarkan. Lalu  dengan tanpa beban ia mendengarkan, sesekali menyibak rambutku yang berantakan tak karuan, menggenggam tanganku memberi kekuatan. Dalam posisi tetap diam.
Aku tak pernah meragukannya dalam hal menghargai. Tapi namanya Ibu, mustahil mengakhiri pertemuan tanpa sebuah wejangan.
Terakhir dia akan bicara panjang lebar, yang kualitasnya terkadang melebihi isi buku-buku di pasaran. Tak jemu ia selalu mengingatkan, agar putri kesayangnnya tak sampai masuk jurang. Aku masih ingat, bagaimana Ibu mengajarkan tentang hidup yang tak jarang membuat orang kehilangan akal. ‘Begitulah Hidup, tapi ada banyak cara untuk menghadapi segala situasinya’ selalu katanya.

*Entah kenapa hari ini aku begitu merindukannya. Rindu caranya membangunkan di pagi hari. Rindu caranya memposisikan kepeduliannya yang selalu tepat waktu dalam situasi dan kondisi apapun. Rindu caranya mengajak untuk tak bermalas-malasan membersihkan rumah. Rindu segala halnya.
Bu, kau tetap akan jadi rumah ternyaman untuk aku berpulang. Miss you so. :*
***Sst, jangan berisik, aku malu jika harus ketahuan ayah. :D
12 Mei 2014

0 komentar:

Posting Komentar

Selasa, 13 Mei 2014

Resmi: Hari ini rindu Ibu. (Sebuah Refleksi)

Diposting oleh Unknown di 11.49



**Barangkali dalam hal ini ingatanku akan bekerja lebih baik. Tak seperti saat disuruh menghafal pelajaran dan matakuliah yang super duper membingungkan. Ingatanku serupa hardisk yang mampu menampung ribuan giga file dari segala peristiwa, yang saat ini entah kenapa bisa terputar begitu saja.
Awalnya aku tak ingin mengingatnya, khawatir kelimpungan menampung gejolak rindu setelahnya. Tapi dasar aku lupa, dalam ilmu Biologi dasar bukannya sudah dijelaskan betapa romantisnya hubungan gen antara seorang Ibu dan anak. Dan hari ini, kau resmi terkana setrum itu. Gerahamku mengeras, badanku menegang, mataku memanas. Aku hanya ingin satu hal: Menghambur di pelukmu. Lalu menceritakan dengan lantang tentang orang-orang yang akhir-akhir ini tugasnya melebihi seorang hantu yang paling menyeramkan. Yang akhir-akhir ini belajar menyaingi rinduku pada penghuni rumah ternyamanku. Tapi tak perlu ada yang perlu dikhawatirkan, hantu itu memang manyeramkan tapi tak sedikitpun membahayakan. Dan rindu itu, memang sama besar, tapi aku akan sadar saat menanyakan kembali pada hati dengan lebih tenang.
Tentang Ibu;
Tak peduli seberapa sering dia marah, saat dalam keadaan ini hanya di pangkuannya aku  ingin berkeluh kesah. Mengalirkan air mata tanpa ada sungkannya. Melampiaskan segala kecewa dan luka bahkan sampai tak jarang mencubitnya. Membisikkan tepat di telinganya bahwa ia aku larang menceritakan apapun di depan ayah, dilarang memarahi, dilarang menasihati. Pada fase pertama dia hanya boleh mendengarkan. Lalu  dengan tanpa beban ia mendengarkan, sesekali menyibak rambutku yang berantakan tak karuan, menggenggam tanganku memberi kekuatan. Dalam posisi tetap diam.
Aku tak pernah meragukannya dalam hal menghargai. Tapi namanya Ibu, mustahil mengakhiri pertemuan tanpa sebuah wejangan.
Terakhir dia akan bicara panjang lebar, yang kualitasnya terkadang melebihi isi buku-buku di pasaran. Tak jemu ia selalu mengingatkan, agar putri kesayangnnya tak sampai masuk jurang. Aku masih ingat, bagaimana Ibu mengajarkan tentang hidup yang tak jarang membuat orang kehilangan akal. ‘Begitulah Hidup, tapi ada banyak cara untuk menghadapi segala situasinya’ selalu katanya.

*Entah kenapa hari ini aku begitu merindukannya. Rindu caranya membangunkan di pagi hari. Rindu caranya memposisikan kepeduliannya yang selalu tepat waktu dalam situasi dan kondisi apapun. Rindu caranya mengajak untuk tak bermalas-malasan membersihkan rumah. Rindu segala halnya.
Bu, kau tetap akan jadi rumah ternyaman untuk aku berpulang. Miss you so. :*
***Sst, jangan berisik, aku malu jika harus ketahuan ayah. :D
12 Mei 2014

0 komentar on "Resmi: Hari ini rindu Ibu. (Sebuah Refleksi)"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang