**Barangkali dalam
hal ini ingatanku akan bekerja lebih baik. Tak seperti saat disuruh menghafal
pelajaran dan matakuliah yang super duper membingungkan. Ingatanku serupa
hardisk yang mampu menampung ribuan giga file dari segala peristiwa, yang saat
ini entah kenapa bisa terputar begitu saja.
Awalnya aku tak
ingin mengingatnya, khawatir kelimpungan menampung gejolak rindu setelahnya.
Tapi dasar aku lupa, dalam ilmu Biologi dasar bukannya sudah dijelaskan betapa
romantisnya hubungan gen antara seorang Ibu dan anak. Dan hari ini, kau resmi
terkana setrum itu. Gerahamku mengeras, badanku menegang, mataku memanas. Aku
hanya ingin satu hal: Menghambur di pelukmu. Lalu menceritakan dengan lantang
tentang orang-orang yang akhir-akhir ini tugasnya melebihi seorang hantu yang
paling menyeramkan. Yang akhir-akhir ini belajar menyaingi rinduku pada
penghuni rumah ternyamanku. Tapi tak perlu ada yang perlu dikhawatirkan, hantu itu
memang manyeramkan tapi tak sedikitpun membahayakan. Dan rindu itu, memang sama
besar, tapi aku akan sadar saat menanyakan kembali pada hati dengan lebih
tenang.
Tentang Ibu;
Tak
peduli seberapa sering dia marah, saat dalam keadaan ini hanya di pangkuannya
aku ingin berkeluh kesah. Mengalirkan
air mata tanpa ada sungkannya. Melampiaskan segala kecewa dan luka bahkan
sampai tak jarang mencubitnya. Membisikkan tepat di telinganya bahwa ia aku
larang menceritakan apapun di depan ayah, dilarang memarahi, dilarang
menasihati. Pada fase pertama dia hanya boleh mendengarkan. Lalu dengan tanpa beban ia mendengarkan, sesekali
menyibak rambutku yang berantakan tak karuan, menggenggam tanganku memberi
kekuatan. Dalam posisi tetap diam.
Aku
tak pernah meragukannya dalam hal menghargai. Tapi namanya Ibu, mustahil
mengakhiri pertemuan tanpa sebuah wejangan.
Terakhir
dia akan bicara panjang lebar, yang kualitasnya terkadang melebihi isi
buku-buku di pasaran. Tak jemu ia selalu mengingatkan, agar putri kesayangnnya
tak sampai masuk jurang. Aku masih ingat, bagaimana Ibu mengajarkan tentang
hidup yang tak jarang membuat orang kehilangan akal. ‘Begitulah Hidup, tapi ada
banyak cara untuk menghadapi segala situasinya’ selalu katanya.
*Entah kenapa hari
ini aku begitu merindukannya. Rindu caranya membangunkan di pagi hari. Rindu
caranya memposisikan kepeduliannya yang selalu tepat waktu dalam situasi dan
kondisi apapun. Rindu caranya mengajak untuk tak bermalas-malasan membersihkan
rumah. Rindu segala halnya.
Bu, kau tetap akan
jadi rumah ternyaman untuk aku berpulang. Miss you so. :*
***Sst,
jangan berisik, aku malu jika harus ketahuan ayah. :D
12 Mei 2014
12 Mei 2014

0 komentar:
Posting Komentar