Selasa, 13 Mei 2014

‘Hari Aksi se-Dunia’




Ini hari spesial. Sengaja ku kemas dengan seapik mungkin untuk tak sedikitpun manyinggung makhluk-makhluk yang membacanya. Ini hari sudah terencana sejak beberapa minggu yang lalu. Mencari waktu dan kesempatan yang pas untuk menjalankan apa yang sudah nyaris melumut di kepala. Hari ini adalah ‘Hari Aksi se Dunia’. Aksi protesku pada seluruh organ paling jahat dalam dunia hidupku. Dalam aksi ini aku orator tunggal. Tanpa bantuan makhluk bernama manusia lainnya. Aku hanya iseng mengajak sahabat-sahabat lama: Otak, Hati dan Organ tubuh tercinta (Lalu aku bicara atas nama siapa? Ah, entahlah).
Pertama pada kesibukan, aku begitu ingin protes, kenapa melulu hadir dalam waktu yang menurutku kurang tepat. Memasuki zona amanku bersama teman sedekat bahuku tanpa tanya-tanya terlebih dahulu. Tapi anehnya aku diam saja. Menganggukkan kepala tanda setuju dengan bermacam program amburadulnya. Seakan menghipnotisku yang seakan mau baik-baik saja menghamba tepat di depan mukannya. Aku serasa tak punya cara untuk mengabarkannya tentang hal-hal lain yang harus kukerjakan dengan tenang tanpa harus buru-buru. Aku ingin menyelesaikannya satu-satu. Merasakan, manghayati dan menikmati. Tapi dasar si kesibukan tak punya kepala. Dia masih berbuat seperti sedia kala. Tak sadar berapa ribu kepala yang dirugikan.
Lalu pada kesibukan, kembali aku ingin memprotesnya. Atau lebih tepat memarahinya, kenapa dengan tega memangkas waktu-waktu yang pernah kita kenal dengan nama ‘Waktu kita’. Apa mungkin dia cemburu? Lalu atas dasar apa? Dia meyukaimu? Kurasa begitu. Buktinya dia begitu ingin menghabiskan waktu-waktu bersamamu. Memandangmu, melihatmu dan membersamaimu. Lalu di sini aku hanya bisa gigit jari. Membayangkan  kemesraanmu bersamanya. Apa kau baik-baik saja? Senang? Atau memang kau mengharapkannya? Aku tak bisa apa-apa, sayang. Tak bisa. Arrgh.
Kedua, pada jarak. Kenapa sih dia begitu ingin menelan kita bulat-bulat? Membisikiku untuk selalu bertanya-tanya dengan siapa kau di sana. Aku sekarang sudah tak mampu bicara apa-apa. Kuberi kesempatan orrgan tubuh lain yang mulai menggertaknya.
Otak, Hati, Kepala, Tangan, silakan! Saatnya tak merahasiakan apa yang selama ini ingin kalian nyatakan. Anggap saja si Jarak sedang menunduk tepat di depanmu. Entah malu atau menyesal. Atau barangkali tidak dua-duanya, senang mungkin. Bisa jadi. Kalian utarakan saja betapa Tangan sebegitu sebalnya saat tangan-tangan teman yang lain saling menggenggam mesra. Merangkul manja. Lalu tanganmu sendirian kan? Kasian kan? Ayo utarakan!
          Dan kamu kaki, bilang saja. Betapa kau ingin berlari memeluk saat pikiranmu sedang kacau balau. Tapi lagi-lagi karena si Jarak kau hanya bisa berteriak.
Apalagi kamu Hati, aku tak perlu basa-basi. Sebenarnya kamulah aktor dari semua ini. Aku hanya sok tau bicara atas namamu. Padahal kamu sendiri mampu menyampaikannya dengan lugas tanpa terbata-bata. Katakan saja bagaimana kamu harus membujuk mata tiap malam untuk tak menghujani pipi sepanjang malam. Bilang saja apa yang paling menyakitkan saat semuanya seperti sudah direncanakan. Ayo, aku lelah Hati, jika harus mendapati kau yanag mangalah begitu saja. Atau kau tenang saja, kali ini si Otak tak akan menghujatmu habis-habisan, Dia di pihakmu hari ini. Berbahagialah, kemudian bicaralah. Aku sudah muak dengan tingkah si jarak yang meras aman-aman saja. Seakan tanpa dosa. Huh
Terakhir mungkin, pada Otak. Aku tak pernah meragukanmu dalam hal protes, kritik bahkan marah. Silakan luapkan semuanya. Badanmu tentu lebih besar dari si keparat Jarak itu. Dia mungkin bahkan akan berlutut di depanmu. Beranikan saja Otak, dia pantas kita perlakukan demikian, bukankah dia yang selama ini menyengsarakan?
Terakhir aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Tak peduli nanti didatangi ratusan warga: Hei, Jarak. Jika kamu bisa lebih meyakinkan, aku bisa menerimamu menjadi teman yang layak pakai. Dengan catatan seluruh organ tubuhku tak satupun menggerutu apalagi menangis tak karuan. Silakan buktikan! Bahwa kau punya stu rahasia yang patut untuk kuperjuangkan!.


**Mendengarkan ‘Distance’ Katty Perri feat Jason Mraz.

0 komentar:

Posting Komentar

Selasa, 13 Mei 2014

‘Hari Aksi se-Dunia’

Diposting oleh Unknown di 11.45



Ini hari spesial. Sengaja ku kemas dengan seapik mungkin untuk tak sedikitpun manyinggung makhluk-makhluk yang membacanya. Ini hari sudah terencana sejak beberapa minggu yang lalu. Mencari waktu dan kesempatan yang pas untuk menjalankan apa yang sudah nyaris melumut di kepala. Hari ini adalah ‘Hari Aksi se Dunia’. Aksi protesku pada seluruh organ paling jahat dalam dunia hidupku. Dalam aksi ini aku orator tunggal. Tanpa bantuan makhluk bernama manusia lainnya. Aku hanya iseng mengajak sahabat-sahabat lama: Otak, Hati dan Organ tubuh tercinta (Lalu aku bicara atas nama siapa? Ah, entahlah).
Pertama pada kesibukan, aku begitu ingin protes, kenapa melulu hadir dalam waktu yang menurutku kurang tepat. Memasuki zona amanku bersama teman sedekat bahuku tanpa tanya-tanya terlebih dahulu. Tapi anehnya aku diam saja. Menganggukkan kepala tanda setuju dengan bermacam program amburadulnya. Seakan menghipnotisku yang seakan mau baik-baik saja menghamba tepat di depan mukannya. Aku serasa tak punya cara untuk mengabarkannya tentang hal-hal lain yang harus kukerjakan dengan tenang tanpa harus buru-buru. Aku ingin menyelesaikannya satu-satu. Merasakan, manghayati dan menikmati. Tapi dasar si kesibukan tak punya kepala. Dia masih berbuat seperti sedia kala. Tak sadar berapa ribu kepala yang dirugikan.
Lalu pada kesibukan, kembali aku ingin memprotesnya. Atau lebih tepat memarahinya, kenapa dengan tega memangkas waktu-waktu yang pernah kita kenal dengan nama ‘Waktu kita’. Apa mungkin dia cemburu? Lalu atas dasar apa? Dia meyukaimu? Kurasa begitu. Buktinya dia begitu ingin menghabiskan waktu-waktu bersamamu. Memandangmu, melihatmu dan membersamaimu. Lalu di sini aku hanya bisa gigit jari. Membayangkan  kemesraanmu bersamanya. Apa kau baik-baik saja? Senang? Atau memang kau mengharapkannya? Aku tak bisa apa-apa, sayang. Tak bisa. Arrgh.
Kedua, pada jarak. Kenapa sih dia begitu ingin menelan kita bulat-bulat? Membisikiku untuk selalu bertanya-tanya dengan siapa kau di sana. Aku sekarang sudah tak mampu bicara apa-apa. Kuberi kesempatan orrgan tubuh lain yang mulai menggertaknya.
Otak, Hati, Kepala, Tangan, silakan! Saatnya tak merahasiakan apa yang selama ini ingin kalian nyatakan. Anggap saja si Jarak sedang menunduk tepat di depanmu. Entah malu atau menyesal. Atau barangkali tidak dua-duanya, senang mungkin. Bisa jadi. Kalian utarakan saja betapa Tangan sebegitu sebalnya saat tangan-tangan teman yang lain saling menggenggam mesra. Merangkul manja. Lalu tanganmu sendirian kan? Kasian kan? Ayo utarakan!
          Dan kamu kaki, bilang saja. Betapa kau ingin berlari memeluk saat pikiranmu sedang kacau balau. Tapi lagi-lagi karena si Jarak kau hanya bisa berteriak.
Apalagi kamu Hati, aku tak perlu basa-basi. Sebenarnya kamulah aktor dari semua ini. Aku hanya sok tau bicara atas namamu. Padahal kamu sendiri mampu menyampaikannya dengan lugas tanpa terbata-bata. Katakan saja bagaimana kamu harus membujuk mata tiap malam untuk tak menghujani pipi sepanjang malam. Bilang saja apa yang paling menyakitkan saat semuanya seperti sudah direncanakan. Ayo, aku lelah Hati, jika harus mendapati kau yanag mangalah begitu saja. Atau kau tenang saja, kali ini si Otak tak akan menghujatmu habis-habisan, Dia di pihakmu hari ini. Berbahagialah, kemudian bicaralah. Aku sudah muak dengan tingkah si jarak yang meras aman-aman saja. Seakan tanpa dosa. Huh
Terakhir mungkin, pada Otak. Aku tak pernah meragukanmu dalam hal protes, kritik bahkan marah. Silakan luapkan semuanya. Badanmu tentu lebih besar dari si keparat Jarak itu. Dia mungkin bahkan akan berlutut di depanmu. Beranikan saja Otak, dia pantas kita perlakukan demikian, bukankah dia yang selama ini menyengsarakan?
Terakhir aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Tak peduli nanti didatangi ratusan warga: Hei, Jarak. Jika kamu bisa lebih meyakinkan, aku bisa menerimamu menjadi teman yang layak pakai. Dengan catatan seluruh organ tubuhku tak satupun menggerutu apalagi menangis tak karuan. Silakan buktikan! Bahwa kau punya stu rahasia yang patut untuk kuperjuangkan!.


**Mendengarkan ‘Distance’ Katty Perri feat Jason Mraz.

0 komentar on "‘Hari Aksi se-Dunia’"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang