Ini
hari spesial. Sengaja ku kemas dengan seapik mungkin untuk tak sedikitpun
manyinggung makhluk-makhluk yang membacanya. Ini hari sudah terencana sejak
beberapa minggu yang lalu. Mencari waktu dan kesempatan yang pas untuk
menjalankan apa yang sudah nyaris melumut di kepala. Hari ini adalah ‘Hari Aksi
se Dunia’. Aksi protesku pada seluruh organ paling jahat dalam dunia hidupku. Dalam
aksi ini aku orator tunggal. Tanpa bantuan makhluk bernama manusia lainnya. Aku
hanya iseng mengajak sahabat-sahabat lama: Otak, Hati dan Organ tubuh tercinta
(Lalu aku bicara atas nama siapa? Ah, entahlah).
Pertama
pada kesibukan, aku begitu ingin protes, kenapa melulu hadir dalam waktu yang
menurutku kurang tepat. Memasuki zona amanku bersama teman sedekat bahuku tanpa
tanya-tanya terlebih dahulu. Tapi anehnya aku diam saja. Menganggukkan kepala
tanda setuju dengan bermacam program amburadulnya. Seakan menghipnotisku yang
seakan mau baik-baik saja menghamba tepat di depan mukannya. Aku serasa tak
punya cara untuk mengabarkannya tentang hal-hal lain yang harus kukerjakan
dengan tenang tanpa harus buru-buru. Aku ingin menyelesaikannya satu-satu.
Merasakan, manghayati dan menikmati. Tapi dasar si kesibukan tak punya kepala. Dia
masih berbuat seperti sedia kala. Tak sadar berapa ribu kepala yang dirugikan.
Lalu
pada kesibukan, kembali aku ingin memprotesnya. Atau lebih tepat memarahinya,
kenapa dengan tega memangkas waktu-waktu yang pernah kita kenal dengan nama
‘Waktu kita’. Apa mungkin dia cemburu? Lalu atas dasar apa? Dia meyukaimu?
Kurasa begitu. Buktinya dia begitu ingin menghabiskan waktu-waktu bersamamu.
Memandangmu, melihatmu dan membersamaimu. Lalu di sini aku hanya bisa gigit
jari. Membayangkan kemesraanmu
bersamanya. Apa kau baik-baik saja? Senang? Atau memang kau mengharapkannya?
Aku tak bisa apa-apa, sayang. Tak bisa. Arrgh.
Kedua,
pada jarak. Kenapa sih dia begitu ingin menelan kita bulat-bulat? Membisikiku
untuk selalu bertanya-tanya dengan siapa kau di sana. Aku sekarang sudah tak
mampu bicara apa-apa. Kuberi kesempatan orrgan tubuh lain yang mulai
menggertaknya.
Otak,
Hati, Kepala, Tangan, silakan! Saatnya tak merahasiakan apa yang selama ini
ingin kalian nyatakan. Anggap saja si Jarak sedang menunduk tepat di depanmu.
Entah malu atau menyesal. Atau barangkali tidak dua-duanya, senang mungkin.
Bisa jadi. Kalian utarakan saja betapa Tangan sebegitu sebalnya saat
tangan-tangan teman yang lain saling menggenggam mesra. Merangkul manja. Lalu
tanganmu sendirian kan? Kasian kan? Ayo utarakan!
Dan kamu kaki, bilang saja. Betapa kau ingin berlari memeluk saat pikiranmu sedang kacau balau. Tapi lagi-lagi karena si Jarak kau hanya bisa berteriak.
Dan kamu kaki, bilang saja. Betapa kau ingin berlari memeluk saat pikiranmu sedang kacau balau. Tapi lagi-lagi karena si Jarak kau hanya bisa berteriak.
Apalagi
kamu Hati, aku tak perlu basa-basi. Sebenarnya kamulah aktor dari semua ini.
Aku hanya sok tau bicara atas namamu. Padahal kamu sendiri mampu menyampaikannya
dengan lugas tanpa terbata-bata. Katakan saja bagaimana kamu harus membujuk
mata tiap malam untuk tak menghujani pipi sepanjang malam. Bilang saja apa yang
paling menyakitkan saat semuanya seperti sudah direncanakan. Ayo, aku lelah
Hati, jika harus mendapati kau yanag mangalah begitu saja. Atau kau tenang
saja, kali ini si Otak tak akan menghujatmu habis-habisan, Dia di pihakmu hari
ini. Berbahagialah, kemudian bicaralah. Aku sudah muak dengan tingkah si jarak
yang meras aman-aman saja. Seakan tanpa dosa. Huh
Terakhir
mungkin, pada Otak. Aku tak pernah meragukanmu dalam hal protes, kritik bahkan
marah. Silakan luapkan semuanya. Badanmu tentu lebih besar dari si keparat
Jarak itu. Dia mungkin bahkan akan berlutut di depanmu. Beranikan saja Otak,
dia pantas kita perlakukan demikian, bukankah dia yang selama ini
menyengsarakan?
Terakhir
aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Tak peduli nanti didatangi ratusan
warga: Hei, Jarak. Jika kamu bisa lebih meyakinkan, aku bisa menerimamu menjadi
teman yang layak pakai. Dengan catatan seluruh organ tubuhku tak satupun
menggerutu apalagi menangis tak karuan. Silakan buktikan! Bahwa kau punya stu
rahasia yang patut untuk kuperjuangkan!.
**Mendengarkan ‘Distance’ Katty
Perri feat Jason Mraz.

0 komentar:
Posting Komentar