Seperti terbangun dari mimpi buruk. Segalanya tampak menyakitkan
untuk kutulis jika harus melalui proses mengingat. Terlalu tiba-tiba tapi
terlalu nyata di depan mata. Entah sejak kapan aku mau berpikir ruwet begini.
Sekali lagi ini bukan berburuk sangka atau apalah. Ini murni yang aku rasa.
Aneh? Wajar saja. Titel perempuankulah yang melawan titel lelakimu. Karena
sampai kapanpun, lelaki dan perempuan itu memang beda. Bukan begitu?
Segalanya akan terasa asing bagimu. Menganggapku terlalu
berlebihan itu sudah tugasmu barangkali. Dan tak pernah ada dalam kamusmu untuk
sedikit membahagiakan dengan cara yang berlebihan. Padahal kita punya cara tersendiri untuk berbahagia. Aku? Ya begini,
sok kuat saat seperti janda kehilangan suami. Jelas kau tak suka itu. “Berlebihan”
kau bilang.
Baiklah, tanpa basa-basi kau harus tau, entah dengan cara apa harus
sampai padamu: Sekarang kamu berubah. Tak lagi memanjakanku seperti adik
perempuanmu, seperti teman yang paling kau sayangi, seperti Ibu yang sangat
merindukanmu. Tapi siapa aku menuntut begitu? Haha. Aku memang terlalu kurang
ajar kadang.
Jika orang bilang tahun ke dua dalam sebuah pernikahan itu
bagaikan petir, aku mulai bisa mengiyakan. Bagaimana tidak? Aku sudah lebih
dari sekedar mnengalami. Meski ikatan ini tanpa suatu upacara sakral bernama pernikahan. Tapi aku
cukup tau.
Dari dulu memang aku sudah percaya bahwa kesibukan akan membuat
kita cinta kesendirian. Sebaliknya, kesendirian membuat kita sangat mengimpikan
kebersamaan. Sekarang kita benar-benar
seperti kenalan asing yang hanya saling menjaga satu sama lain. Seperti belum
mengenal. Ya, seperti baru menyebutkan nama dan alamat, belum pernah berbagi
lebih dari itu. Atau bahkan menurutku sekarang kita seperti partner organisasi
dari dua kampus yang berbeda. Cukup seperti itu. Berbagi cerita kerja dan
wacana. Ah, menyebalkan. Aku ingin lebih dari itu, tapi aku malu harus
menyampaikan padamu.
Hari-harimu sekarang sungguh sangat disibukkan dengan hal-hal
yang aku sendiri tak tau. Sekedar untuk menyapa dan tanya kabar seperti belum
ada kesempatan. Padahal dalam pikirku, mustahil dalam jangka waktu 24 jam kau
merapikan ponsel dalam saku. Lalu kemana kepedulianmu meski untuk basa-basi
yang itu menyenangkanku?
Dan saat dalam kekalutan beginipun, aku harus menyembunyikannya
serapi mungin dalam rak kosong di sudut-sudut lemari. Sebab kau tak suka.
Inginmu kita jalani dengan sederhana saja. Tapi sederhana versi siapa?
Meski menyimpan sakit ini serasa hal paling mengasyikkan. Sangat
rahasia. Kau tak perlu tau. Sedikitpun tak perlu. Aku sudah tau apa yang akan
terjadi jika berita ini sampai di telingamu. Dan aku tak mau. Aku cukup
menuliskannya. Di sini. Ruang yang tak akan pernah kamu singgahi.
Lalu aku akan dengan rela tetap terlihat baik-baik saja demi
menjadi sosok perempuan yang kamu ingini, barangkali. Lagi-lagi.
Lagipula aku ingat dengan jelas bahasa Sudjiwo Tedjo:
“Pengorbanan itu berdasarkan perhitungan. Lalu dalam sebuah perasaan, jangan
anggap itu Cinta jika masih penuh perhitungan”. So, I’ll love unconditionally
kata Katy Pery. J Tanpa Syarat. Aku bahagia dengan cara sakitku ini.
*Al. 06 Mei
2014
0 komentar:
Posting Komentar