Pagi yang entah.
Aku lupa saat itu hari apa. Yang terpenting, baru kali pertama sarapan pagi menjadi satu-satunya faktor yang membuatku terbatuk-batuk dalam waktu yang cukup lama. Bukan sakit bukan cemburu, terlampau senang barangkali. Duh Tuhan aku masih mengingat jelas, bagaimana bahagia yang keterlaluan ini bermula.
Kepada siapapun yang tak akan kuharapkan pemahamannya, aku akan bercerita. Terutama kamu, dengan syarat kau harus pura-pura tak mengerti. Begini:
"Assalamualaikum", Perempuan setengah baya di sana menyapa.
"Waalaikumussalam, salam sungkem sangking kulo nggeh", menggebu-gebu.
Itu saja yang harus kusampaikan dialognya. Meski tanpa kau tahu, di sana terdapat banyak kata yang bisa membuatmu terkekeh-kekeh sepanjang masa. Intinya aku bahagia.
Sementara percakapan terus mengalir, ada urat nadi yang terputus. Sepertinya aku cukup lama menahan nafas. Antara sesak dan bahagia, tapi sama saja: sesakpun karena bahagia yang terlalu. :D
Sementara percakapan terus mengalir, ada urat nadi yang terputus. Sepertinya aku cukup lama menahan nafas. Antara sesak dan bahagia, tapi sama saja: sesakpun karena bahagia yang terlalu. :D
Betapa tidak? Perempuan seberang itu adalah sosok yang paling kau kagumi sepanjang hidup duniamu bahkan akhiratmu. Beliau Ibumu. Right? Aku tak lagi mengigau dalam menceritakan ini kan? Aku rasa tidak. Sangat tidak. Benar Ibumu.
Setelahnya sempat kutanya. Dengan ketenanganmu, "Ibu mau tahu siapa perempuan yang sering diceritakan anaknya di setiap malamnya", jawabmu. Aku kaget wajar, bahagia juga tentu dengan sadar. Oh ya, lupa. Satu lagi. sebelum mengakhiri percakapannya denganku, ada yang kuingat: "Nak, cari perempuan itu yang bisa menerimamu dan kedua orangtuamu, itu yang selalu Ibu bilang padanya".
Beliau mayakinkan, betapa aku dan kamu sedang dalam keseriusan besar yakni tahap pembelajaran, nanti pada waktunya semua akan terjadi dengan aman-aman saja, begitu katanya.
Sungguh betapa saat itu aku menjadi satu-satunya penghuni asrama yang dengan sendirinya melompat girang, tanpa suara apalagi bahasa. Tapi kau bisa tau, sedalam apa bahagiaku saat itu.
Dan betapa Ibumu sangat keren, mampu memahamimu lebih dari yang kutahu. Juga sudi menyapa, meyakinkan dan menasihatiku. Itu lebih dari cukup. Bahkan sejak saat itu, aku mampu dengan sekejap menghilangkan setiap ragu. Saatnya nanti, diapun juga kupanggil IBU. :)
0 komentar:
Posting Komentar