Sabtu, 16 November 2013
Hujan Dalam Kardus..
Hujan.
Jika saja kebencianku sekedar tak ingin melihatnya, tentu aku akan dengan senang hati duduk-duduk manis di kotak rumahku tercinta saat langit mulai mengirimkan tanda-tanda. Mengunci rapat. Menutup semua jendela dan celah apapun yang ada.
Lalu seandai aku hanya tak ingin mendengar bunyi tikamannya, aku masih punya I-phone butut berikut dua bola head setnya untuk kubuat penutup rapat telinga. Tapi sayangnya kebencianku tak sesederhana itu, Dot. Keadaannyalah yang tak mampu menyihirku untuk kubilang suka. Mungkin pada mereka belum sempat kuceritakan, bahwa aku sedang curiga. Sebab tak ada sejarah apapun yang kuingat kenapa aku membencinya. Ya, aku curiga, ini murni sejarah simpananku sejak lahir.
Kadang sempat aku berpikir, seandai duniaku hanya sebesar kardus coklat. Mungkin aku tak pernah mengenalnya. Alih-alih duniaku basah, lecek. Tak ada yang memberitahu penyebabnya, sebab hanya aku dan kehidupanku di sana. Lalu tentang hujan, mustahil kudengar dari siapa.
Ah, seketika aku benar ingin hidup dalam kardus saja.
"Kenapa harus kardus?" temanku bertanya.
Karena Ibuku sempat cerita, tepat tujuh belas tahunan yang lalu-saat tubuhku hanya sebesar Aqua galon (lebih kecil mungkin)- Kardus satu-satunya tempat persembunyian yang kurasa paling aman saat hujan datang. Dan masih dalam posisi dalam kardus, aku meminta ayah membawaku kemana-mana, tanpa bisa melihat hujan. Astaga, aku benar-benar ingin hidup dalam kardus saja-mengingat seabrek ketenangan yang kudapat di dalamnya-.
Lalu Ibu kembali mengingatkan, tepat sepuluh tahunan lalu, aku resmi marah-marah saat mendengar akan dibelikan sebuah payung. Sebab sia-sia juga kurasa-saat itu-, aku tetap tak akan lancang mengingkari hati dan berjalan tenang-tenang saja di balik payung saat hujan. Tuhan, sebesar itukah kebencianku pada satu ciptaanmu itu? Maafkan Tuhanku sayang..
Sekarang aku sendiri yang akan mengingatkan, tepat lima menit yang lalu, Hujan yang selalu kau sebut anugerah terindahpun turun. Spontan aku kesakitan luar biasa. Sebentar kemudian ada yang menusuk kasar hidungku, lalu menampar ganas telingaku. Aku sesenggukan, Merasa kewalahan mengatur nafas yang sudah nyata tertanggal.
Lalu samar kudengar suaramu di balik pintu, "Hujan akan berhenti tepat lima menit yang akan datang sayang".
Aku bilang "Tidak, kau tak tah kapan Tuhan menghentikannya. Berdiri sajalah di luar sana, aku ketakutan".
Hening.
Baiklah Tuhan, aku tak ingin kau menghentikan hujanMu tiba-tiba. Sebab di luar sana, ribuan makhluku sedang menikmatinya. Lalu persiapkan aku sebuah kardus saja , aku ingin kembali melupakan. Meringkuk tepat di dalam kardus, dan saat basahpun, aku tak mau tau. Akan kuajak pikirku meyakinkan bahwa kardusku basah bukan karena hujan, tapi bak mandi di kamarku yang kebanjiran. Tuhanku sayang, Maafkan.
Label:
CatatAn.. ^_^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sabtu, 16 November 2013
Hujan Dalam Kardus..
Hujan.
Jika saja kebencianku sekedar tak ingin melihatnya, tentu aku akan dengan senang hati duduk-duduk manis di kotak rumahku tercinta saat langit mulai mengirimkan tanda-tanda. Mengunci rapat. Menutup semua jendela dan celah apapun yang ada.
Lalu seandai aku hanya tak ingin mendengar bunyi tikamannya, aku masih punya I-phone butut berikut dua bola head setnya untuk kubuat penutup rapat telinga. Tapi sayangnya kebencianku tak sesederhana itu, Dot. Keadaannyalah yang tak mampu menyihirku untuk kubilang suka. Mungkin pada mereka belum sempat kuceritakan, bahwa aku sedang curiga. Sebab tak ada sejarah apapun yang kuingat kenapa aku membencinya. Ya, aku curiga, ini murni sejarah simpananku sejak lahir.
Kadang sempat aku berpikir, seandai duniaku hanya sebesar kardus coklat. Mungkin aku tak pernah mengenalnya. Alih-alih duniaku basah, lecek. Tak ada yang memberitahu penyebabnya, sebab hanya aku dan kehidupanku di sana. Lalu tentang hujan, mustahil kudengar dari siapa.
Ah, seketika aku benar ingin hidup dalam kardus saja.
"Kenapa harus kardus?" temanku bertanya.
Karena Ibuku sempat cerita, tepat tujuh belas tahunan yang lalu-saat tubuhku hanya sebesar Aqua galon (lebih kecil mungkin)- Kardus satu-satunya tempat persembunyian yang kurasa paling aman saat hujan datang. Dan masih dalam posisi dalam kardus, aku meminta ayah membawaku kemana-mana, tanpa bisa melihat hujan. Astaga, aku benar-benar ingin hidup dalam kardus saja-mengingat seabrek ketenangan yang kudapat di dalamnya-.
Lalu Ibu kembali mengingatkan, tepat sepuluh tahunan lalu, aku resmi marah-marah saat mendengar akan dibelikan sebuah payung. Sebab sia-sia juga kurasa-saat itu-, aku tetap tak akan lancang mengingkari hati dan berjalan tenang-tenang saja di balik payung saat hujan. Tuhan, sebesar itukah kebencianku pada satu ciptaanmu itu? Maafkan Tuhanku sayang..
Sekarang aku sendiri yang akan mengingatkan, tepat lima menit yang lalu, Hujan yang selalu kau sebut anugerah terindahpun turun. Spontan aku kesakitan luar biasa. Sebentar kemudian ada yang menusuk kasar hidungku, lalu menampar ganas telingaku. Aku sesenggukan, Merasa kewalahan mengatur nafas yang sudah nyata tertanggal.
Lalu samar kudengar suaramu di balik pintu, "Hujan akan berhenti tepat lima menit yang akan datang sayang".
Aku bilang "Tidak, kau tak tah kapan Tuhan menghentikannya. Berdiri sajalah di luar sana, aku ketakutan".
Hening.
Baiklah Tuhan, aku tak ingin kau menghentikan hujanMu tiba-tiba. Sebab di luar sana, ribuan makhluku sedang menikmatinya. Lalu persiapkan aku sebuah kardus saja , aku ingin kembali melupakan. Meringkuk tepat di dalam kardus, dan saat basahpun, aku tak mau tau. Akan kuajak pikirku meyakinkan bahwa kardusku basah bukan karena hujan, tapi bak mandi di kamarku yang kebanjiran. Tuhanku sayang, Maafkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar