Pagi ini, mendung di kotaku. Potensi melankolispun mendadak
berhamburan. Lagu-lagu yang terdengar, terlampau memilukan. Entah karena
telinga ini cukup lama tak bisa mendengar, atau hati yang tak bisa
menerima alunan musiknya dengan jelas. Terlalu banyak yang berteriak,
sehingga semuanya cukup kabur, untuk didengar, apalagi dilihat. Di saat
seperti ini, aku ingin menyampaikan, entah dengan apa harus sampai
padamu. Pada intinya aku ingin memanggilmu dengan sebutan yang sama
sekali tak pernah terbersit di kepalaku, apalagi di kepalamu. Aku ingin
memanggilmu, lalu mengatakan sesuatu. Yang dalam proses pengucapan semua
itu, aku berani jamin aku tak bisa bernafas. Sungguh.
Begini:
Temanku
yang baik, izinkan aku untuk menemuimu sekali lagi. Sekali lagi. Kau
bebas tentukan tempat. Di stasiun kumuh, di halte pengap atau di tempat
lain yang keadaanya jauh lebih buruk sekalipun. Di sana aku ingin
memintamu sebuah tulisan, apapun. Yang jauh hari sudah kubilang untuk
kau siapkan. Lalu aku akan menerima tanpa sebuah tatapan, tanpa
jari-jari yang bersentuhan. Namun dengan degup yang kurasa lebih
menghujam.
Lalu temanku yang baik, aku ingin menemuimu
sekali lagi. Untuk menitipkan kekuatan yang dari dulu kau percayakan.
Saat ini aku sudah tidak punya kekuatan itu teman, sungguh tak ada.
Untuk tenang di malam haripun aku kesusahan. Kemampuanku sekarang hanya
bercerita, menyanyi, selebihnya berdoa.
Aku ingin menemuimu
sekali lagi teman, dengan tanpa tatap. Sebab aku khawatir, wajahmu malah
kurang ajar menginap gratis di pelupuk sampai malam suntuk. Dan itu
akan lebih menyusahkanku memahami pilihanmu.
Temanku yang baik, aku ingin menemuimu sekali lagi. Untuk meminta maaf, lancang mencintaimu berkali-kali tanpa tau malu.
Dan
terakhir, kau perlu tau teman. Keadaan seperti ini, persis seperti
terkena seratus suntikan di tempat yang keliru. Ngilu, nyeri, sakit
sembarang kalir. Tapi kau tenang saja teman, aku sudah berusaha untuk
tidak tidur sedikitpun sepanjang tahun, agar aku tak bisa bermimpi, lalu
tercenung melihat kenyataan. Tapi aku tak yakin mampu teman. Waktu saja
tak mampu mengamnesiakan.
Untuk sebuah peluk dan cium jauh, aku
ingin menemuimu sekali lagi. Lalu aku hanya butuh memeluk bantal lebih
lama dari biasanya, membaca tulisanmu tanpa ada batasnya, lalu kembali
meneriakkan 'Aku mencintaimu tanpa ada syaratnya'.
Minggu, 03 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Minggu, 03 November 2013
AKu Ingin Sekali Lagi. :)
Pagi ini, mendung di kotaku. Potensi melankolispun mendadak
berhamburan. Lagu-lagu yang terdengar, terlampau memilukan. Entah karena
telinga ini cukup lama tak bisa mendengar, atau hati yang tak bisa
menerima alunan musiknya dengan jelas. Terlalu banyak yang berteriak,
sehingga semuanya cukup kabur, untuk didengar, apalagi dilihat. Di saat
seperti ini, aku ingin menyampaikan, entah dengan apa harus sampai
padamu. Pada intinya aku ingin memanggilmu dengan sebutan yang sama
sekali tak pernah terbersit di kepalaku, apalagi di kepalamu. Aku ingin
memanggilmu, lalu mengatakan sesuatu. Yang dalam proses pengucapan semua
itu, aku berani jamin aku tak bisa bernafas. Sungguh.
Begini:
Temanku yang baik, izinkan aku untuk menemuimu sekali lagi. Sekali lagi. Kau bebas tentukan tempat. Di stasiun kumuh, di halte pengap atau di tempat lain yang keadaanya jauh lebih buruk sekalipun. Di sana aku ingin memintamu sebuah tulisan, apapun. Yang jauh hari sudah kubilang untuk kau siapkan. Lalu aku akan menerima tanpa sebuah tatapan, tanpa jari-jari yang bersentuhan. Namun dengan degup yang kurasa lebih menghujam.
Lalu temanku yang baik, aku ingin menemuimu sekali lagi. Untuk menitipkan kekuatan yang dari dulu kau percayakan. Saat ini aku sudah tidak punya kekuatan itu teman, sungguh tak ada. Untuk tenang di malam haripun aku kesusahan. Kemampuanku sekarang hanya bercerita, menyanyi, selebihnya berdoa.
Aku ingin menemuimu sekali lagi teman, dengan tanpa tatap. Sebab aku khawatir, wajahmu malah kurang ajar menginap gratis di pelupuk sampai malam suntuk. Dan itu akan lebih menyusahkanku memahami pilihanmu.
Temanku yang baik, aku ingin menemuimu sekali lagi. Untuk meminta maaf, lancang mencintaimu berkali-kali tanpa tau malu.
Dan terakhir, kau perlu tau teman. Keadaan seperti ini, persis seperti terkena seratus suntikan di tempat yang keliru. Ngilu, nyeri, sakit sembarang kalir. Tapi kau tenang saja teman, aku sudah berusaha untuk tidak tidur sedikitpun sepanjang tahun, agar aku tak bisa bermimpi, lalu tercenung melihat kenyataan. Tapi aku tak yakin mampu teman. Waktu saja tak mampu mengamnesiakan.
Untuk sebuah peluk dan cium jauh, aku ingin menemuimu sekali lagi. Lalu aku hanya butuh memeluk bantal lebih lama dari biasanya, membaca tulisanmu tanpa ada batasnya, lalu kembali meneriakkan 'Aku mencintaimu tanpa ada syaratnya'.
Begini:
Temanku yang baik, izinkan aku untuk menemuimu sekali lagi. Sekali lagi. Kau bebas tentukan tempat. Di stasiun kumuh, di halte pengap atau di tempat lain yang keadaanya jauh lebih buruk sekalipun. Di sana aku ingin memintamu sebuah tulisan, apapun. Yang jauh hari sudah kubilang untuk kau siapkan. Lalu aku akan menerima tanpa sebuah tatapan, tanpa jari-jari yang bersentuhan. Namun dengan degup yang kurasa lebih menghujam.
Lalu temanku yang baik, aku ingin menemuimu sekali lagi. Untuk menitipkan kekuatan yang dari dulu kau percayakan. Saat ini aku sudah tidak punya kekuatan itu teman, sungguh tak ada. Untuk tenang di malam haripun aku kesusahan. Kemampuanku sekarang hanya bercerita, menyanyi, selebihnya berdoa.
Aku ingin menemuimu sekali lagi teman, dengan tanpa tatap. Sebab aku khawatir, wajahmu malah kurang ajar menginap gratis di pelupuk sampai malam suntuk. Dan itu akan lebih menyusahkanku memahami pilihanmu.
Temanku yang baik, aku ingin menemuimu sekali lagi. Untuk meminta maaf, lancang mencintaimu berkali-kali tanpa tau malu.
Dan terakhir, kau perlu tau teman. Keadaan seperti ini, persis seperti terkena seratus suntikan di tempat yang keliru. Ngilu, nyeri, sakit sembarang kalir. Tapi kau tenang saja teman, aku sudah berusaha untuk tidak tidur sedikitpun sepanjang tahun, agar aku tak bisa bermimpi, lalu tercenung melihat kenyataan. Tapi aku tak yakin mampu teman. Waktu saja tak mampu mengamnesiakan.
Untuk sebuah peluk dan cium jauh, aku ingin menemuimu sekali lagi. Lalu aku hanya butuh memeluk bantal lebih lama dari biasanya, membaca tulisanmu tanpa ada batasnya, lalu kembali meneriakkan 'Aku mencintaimu tanpa ada syaratnya'.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar