Minggu, 09 Juni 2013

pEngarAng dan SecaNgkir KoPi-----





Kadang aku berharap, dapat menjadi seorang pengarang. Mengetahui apa isi hati seseorang, tanpa perlu menebak, dan…salah. Enaknya jadi pengarang, aku bisa dengan bebas menentukan, nanti mereka jadian atau pisah, atau kubuat dulu mereka menderita dalam ketidaktahuan.
                                                                        *****
Bukan begitu. Kurasa begini-

Aku terus menatap keluar dinding kaca kafe. Secangkir kopi di atas meja mulai mendingin tak disentuh. Sekali lagi aku mengembuskan napas panjang. Seharusnya aku tak kesini, seharusnya aku tak mengajakmu untuk bertemu disini, seharusnya aku tak menyetujui kau menunggu.

Mungkin inilah yang disebut pertemuan terlarang. Aku yang belum punya SIM (Surat Izin Menemui) tetapi masih saja menemuimu.Tapi aku tak bisa menyangkal bahwa hatiku bersorak gembira saat kau mengajakku bertemu. Ya. Aku merindukanmu selama ini. Dan kau tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang yang seharusnya tidak boleh dirindukan? Rasanya menyesakkan.

Ah, bukan juga begini. Terlalu cemen dan rewel. Tapi tak apalah, mari dengarkan lanjutannya-

“Hai! Sudah lama? Maaf ya tadi ada sedikit urusan mendesak.” Katanya santai sambil duduk di hadapanku.

Aku menatapmu lekat, meyakinkan diriku bahwa sosok yang saat ini dihadapanku adalah benar dirimu.  Berusaha mencocokkan wajah yang kali ini di depanku dengan beberapa foto yang sering tergeletak di mejaku..

“Hei, kau memesan kopi? Bukankah kau tidak suka kopi sama sekali?” Tanyanya heran.

“Aku hanya ingin memesannya, rasanya menyenangkan menatap secangkir kopi hitam..”Kataku sambil memainkan cangkir kopiku. “kita seperti kopi hitam dalam gelas, ia mengendap. Tak terlihat, namun ada”.
Kau tertegun menatapku.

“Masih adakah kopi dalam gelas itu sekarang?” Tanyaku.

Ehm, kurasa begitu. Cukup akan membuatku tersipu jika wajah itu benar-benar menatapku.. 

yah, begini. Kenapa aku ingin jadi pengarang. Agar aku bisa dengan bebas menjadikannya tokoh utama dalam setiap cerita-ceritaku.

Ini cerita karanganku. Entah salah atau tidak  jika kukarang begitu dan berharap menjadikannya nyata dalam kehidupan si tokoh “aku”-

0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 09 Juni 2013

pEngarAng dan SecaNgkir KoPi-----

Diposting oleh Unknown di 20.25




Kadang aku berharap, dapat menjadi seorang pengarang. Mengetahui apa isi hati seseorang, tanpa perlu menebak, dan…salah. Enaknya jadi pengarang, aku bisa dengan bebas menentukan, nanti mereka jadian atau pisah, atau kubuat dulu mereka menderita dalam ketidaktahuan.
                                                                        *****
Bukan begitu. Kurasa begini-

Aku terus menatap keluar dinding kaca kafe. Secangkir kopi di atas meja mulai mendingin tak disentuh. Sekali lagi aku mengembuskan napas panjang. Seharusnya aku tak kesini, seharusnya aku tak mengajakmu untuk bertemu disini, seharusnya aku tak menyetujui kau menunggu.

Mungkin inilah yang disebut pertemuan terlarang. Aku yang belum punya SIM (Surat Izin Menemui) tetapi masih saja menemuimu.Tapi aku tak bisa menyangkal bahwa hatiku bersorak gembira saat kau mengajakku bertemu. Ya. Aku merindukanmu selama ini. Dan kau tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang yang seharusnya tidak boleh dirindukan? Rasanya menyesakkan.

Ah, bukan juga begini. Terlalu cemen dan rewel. Tapi tak apalah, mari dengarkan lanjutannya-

“Hai! Sudah lama? Maaf ya tadi ada sedikit urusan mendesak.” Katanya santai sambil duduk di hadapanku.

Aku menatapmu lekat, meyakinkan diriku bahwa sosok yang saat ini dihadapanku adalah benar dirimu.  Berusaha mencocokkan wajah yang kali ini di depanku dengan beberapa foto yang sering tergeletak di mejaku..

“Hei, kau memesan kopi? Bukankah kau tidak suka kopi sama sekali?” Tanyanya heran.

“Aku hanya ingin memesannya, rasanya menyenangkan menatap secangkir kopi hitam..”Kataku sambil memainkan cangkir kopiku. “kita seperti kopi hitam dalam gelas, ia mengendap. Tak terlihat, namun ada”.
Kau tertegun menatapku.

“Masih adakah kopi dalam gelas itu sekarang?” Tanyaku.

Ehm, kurasa begitu. Cukup akan membuatku tersipu jika wajah itu benar-benar menatapku.. 

yah, begini. Kenapa aku ingin jadi pengarang. Agar aku bisa dengan bebas menjadikannya tokoh utama dalam setiap cerita-ceritaku.

Ini cerita karanganku. Entah salah atau tidak  jika kukarang begitu dan berharap menjadikannya nyata dalam kehidupan si tokoh “aku”-

0 komentar on "pEngarAng dan SecaNgkir KoPi-----"

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang