Layaknya sopir Bus, tak
tau kapan harus berhenti karena teriakan “stop” dari para penumpang dan kapan
tancapkan gas kembali saat bermenit-menit menunggu penuhnya kursi oleh
penumpang. Aku pun begitu, setidaknya untuk kali ini, tak tau cara memulai dan
tak mampu berhenti. Namun ada banyak hal yang berlari-lari di otakku, mengejar
kenangan yang menjadi bahan tulisan. Sebab aku sudah terlalu jumud dengan
tulisan-tulisan penuh tata cara dan kode etik. Bulshit! Semuanya kini penuh
kode etik, tak ada kepercayaan sedikitpun. Dunia kampusku saja, menyediakan
kode etik yang tak kalah banyak dengan jumlah huruf hijaiyah. Ah, aku
benar-benar jenuh dengan semua yang penuh aturan. Aku ingin sesekali menjadi
diri sendiri, dengan peraturan-peraturanku sendiri, tapi pastinya dengan Allahku.
Oh, ya.. lupa
kuperkenalkan. Aku gadis desa yang terobsesi jadi penulis. Entah sejak kapan
aku menyukai dan menekuninya. Seingatku, sejak pertama mengenal eskrim dari
orang tuaku, aku buru-buru lari ke kamar, ingin menarasikan “hore”ku pada setiap
barisnya. Aku dulu paling suka menumpuk buku catatan untuk kutulis. Dalam seminggu,
aku pasti menghasilkan tujuh tulisan. Tulisan-tulisanku ada di setiap hariku..
Dan aku paling suka mengumpulkan jenis-jenis buku harian yang designnya cantik.
Tapi itu dulu..
Semenjak memiliki seragam putih-donker
dan putih abu-abu, aku malas membeli
kertas. Merogoh kantongpun sepertinya hanya benang jahitan yang kudapat. Aku lebih suka meminjam kertas anti-kusut di
kantor OSIS atau bahkan di kantor karyawan magang calon Penulis semasa SMA
dulu.
Hal yang paling tidak
ingin kuselingkuhi adalah saat aku menutup telinga dengan earphone, mendengarkan musik nuansa Pop atau bahkan lagu-lagu daerah yang paling nenek gandrungi.
0 komentar:
Posting Komentar