Apa yang kau tahu tentang mimpi?
Sesuatu yang hadir di tengah lelap,atau yang ingin kau hadirkan setelah lelah?
Ah, persetan dengan arti kata “mimpi”.Yang ku tahu, semalam aku bermimpi, dan selalu akan menjadi mimpi.
Begini:
Hujan lebat yang telah setengah hari turun tak juga tampakkan tanda-tanda mau berhenti. Malah makin menjadi-jadi. Di luar angin menerpa. Mendesak. Semangkuk bubur kacang ijo yang panas mengepul baru saja mengisi perut. Namun tetap saja takmampu mengusir angin dingin yang menerobos masuk ke ruang tamu.
Lebih baik menyembunyikan diri dalam rumah saat hujan begini, lebih hangat kurasa.Sebab aku tak suka hujan. Meski menurut seseorang yang sedang terlelap di atasranjangku, hujan akan selalu mengabadikan setiap cerita kita tanpa bisa dilirik orang. Dia akan selalu mengajakku menulis cerita di bawah hujan. Namun sampai saat ini, belum sempat kupenuhiu permintannya..
Saat ini pikiranku seperti kuda liar yang lepas kendali. Berlari di padang rumput tak bertepi. Seperti burung camar yang terbang bebas di atas laut lepas, dilangit luas. Meraambah kemana-mana. Mengenai segala apapun. Aku sungguh merasakan kenikmatan yang lain dari biasanya. Entah..
“kreng..krang.. kreng.. krang..” suara singkup yang menggesek-gesek semen buyarkan lamunanku. Kurang ajar kupikir, di hari hujan lebat dan angin dingin yangmenusuk ini, berani menggangguku. Siapa pula yang masih berani keluar rumahuntuk berkatifitas. Aku menggerutu.
Tapi tunggu, aku seperti mengenal dua sosok yang sedang berada di ujung halam rumah.Tapi siapa? Aku terpaksa bangun dari kursi malas, memandang ke luar melaluijeruji besi jendela, berharap dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang beraktifitas di halaman rumahku..
Sekali lagi kumenyeka mata, ah, mulai kulihat samar-samar. Rupanya si Ra dan Ree.. Pasangan pemilik rumah sebelah. Ree sahabatku, dan si Ra sahabat seseorang yang masihpulas di atas ranjang. Kita berinisiatif untuk hidup bersama di negeri rantau ini. Berempat. Gila..
Tapi mereka sedang apa? Kulihat sebuah gerobak dorong berisi sampah di sampingmereka. Oh, rupanya mereka sedang bersih-bersih halaman. Bagus juga., tapidasar kau Ree, kau akan selalu menggunakan waktumu untuk apapun di bawah hujan,sebab kau suka hujan. Perbandingan seratus delapanpuluh derajat dariku.. tapiaku menyayanginya, dia sahabatku..
Sesekali kulihat Ra mengelus kepala Ree, tawa kecil hadir di tengah mereka. Aku memandang cemburu..
Tiba-tiba ada yang melingkarkan tangan di tubuhku, memelukku. Al, seseorang yang kukenal dengan sebuah ketidaksengajaan. Tapi akhirnya aku jatuhkan pilihan di dirinya.
“kau terbangun sayang?”
“kau tak pernah suka hujan, tapi mari bantu aku menulis cerita di bawah hujan, kali ini saja..” seakan paham dengan kecemburuanku pada mereka..
Aku tak punya pilihan selain mengikutinya. Membiarkan tanganku digenggamnya ke bawah hujan. Namun belum sempat lepas dari teras rumah, dia membalikkan badan,mengambil sebuah sabit di bawah meja. Mungkin dia akan menyabit rumput dihalaman, mengimbangi mereka yang memungut sampah. Lalu kembali membawakuberlari, kali ini benar di bawah hujan. Aku menghentikan langkahku,,
“Al,aku benci hujan”
Kembali tak menghiraukan ucapku, dia kembali membawaku berlari.
Kudengar Ra berteriak: “Al, kemarilah!”
Kita mendekati mereka. Keningku masih mengkerut, bibirku masih manyun,,
“Rainy,aku tak suka hujan” kembali kumerengek pada Ree.
“Hanya karena kau tak pernah mengenalnya Rainbow,,” balas Ree.
Sesaat kemudian, Ree membalikkan badan, menghadap Ra. Ra mengecup keningnya. Tersenyumsebentar. Lalu kembali memunguti sampah-sampah yang ada.
Ah,mereka bahagia kurasa.
Kulihat Al jongkok, mulai menyabit rumput yang mulai tak nyaman dipandang. Tak sampai hati membiarkannya sendirian menyabit rumput, akupun jongkok, berniat mencabut rumput dengan tanganku, sebabaku tak membawa sabit seperti yang sedang Al gunakan. Al menatapku, tersenyum.Tuhan, seketika semuanya berubah, manyun bibirku seakan tersihir menjadi sebuahsenyuman. Tanpa susah payah ku menggerakkan otot-otot di sekitar bibirku. Aku tersenyum,yes! Aku mencipta senyum, setidaknya itu sulit kulakukan di bawah hujan. Kecuali saat ini. Dan akupun sadar, ternyata bahagiaku sederhana Tuhan, cukup melihatnya tersenyum. Kali ini aku benar-benar bahagia-
Tuhan,kurasa kami berempat sedang melakukan tugas mulia. Berusaha memperbaiki satu sama lain. Bersama. Menjadikan rumah singgah kita menjadi yang terindah dari rumput tetangga. Dan kita tak cukup hanya sampai detik ini, sebab rumput dan sampattak kan pernah berhenti datang. Maka kita butuh perbaikan dan kebersamaan yang terus-menerus. Sebelum akhirnya benar-benar indah dan membuat cemburu yang melirik..
Aku menutup mata, menghadapkan muka ke langit, bentangkan kedua tangan, menarik napas dalam, marasakan kasih sayang Tuhan yang teramat. Tuhan, aku ingin berbisik: “Aku tak kan pernah suka hujan, tapi aku bisa bahagia di bawah hujan.”
Tiba-tiba kudengar Ra berteriak: “Ree………….”
Si Al pun tak mau kalah, dia ikut nimbrung: “Fa…………..”
Mereka saling pandang, tertawa.
Ree mendekatiku, tersenyum dan berkata: “Tuhan menghadirkan lelaki hebat untuk kita”
“terimakasihTuhan..” lanjutku.
Hujan masih tercurah, seakan mengerti dengan bahagia ini. Dan tak ingin semuanya menghilang bersama redanya.. Tuhan, Aku bahagia…

0 komentar:
Posting Komentar