Selasa, 21 Mei 2013

--* DARI RINDU SAMPAI MASA LALU...


 Sepertinya di luar sedang hujan. Padahal ia keras mematuk genting-genting rumahku. Entah mengapa, aku seperti tak melihat dan tak mendengar apa-apa, Selain aku dan kenanganku..
Yah, tak ada yang lebih indah dari ingatan masa lalu. Pahit sekalipun, akan terasa menggelitik dibuatnya. Menyadari kau yang dengan lancang , mengajakku ke banyak tempat tanpa seizing orang tuaku. Kau tak pernah duduk resmi di depan ayahku untuk halal menyayangiku. Kau malah mengajakku sembunyi bermain rindu, lalu kau akan membawaku pergi ke tempat yang kau tuju..
Sebuah tempat yang sama sekali belum pernah kumengunjunginya. Namanya pun terasa asing di telinga. Gubuk Asmara kau bilang. Sebuah tempat pertama yang mengenalkan kita. Kau juga yang mengajakku ke sana. Masih tertata rapi dalam ingatan, bagaimana pertama kau mengajakku duduk di sebuah bangku tua.pandangi bulan di kitaran bintang-bintang. Diskusi kecil yang menghangatkan awali perkenalan kita. Hingga akhirnya kau berkata “suasana langit tak kan seindah mala mini tanpa salah satu diantara keduanya”.
Malam-malam selanjutnya, kau kembali berdiri di depan rumahku. Kau selalu tau kapan ayahku tak lagi di rumah, menjagaku. Maka saat itu kau akan membawa ke tempat baru yang kau bilang tempat rahasia. Malam itu, ku kembali mengikutimu, sebuah ruang hampa udara. Namun penuh keindahan di dalamnya. Menyesakkan. Tak ada yang bias kulihat dalam ruangan itu selain kau dan keindahan-keindahan di sekelilingmu. Tapi sungguh aku tak bias bernafas di ruang itu. Auditorium Rindu kau bilang.
“Fa, pintunya belum kau kunci saying..”, ucap ibuku, melongo dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Sebentar kemudian ia berlalu pergi. Ah ibu, kau hentikan ingatanku tentangnya. Tapi tak apalah, kuberdiri untuk mengunci kamarku. Karena malam memang sangatlah larut. Mari kembali kubawa ingatan tentangmu..
Di malam perayaan ULTAHku, 4 tahun setelah kita dipertemukan waktu. Kau tak kunjung kulihat sampai 4 jam seusai acaraku. Acara sakralpun kulalui tanpamu. Mungkin kau cukup dengan alas an kuat untuk tak dating memberiku semangat dan selamat. Namun tiba-tiba, saat kumenangis di serambi rumahku, kau dating, tergopoh-gopoh meraih tanganku. Akupun mengikutimu, barangkali kau mau menunjukkan alas an kenapa kau tak dating pada saat acara bahagiaku tadi. Malam itu kau membawaku ke sebuah hutan,kau menyebutnya Hutan Luka dan Kecewa. Kuakui itu pengalaman pertama yang kualami. Pepohonan di sana tampak berduri dan di bawahnya tampak bertaburan pecahan beling. Kakiku cukup banyak mengeluarkan darah. Aku mengerang kesakitan. Akupun kembali dalam tangis. Tapi kau sama sekali tak menghiraukanku. Bahkan saat itu dengan mudahnya kau membalikkan badan, menjauhiku. Aku sendiri di hutan itu. Merasakan sakit, takut dan kecewa. Sungguh kau laki-laki biadab.
Dengan langkah gontai, aku kembali pulang, sungguh ini tak adil bagiku. Ibuku saja yang menurutku paling sering memarahiku, tak pernah menenggelamkanku dalam tangis seperti ini. Ini lebih sulit kujalani, menyadari kau adalah mimpi dalam tidur panjang pengharapanku.
“Sayang.. kau tidak tidur semalaman Nak,,”, ucap Ibu dari balik jendela yang belum kututup tirainya,. Astaga, rupanya ini sudah pagi. Mentaripun tak lagi sembunyi-sembunyi.
“Ah, aku tidak apa-apa Bu..”, ucapku sekenanya. Tuhan, rupanya semalaman aku hanya duduk termangu mengenangnya. Mungkin aku lupa, terbuai ingatan tentangnya. Hingga detik ini baru kusadarai, kembali kau mengajakku ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah juga kukunjungi. Sebuah tempat yang terpampang foto-foto kita, diskusi kita dan semua tentang kita. Yah, tempat ini Ruang Kenangan. Huh, aku mencoba merakit senyum, berusaha berterimakasih telah kau kenalkan pada tempat-tempat baru yang tentunya memiliki ruang tersendiri di ruang hatiku.
kuguyur tubuh ini dengan air. Pening. Hingga aku lupa, tak mengingat apa-apa, selain kau, berikut kenangan..

Senin, 20 Mei 2013

INI BUKAN LELUCON SAYANG…!



Nufa La’la’

            Jangan ragukan kesanggupanku untuk bertahan. Sebab aku paham betul apa itu pilihan.memilih senyum, sapa dan salammu tentu menjadi tuntutan bagiku. Lantas kenapa harus kecewa saat menunggu?. Kalau tak paham tentang rindu, jangan coba-coba menunggu. Pikiran akan kacauberkecamuk. Nafsu pun seakan membuana. Dan itu yang dielu-elukan sebagai rindu. Padahal rindu akan mampu bertahan dengan posisi bibir melengkung, serupa pelangi terbalik..
            Ya, kali ini aku memilih rindu, dan bertahan menunggu. Padahal bukan rangfkaian bunga yang  akan kuterima, bukan pula cokelat Fry yang akan kudapatkan. Sebab menurutmu, kotamu jauh dari kotaku. Entah yang sebenarnya.. yang jelas, aku merindumu yang tak pernah kutahu wajahmu. Tapi sungguh itu sangat mengokohkanku. Dan cukup membuatku berdiri tegak tak berarah. Itu karenamu..
            Perempuan mana yang berani mengkultuskan rindu pada sosok lelaki yang belum ia tahu. Mungkin hanya aku yang berani bertaruh. Oh, aku lupa.. aku punya sahabat. Diapun sedang bermain rindu bersama lelaki yang tak pernah dikenalnya. Tapi dia begitu yakin akan pilihannya, akna mengantarnya menuju rumah bahagia nantinya. Layaknya sang sahabat, akupun begitu. Sangat yakin dengan pilihan ini, yakin kau memiliki cinta untukku.. semoga!
            Entah ini apa namanya, perjanjian tak bersejarah kukira. Dengan serempaknya, aku dan sahabatku memilih rindu untuk kita persembahkan pada sosok yang tabu. Perempuan lainnya mana mau bercinta lintas kota.. ah, semisal lelucon dalam dongeng-dongeng terdahulu.. tapi ini duniaku, pun begitu ungkap sahabatku..
            Seperti apakah kamu, aku tak peduli. Terlalu bodoh bagiku menanyakan hal-hal serupa. Memangnya hatiku mau kukorbankan untuk rupa? Tentu tidak,, Siapa sangka tokoh-tokoh amoral negeri ini diperankan oleh pemain-pemain tak buruk rupa. Lalu mungkinkah itu semua ditukar dengan hati? Sekali lagi tidak. Hati harus dibalas dengan hati. Itulah sebabnya aku menjatuhkan pilihan di KAMU. Sebab hatiku tau hatimu, pun sebaliknya.
            Ta’aruf hati itu sudah cukup bagiku. Sebagai awal membentuk senyum di persimpangan jalan buntu. Dan pada akhirnya kisah ini tak akan konyol,meski hanya berawal dari kenekatanku. Kisah ini akan indah pada waktunya. Di saat mereka anggap ini cerita konyol atau bahkan berdecak kagum dengan bahagia yang kita sulam di balik kekonyolan. Padahal ini bukan sekedar lelucon sayang.. Kata indah akan ada di hadapan jodoh masing-masing, percayalah!

*jangan mau merugi dengan menilai rupa melalui kedalaman hati..  

Minggu, 19 Mei 2013

Catatan Tentangmu



SEBASAH HUJAN PERTAMA
Nufa La’la’



Tak peduli berapa lembar buku yang memuat tentangmu. Selalu ada yang ingin kuceritakan, bahkan setiap sendi waktumu. Atau mungkin aku yang terlalu cerewet, menarasikanmu dalam setiap tulisan-tulisanku. Yang entah punya nilai berapa jika kuikutkan lomba mengarang. Karena saat menuliskanmu, aku melupakan semua teknis menulis yang pernah kupelajari saat karantina kepenulisan semasa SMA dulu. Yang penting  happy fun dengan pena dan kertasku, tentunya itu tentangmu.
            Yang kutulispun sangat sederhana. Sesederhana tulisan bocah SD yang meloncat kegirangan saat mendapatkan hadiah dari guru Matematikanya. Lalu dia akan menulisakan perasaan “hore”nya di cover belakang buku Matematikanya.
            “hore, hari ini aku mendapatkan cokelat dari Bu Guru karena aku berhasil memecahkan soal yang ia berikan tadi..”, ucapnya girang.
            Yah, sesederhana itu tulisanku tentangmu, sekedar menarisakan rasa “asyik”ku karena Tuhan pertemukanku denganmu. Sederhana bukan? Tapi entah, ketika membacanya, aku baru menyadari, bahwa perasaanku tak sesederhana tulisanku. Bahwa perasaanku benar-benar memilihmu, tak peduli apapun kamu.
            Sekali lagi, ini tentang kamu. Seseorang yang kukenal hanya berawal dari rentetan-rentetan kalimat panjang di setiap mimpiku. Kau benar-benar berawal dari mimpi, mimpi menjadi seorang Putri Rapunzel yang begitu diharapkan oleh si Pangeran berkuda putih.. sebuah mimpi saat suatu malam kuterlelap dalam kantuk. Sebab seharian aku kelelahan diburu mantanku, mantan pacar SMPku dulu. Bias dibayangkan bagaimana dulu aku bermain rindu dengannya, semuanya serba main-main. Tapi tiba-tiba dia muncul di angka 18-ku, aneh bukan? Mengajakku kembali, padahal “dia sudah tak sendiri” berikut kata teman karibnya.
            Ah, mungkinkah ia mau main-main denganku. Meremehkanku dan anggap aku perempuan lemah yang tak mampu berdiri tanpanya.. ah, sungguh kurang ajar.  Hari itu kulepaskan penatku di bawah hujan, karena aku benci hujan. Aku luapkan amarahku pada setiap rintiknya. Hingga malam tiba, aku tak merasakan apa-apa. Dan itu malam pertama aku berkisah tentangmu..
            Mimpi itu:
            Aku berada di sebuah lorong tua dengan bangunan-bangunan kuno di kiri-kanannya. Sembari penuh tulisan dan goresan di setiap dindingnya. Kalimatnya pun aneh bagiku, tak hanya kalimat pendek, serupa paragraflah isinya,, mungkin ini bekas kota seorang penulis dari kalangan rakyat jelata. Sehingga untuk sebuah pen dan kertaspun ia tak mampu. Mungkin..
            Ada sebuah tulisan yang cukup menarik perhatianku, kalimatnya begini:
            Temanku bilang: Kita harus menunggu 6 bulan lamanya, demi tetesan gerimis sore ini yang tak seberapa. Aku tak begitu pedulikan suaranya,karena sore ini terlalu indah untuk kuselingkuhi dengannya. Bagiku, sore esok atau lusa aku bias memintanya mengulang kembali perkataannya barusan. Yah, kali ini aku lebih memilih gerimis pertama setelah lama mencumbu gersang yang sejajar kegersanganku..dan kau, sekarang 6 bulanmu telah berakhir.. percaya!”
            Begitulah kalimat yang menyita perhatianku, apalagi kalimat terakhir, siapa yang  dimaksud “kau” dalam tulisan itu? Mungkinkah aku? Tapi manamungkin? Ah, sudahlah, aku tak mengerti. Kuteruskan menyusuri koridor di sepanjang jalanan tua itu sambil menerka-nerka apa maksud dari tulisan seorang penulis yang  kukira bukan penulis biasa, aku menemukan ruh di dalamnya. Tiba-tiba, seperti ada sekelebat bayangan sosok berkuda di belakangku,, spontan aku meloncat girang sembari bilang “hore………………..” berkali-kali  kuucapkan kata itu, hingga aku merasakan tubuhku dingin, seperti di bawah hujan, tapi mala mini langit tak berawan, pikirku.. kontan kubuka mata, astaga, trnyata ayah mengguyurku dengan seember air karena aku tak mau bangun sedari tadi, menurtnya. Ah ayah, kau tak selembut Ibu saat membangunkanku..
            Kusempatkan melihat jam di layar hapeku. Astaga, sudah jam 08.00 pagi.  Kuptuskan untuk mandi, Eits, tunggu, ada satu pesan masuk. Tak peduli dengan mata yang masih silau dengan cahaya LCDnya, kubuka pesan itu. Dari Rie.. “Bagaimana jika aku suka?” uh,, kukucek-kucek mataku. Menatap layar kembali, berharap hanya mataku yang barusan ngawur. Kulihat sekali lagi, Tuhan, kalimat itu benar-benar seperti yang kulihat pertama kali, tak ada yang berubah. Lalu apa maksudnya? Rie? Lelaki pemilik suara baritone yang kukenal sebulan yang lalu. Lelaki yang merelakan dirinya kupanggil abang, karena dia tahu aku terlahir yang tertua. Lantas apamaksudnya dengan smsnya barusan? Rie suka siapa?
            Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan menekan tombol “replay” dan kutulis sebuah balasan untuknya, sebuah kalimat tanya “Abang suka siapa?”. Aku berniat untuk tak menunggu balasan darinya, ku letakkan hapeku di atas bantal tidur, namun belum beranjak mataku dari layar hape, satu pesan baru muncul. “Abang suka kamu sayang..”. ah, tidak  mungkin. Selama ini aku biarkan diriku bermanja-manja di depannya, tak mungkin tiba-tiba dia suka.. Ah Rie, secepat itu kau tawarkan permainanmu?
            Tapi sudahlah, lupakan sejarah terbentuknya kisah ini. Yang pasti, aku benar-benar bersamamu Rie. Kini aku tahu, maksud dari tulisan di mimpiki malam itu. Kemarau harus menunggu 6 bulan lamanya untuk setetes gerimis yang tak seberapa. Jadi butuh waktu lama dalam menunggu. Akupun menyadari, cukup lama aku sendiri. Dan tak percaya dengan siapapun yang menghampiri. Baru kali ini, saat aku melepas seragam putih abu-abuku, keinginan bermain rindu pun kumiliki. Dan kali ini benar-benar punya ruh. Entah mengapa..
            Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan aku berbisik: “Rie, kau tetes hujan pertama dalam penantian panjangku yang kemarau..”.
***      ***
Dan ini tulisan tentagmu, yang kutulis sepenuh hati, penuh emosi, rindu, saying dan rasa apapun itu. Aku selalu berkecamuk tiap kali menceritakanmu pada setiap diary-diaryku. Tapi tahukah? Aku tak sesederhana tulisan ini memandangmu. Aku tak sejelek ini memahamimu. Bagiku, kau tak mudah disederhanakan. Meski kutahu bahagia itu sederhana, cukup tersenyum memandangmu saat kau pun tersenyum. Sungguh indah kukira, tapi kapan? Ah… lupakan!

The End

Jumat, 17 Mei 2013

,, Some One's Watching Over Me

Found myself today
Oh I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had
All I know is you're not here to say
What you always used to say
But it's written in the sky tonight

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me
Seen that ray of light
And it's shining on my destiny
Shining all the time
And I wont be afraid
To follow everywhere it's taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
lyricsalls.blogspot.com
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me
It doesn't matter what people say
And it doesn't matter how long it takes
Believe in yourself and you'll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even when it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That someone's watching over
Someone's watching over
Someone's watching over me
Someone's watching over me

--> Ajari Aku Berpuisi """

Bukankah engkau
bertahajud di guguran bintang-bintang
Langit malampun luruh tinggalkan hujan
Menyaksikan rumput di sore tumbang


Bukankah engkau yang menari
meski waktu tak lagi satu
Bercampur  bait syahdu
Di hujan malam yang mengkultuskan rindu

Bukankan engkau
yang terus mengeja
pada setia kata-kata
Di lorong-lorong kalimat panjang yang menua


Lalu aku
yang diam-diam termangu di balik datar cermin ini
Menggantung pena-pena runcing, tak kunjung kering
Apalagi kakiku sedang lumpuh
Merangkak, menuju tebing biru
Menerawang, berkejaran dengan kepulan asap pekat
Gelap.

Menyadari, kembali kugagal melukis tabu
tak sekuat kau menarik bait di puncak cakrawala, menjadi indah di atas riak ombak beludru
Ajari aku mengukir bisu, berpuisi meski pilu..

                                                                    -Pilar Harapan, 2013-

Sepanjang Kemarau Menanti Hujan..

Untunglah siang ini mentari tak begitu ganas menyengatku, hingga aku leluasa mengitari koridor sepanjang jalanan tua ini. aAku tak peduli di bawah gerimis, hanya ingin membawa lari luka kecil yang sempat ku dapat tadi. Tak kuhiraukan lollipop yang sedang kupegang, menipis bersama gerimis. mengecil, hingga sebuah karet panjang yang kunikmati. ah, ini serasa tak senikmat lollipop yang biasa kubeli di warung pojok deket kampusku, ini seperti.. astaga! yang sedang kunikmati hanya sebuah gagang permen,, tapi sudahlah, lupakan tentang lollipop, mari kubawa kembali tentang luka kecil yang buatku berhenti saat berlari. 

                                             ***           ***           ***           ***
-bersambung di sudut hati-

Senin, 25 Maret 2013

30 Desember 2012
Lupakan tangisku
bila esok kau jumpai asaku yang membuncah
sebab kemarin
aku tak selesai merangkum bahasa, sebelum tangisku pecah
kemudian sampaikan padanya
tentangku yang memancing senyum dengan tangis
bisakah ia maknai sesuai sandi
yang dulu pernah kita pelajari
mungkin ini detik terakhir
sebelum Azrail naik ke puncak gunung itu
tuk kabarkan pda ...

Selasa, 21 Mei 2013

--* DARI RINDU SAMPAI MASA LALU...

Diposting oleh Unknown di 21.10 0 komentar

 Sepertinya di luar sedang hujan. Padahal ia keras mematuk genting-genting rumahku. Entah mengapa, aku seperti tak melihat dan tak mendengar apa-apa, Selain aku dan kenanganku..
Yah, tak ada yang lebih indah dari ingatan masa lalu. Pahit sekalipun, akan terasa menggelitik dibuatnya. Menyadari kau yang dengan lancang , mengajakku ke banyak tempat tanpa seizing orang tuaku. Kau tak pernah duduk resmi di depan ayahku untuk halal menyayangiku. Kau malah mengajakku sembunyi bermain rindu, lalu kau akan membawaku pergi ke tempat yang kau tuju..
Sebuah tempat yang sama sekali belum pernah kumengunjunginya. Namanya pun terasa asing di telinga. Gubuk Asmara kau bilang. Sebuah tempat pertama yang mengenalkan kita. Kau juga yang mengajakku ke sana. Masih tertata rapi dalam ingatan, bagaimana pertama kau mengajakku duduk di sebuah bangku tua.pandangi bulan di kitaran bintang-bintang. Diskusi kecil yang menghangatkan awali perkenalan kita. Hingga akhirnya kau berkata “suasana langit tak kan seindah mala mini tanpa salah satu diantara keduanya”.
Malam-malam selanjutnya, kau kembali berdiri di depan rumahku. Kau selalu tau kapan ayahku tak lagi di rumah, menjagaku. Maka saat itu kau akan membawa ke tempat baru yang kau bilang tempat rahasia. Malam itu, ku kembali mengikutimu, sebuah ruang hampa udara. Namun penuh keindahan di dalamnya. Menyesakkan. Tak ada yang bias kulihat dalam ruangan itu selain kau dan keindahan-keindahan di sekelilingmu. Tapi sungguh aku tak bias bernafas di ruang itu. Auditorium Rindu kau bilang.
“Fa, pintunya belum kau kunci saying..”, ucap ibuku, melongo dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Sebentar kemudian ia berlalu pergi. Ah ibu, kau hentikan ingatanku tentangnya. Tapi tak apalah, kuberdiri untuk mengunci kamarku. Karena malam memang sangatlah larut. Mari kembali kubawa ingatan tentangmu..
Di malam perayaan ULTAHku, 4 tahun setelah kita dipertemukan waktu. Kau tak kunjung kulihat sampai 4 jam seusai acaraku. Acara sakralpun kulalui tanpamu. Mungkin kau cukup dengan alas an kuat untuk tak dating memberiku semangat dan selamat. Namun tiba-tiba, saat kumenangis di serambi rumahku, kau dating, tergopoh-gopoh meraih tanganku. Akupun mengikutimu, barangkali kau mau menunjukkan alas an kenapa kau tak dating pada saat acara bahagiaku tadi. Malam itu kau membawaku ke sebuah hutan,kau menyebutnya Hutan Luka dan Kecewa. Kuakui itu pengalaman pertama yang kualami. Pepohonan di sana tampak berduri dan di bawahnya tampak bertaburan pecahan beling. Kakiku cukup banyak mengeluarkan darah. Aku mengerang kesakitan. Akupun kembali dalam tangis. Tapi kau sama sekali tak menghiraukanku. Bahkan saat itu dengan mudahnya kau membalikkan badan, menjauhiku. Aku sendiri di hutan itu. Merasakan sakit, takut dan kecewa. Sungguh kau laki-laki biadab.
Dengan langkah gontai, aku kembali pulang, sungguh ini tak adil bagiku. Ibuku saja yang menurutku paling sering memarahiku, tak pernah menenggelamkanku dalam tangis seperti ini. Ini lebih sulit kujalani, menyadari kau adalah mimpi dalam tidur panjang pengharapanku.
“Sayang.. kau tidak tidur semalaman Nak,,”, ucap Ibu dari balik jendela yang belum kututup tirainya,. Astaga, rupanya ini sudah pagi. Mentaripun tak lagi sembunyi-sembunyi.
“Ah, aku tidak apa-apa Bu..”, ucapku sekenanya. Tuhan, rupanya semalaman aku hanya duduk termangu mengenangnya. Mungkin aku lupa, terbuai ingatan tentangnya. Hingga detik ini baru kusadarai, kembali kau mengajakku ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah juga kukunjungi. Sebuah tempat yang terpampang foto-foto kita, diskusi kita dan semua tentang kita. Yah, tempat ini Ruang Kenangan. Huh, aku mencoba merakit senyum, berusaha berterimakasih telah kau kenalkan pada tempat-tempat baru yang tentunya memiliki ruang tersendiri di ruang hatiku.
kuguyur tubuh ini dengan air. Pening. Hingga aku lupa, tak mengingat apa-apa, selain kau, berikut kenangan..

Senin, 20 Mei 2013

INI BUKAN LELUCON SAYANG…!

Diposting oleh Unknown di 02.11 0 komentar


Nufa La’la’

            Jangan ragukan kesanggupanku untuk bertahan. Sebab aku paham betul apa itu pilihan.memilih senyum, sapa dan salammu tentu menjadi tuntutan bagiku. Lantas kenapa harus kecewa saat menunggu?. Kalau tak paham tentang rindu, jangan coba-coba menunggu. Pikiran akan kacauberkecamuk. Nafsu pun seakan membuana. Dan itu yang dielu-elukan sebagai rindu. Padahal rindu akan mampu bertahan dengan posisi bibir melengkung, serupa pelangi terbalik..
            Ya, kali ini aku memilih rindu, dan bertahan menunggu. Padahal bukan rangfkaian bunga yang  akan kuterima, bukan pula cokelat Fry yang akan kudapatkan. Sebab menurutmu, kotamu jauh dari kotaku. Entah yang sebenarnya.. yang jelas, aku merindumu yang tak pernah kutahu wajahmu. Tapi sungguh itu sangat mengokohkanku. Dan cukup membuatku berdiri tegak tak berarah. Itu karenamu..
            Perempuan mana yang berani mengkultuskan rindu pada sosok lelaki yang belum ia tahu. Mungkin hanya aku yang berani bertaruh. Oh, aku lupa.. aku punya sahabat. Diapun sedang bermain rindu bersama lelaki yang tak pernah dikenalnya. Tapi dia begitu yakin akan pilihannya, akna mengantarnya menuju rumah bahagia nantinya. Layaknya sang sahabat, akupun begitu. Sangat yakin dengan pilihan ini, yakin kau memiliki cinta untukku.. semoga!
            Entah ini apa namanya, perjanjian tak bersejarah kukira. Dengan serempaknya, aku dan sahabatku memilih rindu untuk kita persembahkan pada sosok yang tabu. Perempuan lainnya mana mau bercinta lintas kota.. ah, semisal lelucon dalam dongeng-dongeng terdahulu.. tapi ini duniaku, pun begitu ungkap sahabatku..
            Seperti apakah kamu, aku tak peduli. Terlalu bodoh bagiku menanyakan hal-hal serupa. Memangnya hatiku mau kukorbankan untuk rupa? Tentu tidak,, Siapa sangka tokoh-tokoh amoral negeri ini diperankan oleh pemain-pemain tak buruk rupa. Lalu mungkinkah itu semua ditukar dengan hati? Sekali lagi tidak. Hati harus dibalas dengan hati. Itulah sebabnya aku menjatuhkan pilihan di KAMU. Sebab hatiku tau hatimu, pun sebaliknya.
            Ta’aruf hati itu sudah cukup bagiku. Sebagai awal membentuk senyum di persimpangan jalan buntu. Dan pada akhirnya kisah ini tak akan konyol,meski hanya berawal dari kenekatanku. Kisah ini akan indah pada waktunya. Di saat mereka anggap ini cerita konyol atau bahkan berdecak kagum dengan bahagia yang kita sulam di balik kekonyolan. Padahal ini bukan sekedar lelucon sayang.. Kata indah akan ada di hadapan jodoh masing-masing, percayalah!

*jangan mau merugi dengan menilai rupa melalui kedalaman hati..  

Minggu, 19 Mei 2013

Catatan Tentangmu

Diposting oleh Unknown di 23.54 0 komentar


SEBASAH HUJAN PERTAMA
Nufa La’la’



Tak peduli berapa lembar buku yang memuat tentangmu. Selalu ada yang ingin kuceritakan, bahkan setiap sendi waktumu. Atau mungkin aku yang terlalu cerewet, menarasikanmu dalam setiap tulisan-tulisanku. Yang entah punya nilai berapa jika kuikutkan lomba mengarang. Karena saat menuliskanmu, aku melupakan semua teknis menulis yang pernah kupelajari saat karantina kepenulisan semasa SMA dulu. Yang penting  happy fun dengan pena dan kertasku, tentunya itu tentangmu.
            Yang kutulispun sangat sederhana. Sesederhana tulisan bocah SD yang meloncat kegirangan saat mendapatkan hadiah dari guru Matematikanya. Lalu dia akan menulisakan perasaan “hore”nya di cover belakang buku Matematikanya.
            “hore, hari ini aku mendapatkan cokelat dari Bu Guru karena aku berhasil memecahkan soal yang ia berikan tadi..”, ucapnya girang.
            Yah, sesederhana itu tulisanku tentangmu, sekedar menarisakan rasa “asyik”ku karena Tuhan pertemukanku denganmu. Sederhana bukan? Tapi entah, ketika membacanya, aku baru menyadari, bahwa perasaanku tak sesederhana tulisanku. Bahwa perasaanku benar-benar memilihmu, tak peduli apapun kamu.
            Sekali lagi, ini tentang kamu. Seseorang yang kukenal hanya berawal dari rentetan-rentetan kalimat panjang di setiap mimpiku. Kau benar-benar berawal dari mimpi, mimpi menjadi seorang Putri Rapunzel yang begitu diharapkan oleh si Pangeran berkuda putih.. sebuah mimpi saat suatu malam kuterlelap dalam kantuk. Sebab seharian aku kelelahan diburu mantanku, mantan pacar SMPku dulu. Bias dibayangkan bagaimana dulu aku bermain rindu dengannya, semuanya serba main-main. Tapi tiba-tiba dia muncul di angka 18-ku, aneh bukan? Mengajakku kembali, padahal “dia sudah tak sendiri” berikut kata teman karibnya.
            Ah, mungkinkah ia mau main-main denganku. Meremehkanku dan anggap aku perempuan lemah yang tak mampu berdiri tanpanya.. ah, sungguh kurang ajar.  Hari itu kulepaskan penatku di bawah hujan, karena aku benci hujan. Aku luapkan amarahku pada setiap rintiknya. Hingga malam tiba, aku tak merasakan apa-apa. Dan itu malam pertama aku berkisah tentangmu..
            Mimpi itu:
            Aku berada di sebuah lorong tua dengan bangunan-bangunan kuno di kiri-kanannya. Sembari penuh tulisan dan goresan di setiap dindingnya. Kalimatnya pun aneh bagiku, tak hanya kalimat pendek, serupa paragraflah isinya,, mungkin ini bekas kota seorang penulis dari kalangan rakyat jelata. Sehingga untuk sebuah pen dan kertaspun ia tak mampu. Mungkin..
            Ada sebuah tulisan yang cukup menarik perhatianku, kalimatnya begini:
            Temanku bilang: Kita harus menunggu 6 bulan lamanya, demi tetesan gerimis sore ini yang tak seberapa. Aku tak begitu pedulikan suaranya,karena sore ini terlalu indah untuk kuselingkuhi dengannya. Bagiku, sore esok atau lusa aku bias memintanya mengulang kembali perkataannya barusan. Yah, kali ini aku lebih memilih gerimis pertama setelah lama mencumbu gersang yang sejajar kegersanganku..dan kau, sekarang 6 bulanmu telah berakhir.. percaya!”
            Begitulah kalimat yang menyita perhatianku, apalagi kalimat terakhir, siapa yang  dimaksud “kau” dalam tulisan itu? Mungkinkah aku? Tapi manamungkin? Ah, sudahlah, aku tak mengerti. Kuteruskan menyusuri koridor di sepanjang jalanan tua itu sambil menerka-nerka apa maksud dari tulisan seorang penulis yang  kukira bukan penulis biasa, aku menemukan ruh di dalamnya. Tiba-tiba, seperti ada sekelebat bayangan sosok berkuda di belakangku,, spontan aku meloncat girang sembari bilang “hore………………..” berkali-kali  kuucapkan kata itu, hingga aku merasakan tubuhku dingin, seperti di bawah hujan, tapi mala mini langit tak berawan, pikirku.. kontan kubuka mata, astaga, trnyata ayah mengguyurku dengan seember air karena aku tak mau bangun sedari tadi, menurtnya. Ah ayah, kau tak selembut Ibu saat membangunkanku..
            Kusempatkan melihat jam di layar hapeku. Astaga, sudah jam 08.00 pagi.  Kuptuskan untuk mandi, Eits, tunggu, ada satu pesan masuk. Tak peduli dengan mata yang masih silau dengan cahaya LCDnya, kubuka pesan itu. Dari Rie.. “Bagaimana jika aku suka?” uh,, kukucek-kucek mataku. Menatap layar kembali, berharap hanya mataku yang barusan ngawur. Kulihat sekali lagi, Tuhan, kalimat itu benar-benar seperti yang kulihat pertama kali, tak ada yang berubah. Lalu apa maksudnya? Rie? Lelaki pemilik suara baritone yang kukenal sebulan yang lalu. Lelaki yang merelakan dirinya kupanggil abang, karena dia tahu aku terlahir yang tertua. Lantas apamaksudnya dengan smsnya barusan? Rie suka siapa?
            Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan menekan tombol “replay” dan kutulis sebuah balasan untuknya, sebuah kalimat tanya “Abang suka siapa?”. Aku berniat untuk tak menunggu balasan darinya, ku letakkan hapeku di atas bantal tidur, namun belum beranjak mataku dari layar hape, satu pesan baru muncul. “Abang suka kamu sayang..”. ah, tidak  mungkin. Selama ini aku biarkan diriku bermanja-manja di depannya, tak mungkin tiba-tiba dia suka.. Ah Rie, secepat itu kau tawarkan permainanmu?
            Tapi sudahlah, lupakan sejarah terbentuknya kisah ini. Yang pasti, aku benar-benar bersamamu Rie. Kini aku tahu, maksud dari tulisan di mimpiki malam itu. Kemarau harus menunggu 6 bulan lamanya untuk setetes gerimis yang tak seberapa. Jadi butuh waktu lama dalam menunggu. Akupun menyadari, cukup lama aku sendiri. Dan tak percaya dengan siapapun yang menghampiri. Baru kali ini, saat aku melepas seragam putih abu-abuku, keinginan bermain rindu pun kumiliki. Dan kali ini benar-benar punya ruh. Entah mengapa..
            Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan aku berbisik: “Rie, kau tetes hujan pertama dalam penantian panjangku yang kemarau..”.
***      ***
Dan ini tulisan tentagmu, yang kutulis sepenuh hati, penuh emosi, rindu, saying dan rasa apapun itu. Aku selalu berkecamuk tiap kali menceritakanmu pada setiap diary-diaryku. Tapi tahukah? Aku tak sesederhana tulisan ini memandangmu. Aku tak sejelek ini memahamimu. Bagiku, kau tak mudah disederhanakan. Meski kutahu bahagia itu sederhana, cukup tersenyum memandangmu saat kau pun tersenyum. Sungguh indah kukira, tapi kapan? Ah… lupakan!

The End

Jumat, 17 Mei 2013

,, Some One's Watching Over Me

Diposting oleh Unknown di 23.17 0 komentar
Found myself today
Oh I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had
All I know is you're not here to say
What you always used to say
But it's written in the sky tonight

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me
Seen that ray of light
And it's shining on my destiny
Shining all the time
And I wont be afraid
To follow everywhere it's taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
lyricsalls.blogspot.com
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me
It doesn't matter what people say
And it doesn't matter how long it takes
Believe in yourself and you'll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even when it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That someone's watching over
Someone's watching over
Someone's watching over me
Someone's watching over me

--> Ajari Aku Berpuisi """

Diposting oleh Unknown di 22.28 0 komentar
Bukankah engkau
bertahajud di guguran bintang-bintang
Langit malampun luruh tinggalkan hujan
Menyaksikan rumput di sore tumbang


Bukankah engkau yang menari
meski waktu tak lagi satu
Bercampur  bait syahdu
Di hujan malam yang mengkultuskan rindu

Bukankan engkau
yang terus mengeja
pada setia kata-kata
Di lorong-lorong kalimat panjang yang menua


Lalu aku
yang diam-diam termangu di balik datar cermin ini
Menggantung pena-pena runcing, tak kunjung kering
Apalagi kakiku sedang lumpuh
Merangkak, menuju tebing biru
Menerawang, berkejaran dengan kepulan asap pekat
Gelap.

Menyadari, kembali kugagal melukis tabu
tak sekuat kau menarik bait di puncak cakrawala, menjadi indah di atas riak ombak beludru
Ajari aku mengukir bisu, berpuisi meski pilu..

                                                                    -Pilar Harapan, 2013-

Sepanjang Kemarau Menanti Hujan..

Diposting oleh Unknown di 21.38 0 komentar
Untunglah siang ini mentari tak begitu ganas menyengatku, hingga aku leluasa mengitari koridor sepanjang jalanan tua ini. aAku tak peduli di bawah gerimis, hanya ingin membawa lari luka kecil yang sempat ku dapat tadi. Tak kuhiraukan lollipop yang sedang kupegang, menipis bersama gerimis. mengecil, hingga sebuah karet panjang yang kunikmati. ah, ini serasa tak senikmat lollipop yang biasa kubeli di warung pojok deket kampusku, ini seperti.. astaga! yang sedang kunikmati hanya sebuah gagang permen,, tapi sudahlah, lupakan tentang lollipop, mari kubawa kembali tentang luka kecil yang buatku berhenti saat berlari. 

                                             ***           ***           ***           ***
-bersambung di sudut hati-

Senin, 25 Maret 2013

Diposting oleh Unknown di 00.14 0 komentar
30 Desember 2012
Lupakan tangisku
bila esok kau jumpai asaku yang membuncah
sebab kemarin
aku tak selesai merangkum bahasa, sebelum tangisku pecah
kemudian sampaikan padanya
tentangku yang memancing senyum dengan tangis
bisakah ia maknai sesuai sandi
yang dulu pernah kita pelajari
mungkin ini detik terakhir
sebelum Azrail naik ke puncak gunung itu
tuk kabarkan pda ...

 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang