Senin, 10 Maret 2014

Diapun Kupanggil IBU :)

Pagi yang entah.
Aku lupa saat itu hari apa. Yang terpenting, baru kali pertama sarapan pagi  menjadi satu-satunya faktor yang membuatku terbatuk-batuk dalam waktu yang cukup lama. Bukan sakit bukan cemburu, terlampau senang barangkali. Duh Tuhan aku masih mengingat jelas, bagaimana bahagia yang keterlaluan ini bermula. 

Kepada siapapun yang tak akan kuharapkan pemahamannya, aku akan bercerita. Terutama kamu, dengan syarat kau harus pura-pura tak mengerti. Begini:
"Assalamualaikum", Perempuan setengah baya di sana menyapa.
"Waalaikumussalam, salam sungkem sangking kulo nggeh", menggebu-gebu.

Itu saja yang harus kusampaikan dialognya. Meski tanpa kau tahu, di sana terdapat banyak kata yang bisa membuatmu terkekeh-kekeh sepanjang masa. Intinya aku bahagia.
Sementara percakapan terus mengalir, ada urat nadi yang terputus. Sepertinya aku cukup lama menahan nafas. Antara sesak dan  bahagia, tapi sama saja: sesakpun karena bahagia yang terlalu. :D

Betapa tidak? Perempuan seberang itu adalah sosok yang paling kau kagumi sepanjang hidup duniamu bahkan akhiratmu. Beliau Ibumu. Right? Aku tak lagi mengigau dalam menceritakan ini kan? Aku rasa tidak. Sangat tidak. Benar Ibumu.

Setelahnya sempat kutanya. Dengan ketenanganmu, "Ibu mau tahu siapa perempuan yang sering diceritakan anaknya di setiap malamnya", jawabmu. Aku kaget wajar, bahagia juga tentu dengan sadar. Oh ya, lupa. Satu lagi. sebelum mengakhiri percakapannya denganku, ada yang kuingat: "Nak, cari perempuan itu yang bisa menerimamu dan kedua orangtuamu, itu yang selalu Ibu bilang padanya".
Beliau mayakinkan, betapa aku dan kamu sedang dalam keseriusan besar yakni tahap pembelajaran, nanti pada waktunya semua akan terjadi dengan aman-aman saja, begitu katanya.

Sungguh betapa saat itu aku menjadi satu-satunya penghuni asrama yang dengan sendirinya melompat girang, tanpa suara apalagi bahasa. Tapi kau bisa tau, sedalam apa bahagiaku saat itu. 

Dan betapa Ibumu sangat keren, mampu memahamimu lebih dari yang kutahu. Juga sudi menyapa, meyakinkan dan menasihatiku. Itu lebih dari cukup. Bahkan sejak saat itu, aku mampu dengan sekejap menghilangkan setiap ragu. Saatnya nanti, diapun juga kupanggil IBU. :)

Senin, 03 Maret 2014

Selembut Ingatan Dalam Kotak ^_^

*Part 2
Dalam keadaan kantuk yang teramat sangat: D
Aku tiba-tiba ingin menulis, terlepas hari ini ada peristiwa apa. Atau mungkin karena aku merasa satu-satunya orang paling beruntung yang kau


beri nomor rahasia. Senang? Tentu. Tapi tunggu, sejujurnya aku malu, khawatir kau tak menganggapnya begitu. Tapi tak apalah, ada kalanya kau harus tau aku yang suka keGR-an dengan celoteh-celoteh hati sendiri.

Lalu beralih tentang apa saja.
Tahun demi tahun berulang, mengantarkanmu kembali pada hari yang sama seperti pertama kali kau mengeja nafasmu di bumi.


Dan selanjutnya, aku ingin sok tahu. Hari ini kau pasti mengucap syukur kepada Pemilikmu, Allah yang masih sangat sayang, sampai pada hari ini bisa merasakan indahnya hidup, nikmatnya berkedip dan menguap, bahagianya mendapat oksigen gratis dari Allah, dan juga milyaran hadiah yang Allah berikan kepadamu sejak kau lahir hingga sekarang dan insyaallah seterusnya yang sangat sangat sangat luar biasa.


Maaf aku hanya bisa merapal doa dari kejauhan, walau mengucapkannya langsung sembari melihat senyummu, mengecup kening dan memelukmu lebih kuinginkan. Haha, aku tak seharusnya bermimpi lebih dari yang kau tahu.


Banyak yang ingin kukatakan, agar ke depan kau makin kukagumi layaknya karang. Banyak yang berubah, mungkin tidak sesuai yang kau harapkan, hal-hal terjadi tak terkendali di luar yang kau rencanakan, banyak juga yang telah hilang walau tak kau inginkan. Sekalipun keadaannya tak pernah sama, terkadang bahagia,terkadang derita, terkadang juga terasa biasa, demikianlah yang menandakan arti hidup katanya.


Tidak apa sayang, jalani saja, begini yang Tuhan mau atas hidup kita. Lagi dan lagi katanya, jika setiap masalah yang hadir dalam hidup akan mendewasakan, maka seharusnya kita dapat mengukur sedewasa apakah kita?
Setelah hari ini tentu kau menyadari hidup tidak pernah akan baik-baik dan biasa-biasa saja. Banyak hal akan terjadi, menyenangkan atau tidak, semua akan menuntut penyelesaian. Saat merasa lelah dan tidak mampu bertahan, jangan pernah melupakan Tuhan.

Boleh aku tahu ? Apa yang kau inginkan? Ingin jadi apa kau di hari depan?
Apapun itu, aku selalu mengadu harap pada Tuhan semoga kau bisa baik-baik saja dan bahagia lebih dari apa yang kuinginkan dan kau ingin rasakan.
Selamat Ulang Tahun, Al. :)


^^5 Februari 2014 pukul 11:00

Sabtu, 14 Desember 2013

Sabar. :)



Konon, kesabaran itu mahal harganya.
Itupun hanya dijual di Negeri Entah. Tak mungkin tersedia di Negeri tempatku menulis cerita.
 
Konon juga, seandai seluruh emas di setiap leku-lekuk Bumi diangkat, harga Kesabaran jauh melambung tinggi di atasnya.

Tuhan, mungkin karena itu Kau kembali mengingatkan: Aku perempuan jelata yang tak cukup modal membelinya sekarang.

Tapi tak apa, aku tetap ingin membeli, cicilannyapun akan kubayar sendiri.
—

Selasa, 10 Desember 2013

Lelaki Itu, Kamu!


I See The Light - Tangled
All those days watching from the windows
All those years outside looking in
All that time never even knowing
Just how blind I've been
Now I'm here, blinking in the starlight
Now I'm here, suddenly I saw
Standing here, it's all so clear
I'm where I am meant to be
And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new
And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once everything looks different
Now that I see you
 
All those days chasing down a daydream
All those years living in a blur
All that time never truly seeing
Things, the way they were
Now she's here shining in the starlight
Now she's here, suddenly I new
If she's here it's crystal clear
I'm where I'm meant to go
And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new
 And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once, everything looks different
Now that I see you 

-------------------------------

Kali ini aku ingin menulis tanpa frasa, tanpa tata bahasa, tanpa runutan cerita. Kali ini aku hanya ingin menumpahkan semua rinduku untukmu.

Untuk seorang lelaki yang tak bisa kujelaskan lewat logika.
Mungkin lucu kalau kita bisa bertetangga atau berbagi atap bersama.
Hahahaha, aku tahu..tidurmu tak akan bisa nyenyak bila di dekatku. Entah karena kuatirmu atau karena menahan deru yang membuat degup dadamu bergemuruh.

Ya, rindu ini sedang hebat-hebatnya...perih seperih-perihnya...
Rindu pada seorang lelaki yang mencari bintang untuk membuatku tetap terjaga saat kakiku rasanya tak kuat lagi melangkah.
Lelaki yang ingin kutiduri bidang dadanya yang pernah terluka dan menyisakan jaringan parut sebagai akibatnya.
Lelaki yang awalnya ragu untuk mencium bibirku, namun penuh kehangatan saat memeluk tubuhku dan mampu membuatku menyerahkan diriku utuh penuh....
Lelaki yang ingin kujaga baik-baik hatinya yang pernah terluka.
Lelaki yang kemudian pergi berkelana dan meninggalkan aku dalam lautan rindu tak bertepi.

Kamu tahu, betapa inginnya aku untuk bertemu denganmu lagi. Menghabiskan waktu bersama di tengah laut biru, atau di bawah kerlip bintang, memandangi kelam malam yang dihiasi pemandangan lampu kota yang membentang.
Atau sekedar duduk di sofa sambil menonton film animasi. Mendengar suara beratmu, tawa terbahakmu dan celetukan spontanmu yang kerap membuatku terpingkal-pingkal.
Memandang matamu yang begitu hitam, mengelus rambutmu, memijit punggungmu, mengecup telingamu dan bersandar dalam rengkuhanmu. 

Bersamamu aku tak takut apapun, bahkan kematian sekalipun. Kita ini orang-orang yang dijauhi agen asuransi jiwa. Hahaha.. Karena itu aku merasa aman dan nyaman bersamamu, apalagi jika hanya untuk mencoba hal hal baru atau mendatangi tempat baru, kamu adalah orang yang tepat untuk menemaniku.

Aku bahagia bersamamu, aku tahu kamu juga demikian, aku ingat betul bagaimana kamu mengatakannya. Betapa kita menikmati detik demi detik kebersamaan kita. Seolah hari itu adalah satu satunya hari dalam hidup kita.
Aku mengerti, aku harus sabar menanti. Menunggumu menyelesaikan tugasmu yang bagai cerita dongeng untukku.
Dan aku ingin ketika kamu kembali, perasaanmu tidak berkurang terhadapku melainkan bertambah dengan cinta yang lebih berlimpah.

Akhirnya kututup tulisan ini dengan sebuah pinta.
Tuhan, terimakasih Kau ijinkan aku mengecap cinta, ijinkanlah juga aku untuk memilikinya...


Kita Dan Sandal :)


Pertama kepada Tuhan, maafkan!.
Aku lancang melupakan sebuah cara bersyukur.
Kedua, masih kepada Tuhan, terimakasih!
Untuk sebuah kesadaran yang kau kirim melalui sepasang Sandal butut yang usang.
           
            Entah siapa yang menyuruhku menunduk, memandangi gerak kedua kaki yang sepertinya keluar rumah menuju kampus. Kurasa kedua kaki itu sedang menjalankan tugas mulianya sebagai asisten otak dan hati yang saat ini sedang kebingungan mencari jalan keluar.
           Aku terus melihat perpaduan gerak keduanya. Berkejaran. Indah. Tapi tunggu, sepertinya aku lebih tertarik dengan alas kakiku. Ya, sandalku tepatnya.
            Ia adalah sepasang yang terpisah. Kulihat sandal kananku menginjak kerikil lebih banyak di depan warung kopi milik seorang kakek tua yang kudengar bercerai dengan istrinya dua hari lalu. Lalu sandal kiriku menginjak kawah-kawah kecil bekas tetesan air dari genteng rumah tetangga sebelah. Si kanan menginjak plastik bekas bungkus krupuk, si kiri menginjak sedotan warna biru keunguan. Yang kanan tersandung batu bekas reruntuhan gapura di ujung gang ini, yang kiri kecipratan air yang berasal dari tebak mainan bocah kecil yang biasa kupanggil Mioo. Lalu pasir. Batu. Bundelan kertas. Plastik bekas. Puntung rokok. Vaping miring. Tanah. Batu lagi. Karet plasti. Lilin. Dan terus bergantian, tak ada yang sama. Samapun itu dalam waktu yang berbeda.
            Akupun tak banyak menyangkal saat banyak yang bilang mereka sepasang, satu bentuk dan satu warna. Tapi tugas dan bebannyalah yang tak akan pernah sama. Tak ada waktu buat si Kanan mengelus pundak si Kiri saat ia kelelahan. Pun sebaliknya. Tak ada yang saling menghabiskan waktu untuk membersamai satu sama lain. Tak ada yang saling menemani.
            Meski sekilas, keduanya tampak kompak. Tapi sekali lagi kuingatkan, beban dan tugasnya tak ada yang sama, sekecil apapun.
            Sampai di sini perlahan aku mengerti. Dan berusaha mengaitkan ingatan tentangmu yang mendesak bermunculan. Sepasang yang tak sama. Itu wajar. Bayangkan bila sandal menuntut gerak yang sama, ah tidak. Tentu menyerupai gerak menjemukan kurasa. Tentupun tak enak dipandang mata.
            Baiklah Al, sekarang aku berusaha tak kecewa. Tak lagi menuntutmu apa-apa. Intinya aku bebaskan semua. Dan lebih menyederhanakan perasaan sinting yang membuat Romeo tak takut mati dan jutaan orang bunuh diri. Perasaan yang membuat seseorang rela tak tidur hanya untuk mengingat peristiwa apa saja seharian tadi yang dilalui bersama. Ah, menggila. Dan sekarang aku lebih ingin kita seperti sandal saja. Sepasang yang tak sama. Ya, sepasang yang tak sama. Itu kita. :)


Aku. :)

Aku;
Perempuan yang Tuhan beri kesempatan untuk menikmati segala bentuk KasihNya dengan  beragam cara sejak Sembilan belas tahunan lalu. Yang Ibu ajarkan tentang kekuatan menghadapi kesulitan apapun. Yang selalu Bapak ingatkan tentang kuatnya pohon Jati karena kekuatan spiritual dan Doa.

Lalu Aku;
Perempuan yang mereka percayakan dengan nama Nur Faiqah. Yang menurut guru B.Arabku semasa SD, namaku cukp memiliki arti  yang tinggi. Tapi entah, aku tak terlalu percaya itu.

Dan Aku;
Perempuan yang akan selalu memilih kardus sebagai rumah ternyaman saat hujan bertandang. Sebab belum sempuran kumemahami satu ciptaan Tuhan yang menurut banyak orang nikmat itu.

Masih Aku;
Perempuan yang selalu bernyanyi dengan suara paling merdu untuk diri sendiri, dalam kelelahan sekalipun. Dan tentang lagu apapun, seakan satu perantara Tuhan mengingatkan cara bersyukur.

Itupun Aku;
Perempuan yang selalu butuh waktu, setidaknya lima menit dengan mata terpejam untuk sebuah kesadaran saat dalam kesulitan.

Dan terakhir Aku;
Perempuan yang selalu menunggumu di persimpangan. Untuk mendengar ada sebuah jaminan dari Tuhan tentangmu. Sungguh aku akan sabar mennggu untuk satu kata ‘Kamu’ yang masih disimpan Tuhan.:)

Rabu, 04 Desember 2013

Sempurna :)


Sempurna itu ketika aku merasakan benar benar jatuh dalam hati seseorang, sempurna itu ketika aku dapat merasakan kesakitan orang yang kusayangi, sempurna itu ketika aku tetap tersenyum dengan segala kukurangan yang kami punya, Dan Akhirnya aku juga mengerti  kesempurnaan fisik bukanlah jaminan aku akan bahagia tetapi justru ketidaksempurnaan yang semakin menguatkan. Sejauh manapun aku melangkah namun pada akhirnya cinta itu memang tak ada habisnya, sampai berjuta kali waktu berputar tetap saja yang ku tau hanya ada dirimu yang kunamakan cinta, cinta yang luar biasa dan takan berujung sampai akhirnya nafasku yang harus hilang dari kehidupan ini..

*Helvy Tiana Rosa.

Senin, 10 Maret 2014

Diapun Kupanggil IBU :)

Diposting oleh Unknown di 09.41 0 komentar
Pagi yang entah.
Aku lupa saat itu hari apa. Yang terpenting, baru kali pertama sarapan pagi  menjadi satu-satunya faktor yang membuatku terbatuk-batuk dalam waktu yang cukup lama. Bukan sakit bukan cemburu, terlampau senang barangkali. Duh Tuhan aku masih mengingat jelas, bagaimana bahagia yang keterlaluan ini bermula. 

Kepada siapapun yang tak akan kuharapkan pemahamannya, aku akan bercerita. Terutama kamu, dengan syarat kau harus pura-pura tak mengerti. Begini:
"Assalamualaikum", Perempuan setengah baya di sana menyapa.
"Waalaikumussalam, salam sungkem sangking kulo nggeh", menggebu-gebu.

Itu saja yang harus kusampaikan dialognya. Meski tanpa kau tahu, di sana terdapat banyak kata yang bisa membuatmu terkekeh-kekeh sepanjang masa. Intinya aku bahagia.
Sementara percakapan terus mengalir, ada urat nadi yang terputus. Sepertinya aku cukup lama menahan nafas. Antara sesak dan  bahagia, tapi sama saja: sesakpun karena bahagia yang terlalu. :D

Betapa tidak? Perempuan seberang itu adalah sosok yang paling kau kagumi sepanjang hidup duniamu bahkan akhiratmu. Beliau Ibumu. Right? Aku tak lagi mengigau dalam menceritakan ini kan? Aku rasa tidak. Sangat tidak. Benar Ibumu.

Setelahnya sempat kutanya. Dengan ketenanganmu, "Ibu mau tahu siapa perempuan yang sering diceritakan anaknya di setiap malamnya", jawabmu. Aku kaget wajar, bahagia juga tentu dengan sadar. Oh ya, lupa. Satu lagi. sebelum mengakhiri percakapannya denganku, ada yang kuingat: "Nak, cari perempuan itu yang bisa menerimamu dan kedua orangtuamu, itu yang selalu Ibu bilang padanya".
Beliau mayakinkan, betapa aku dan kamu sedang dalam keseriusan besar yakni tahap pembelajaran, nanti pada waktunya semua akan terjadi dengan aman-aman saja, begitu katanya.

Sungguh betapa saat itu aku menjadi satu-satunya penghuni asrama yang dengan sendirinya melompat girang, tanpa suara apalagi bahasa. Tapi kau bisa tau, sedalam apa bahagiaku saat itu. 

Dan betapa Ibumu sangat keren, mampu memahamimu lebih dari yang kutahu. Juga sudi menyapa, meyakinkan dan menasihatiku. Itu lebih dari cukup. Bahkan sejak saat itu, aku mampu dengan sekejap menghilangkan setiap ragu. Saatnya nanti, diapun juga kupanggil IBU. :)

Senin, 03 Maret 2014

Selembut Ingatan Dalam Kotak ^_^

Diposting oleh Unknown di 00.49 0 komentar

*Part 2
Dalam keadaan kantuk yang teramat sangat: D
Aku tiba-tiba ingin menulis, terlepas hari ini ada peristiwa apa. Atau mungkin karena aku merasa satu-satunya orang paling beruntung yang kau


beri nomor rahasia. Senang? Tentu. Tapi tunggu, sejujurnya aku malu, khawatir kau tak menganggapnya begitu. Tapi tak apalah, ada kalanya kau harus tau aku yang suka keGR-an dengan celoteh-celoteh hati sendiri.

Lalu beralih tentang apa saja.
Tahun demi tahun berulang, mengantarkanmu kembali pada hari yang sama seperti pertama kali kau mengeja nafasmu di bumi.


Dan selanjutnya, aku ingin sok tahu. Hari ini kau pasti mengucap syukur kepada Pemilikmu, Allah yang masih sangat sayang, sampai pada hari ini bisa merasakan indahnya hidup, nikmatnya berkedip dan menguap, bahagianya mendapat oksigen gratis dari Allah, dan juga milyaran hadiah yang Allah berikan kepadamu sejak kau lahir hingga sekarang dan insyaallah seterusnya yang sangat sangat sangat luar biasa.


Maaf aku hanya bisa merapal doa dari kejauhan, walau mengucapkannya langsung sembari melihat senyummu, mengecup kening dan memelukmu lebih kuinginkan. Haha, aku tak seharusnya bermimpi lebih dari yang kau tahu.


Banyak yang ingin kukatakan, agar ke depan kau makin kukagumi layaknya karang. Banyak yang berubah, mungkin tidak sesuai yang kau harapkan, hal-hal terjadi tak terkendali di luar yang kau rencanakan, banyak juga yang telah hilang walau tak kau inginkan. Sekalipun keadaannya tak pernah sama, terkadang bahagia,terkadang derita, terkadang juga terasa biasa, demikianlah yang menandakan arti hidup katanya.


Tidak apa sayang, jalani saja, begini yang Tuhan mau atas hidup kita. Lagi dan lagi katanya, jika setiap masalah yang hadir dalam hidup akan mendewasakan, maka seharusnya kita dapat mengukur sedewasa apakah kita?
Setelah hari ini tentu kau menyadari hidup tidak pernah akan baik-baik dan biasa-biasa saja. Banyak hal akan terjadi, menyenangkan atau tidak, semua akan menuntut penyelesaian. Saat merasa lelah dan tidak mampu bertahan, jangan pernah melupakan Tuhan.

Boleh aku tahu ? Apa yang kau inginkan? Ingin jadi apa kau di hari depan?
Apapun itu, aku selalu mengadu harap pada Tuhan semoga kau bisa baik-baik saja dan bahagia lebih dari apa yang kuinginkan dan kau ingin rasakan.
Selamat Ulang Tahun, Al. :)


^^5 Februari 2014 pukul 11:00

Sabtu, 14 Desember 2013

Sabar. :)

Diposting oleh Unknown di 23.31 0 komentar


Konon, kesabaran itu mahal harganya.
Itupun hanya dijual di Negeri Entah. Tak mungkin tersedia di Negeri tempatku menulis cerita.
 
Konon juga, seandai seluruh emas di setiap leku-lekuk Bumi diangkat, harga Kesabaran jauh melambung tinggi di atasnya.

Tuhan, mungkin karena itu Kau kembali mengingatkan: Aku perempuan jelata yang tak cukup modal membelinya sekarang.

Tapi tak apa, aku tetap ingin membeli, cicilannyapun akan kubayar sendiri.
—

Selasa, 10 Desember 2013

Lelaki Itu, Kamu!

Diposting oleh Unknown di 01.45 0 komentar

I See The Light - Tangled
All those days watching from the windows
All those years outside looking in
All that time never even knowing
Just how blind I've been
Now I'm here, blinking in the starlight
Now I'm here, suddenly I saw
Standing here, it's all so clear
I'm where I am meant to be
And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new
And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once everything looks different
Now that I see you
 
All those days chasing down a daydream
All those years living in a blur
All that time never truly seeing
Things, the way they were
Now she's here shining in the starlight
Now she's here, suddenly I new
If she's here it's crystal clear
I'm where I'm meant to go
And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new
 And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once, everything looks different
Now that I see you 

-------------------------------

Kali ini aku ingin menulis tanpa frasa, tanpa tata bahasa, tanpa runutan cerita. Kali ini aku hanya ingin menumpahkan semua rinduku untukmu.

Untuk seorang lelaki yang tak bisa kujelaskan lewat logika.
Mungkin lucu kalau kita bisa bertetangga atau berbagi atap bersama.
Hahahaha, aku tahu..tidurmu tak akan bisa nyenyak bila di dekatku. Entah karena kuatirmu atau karena menahan deru yang membuat degup dadamu bergemuruh.

Ya, rindu ini sedang hebat-hebatnya...perih seperih-perihnya...
Rindu pada seorang lelaki yang mencari bintang untuk membuatku tetap terjaga saat kakiku rasanya tak kuat lagi melangkah.
Lelaki yang ingin kutiduri bidang dadanya yang pernah terluka dan menyisakan jaringan parut sebagai akibatnya.
Lelaki yang awalnya ragu untuk mencium bibirku, namun penuh kehangatan saat memeluk tubuhku dan mampu membuatku menyerahkan diriku utuh penuh....
Lelaki yang ingin kujaga baik-baik hatinya yang pernah terluka.
Lelaki yang kemudian pergi berkelana dan meninggalkan aku dalam lautan rindu tak bertepi.

Kamu tahu, betapa inginnya aku untuk bertemu denganmu lagi. Menghabiskan waktu bersama di tengah laut biru, atau di bawah kerlip bintang, memandangi kelam malam yang dihiasi pemandangan lampu kota yang membentang.
Atau sekedar duduk di sofa sambil menonton film animasi. Mendengar suara beratmu, tawa terbahakmu dan celetukan spontanmu yang kerap membuatku terpingkal-pingkal.
Memandang matamu yang begitu hitam, mengelus rambutmu, memijit punggungmu, mengecup telingamu dan bersandar dalam rengkuhanmu. 

Bersamamu aku tak takut apapun, bahkan kematian sekalipun. Kita ini orang-orang yang dijauhi agen asuransi jiwa. Hahaha.. Karena itu aku merasa aman dan nyaman bersamamu, apalagi jika hanya untuk mencoba hal hal baru atau mendatangi tempat baru, kamu adalah orang yang tepat untuk menemaniku.

Aku bahagia bersamamu, aku tahu kamu juga demikian, aku ingat betul bagaimana kamu mengatakannya. Betapa kita menikmati detik demi detik kebersamaan kita. Seolah hari itu adalah satu satunya hari dalam hidup kita.
Aku mengerti, aku harus sabar menanti. Menunggumu menyelesaikan tugasmu yang bagai cerita dongeng untukku.
Dan aku ingin ketika kamu kembali, perasaanmu tidak berkurang terhadapku melainkan bertambah dengan cinta yang lebih berlimpah.

Akhirnya kututup tulisan ini dengan sebuah pinta.
Tuhan, terimakasih Kau ijinkan aku mengecap cinta, ijinkanlah juga aku untuk memilikinya...


Kita Dan Sandal :)

Diposting oleh Unknown di 01.13 0 komentar

Pertama kepada Tuhan, maafkan!.
Aku lancang melupakan sebuah cara bersyukur.
Kedua, masih kepada Tuhan, terimakasih!
Untuk sebuah kesadaran yang kau kirim melalui sepasang Sandal butut yang usang.
           
            Entah siapa yang menyuruhku menunduk, memandangi gerak kedua kaki yang sepertinya keluar rumah menuju kampus. Kurasa kedua kaki itu sedang menjalankan tugas mulianya sebagai asisten otak dan hati yang saat ini sedang kebingungan mencari jalan keluar.
           Aku terus melihat perpaduan gerak keduanya. Berkejaran. Indah. Tapi tunggu, sepertinya aku lebih tertarik dengan alas kakiku. Ya, sandalku tepatnya.
            Ia adalah sepasang yang terpisah. Kulihat sandal kananku menginjak kerikil lebih banyak di depan warung kopi milik seorang kakek tua yang kudengar bercerai dengan istrinya dua hari lalu. Lalu sandal kiriku menginjak kawah-kawah kecil bekas tetesan air dari genteng rumah tetangga sebelah. Si kanan menginjak plastik bekas bungkus krupuk, si kiri menginjak sedotan warna biru keunguan. Yang kanan tersandung batu bekas reruntuhan gapura di ujung gang ini, yang kiri kecipratan air yang berasal dari tebak mainan bocah kecil yang biasa kupanggil Mioo. Lalu pasir. Batu. Bundelan kertas. Plastik bekas. Puntung rokok. Vaping miring. Tanah. Batu lagi. Karet plasti. Lilin. Dan terus bergantian, tak ada yang sama. Samapun itu dalam waktu yang berbeda.
            Akupun tak banyak menyangkal saat banyak yang bilang mereka sepasang, satu bentuk dan satu warna. Tapi tugas dan bebannyalah yang tak akan pernah sama. Tak ada waktu buat si Kanan mengelus pundak si Kiri saat ia kelelahan. Pun sebaliknya. Tak ada yang saling menghabiskan waktu untuk membersamai satu sama lain. Tak ada yang saling menemani.
            Meski sekilas, keduanya tampak kompak. Tapi sekali lagi kuingatkan, beban dan tugasnya tak ada yang sama, sekecil apapun.
            Sampai di sini perlahan aku mengerti. Dan berusaha mengaitkan ingatan tentangmu yang mendesak bermunculan. Sepasang yang tak sama. Itu wajar. Bayangkan bila sandal menuntut gerak yang sama, ah tidak. Tentu menyerupai gerak menjemukan kurasa. Tentupun tak enak dipandang mata.
            Baiklah Al, sekarang aku berusaha tak kecewa. Tak lagi menuntutmu apa-apa. Intinya aku bebaskan semua. Dan lebih menyederhanakan perasaan sinting yang membuat Romeo tak takut mati dan jutaan orang bunuh diri. Perasaan yang membuat seseorang rela tak tidur hanya untuk mengingat peristiwa apa saja seharian tadi yang dilalui bersama. Ah, menggila. Dan sekarang aku lebih ingin kita seperti sandal saja. Sepasang yang tak sama. Ya, sepasang yang tak sama. Itu kita. :)


Aku. :)

Diposting oleh Unknown di 01.08 0 komentar
Aku;
Perempuan yang Tuhan beri kesempatan untuk menikmati segala bentuk KasihNya dengan  beragam cara sejak Sembilan belas tahunan lalu. Yang Ibu ajarkan tentang kekuatan menghadapi kesulitan apapun. Yang selalu Bapak ingatkan tentang kuatnya pohon Jati karena kekuatan spiritual dan Doa.

Lalu Aku;
Perempuan yang mereka percayakan dengan nama Nur Faiqah. Yang menurut guru B.Arabku semasa SD, namaku cukp memiliki arti  yang tinggi. Tapi entah, aku tak terlalu percaya itu.

Dan Aku;
Perempuan yang akan selalu memilih kardus sebagai rumah ternyaman saat hujan bertandang. Sebab belum sempuran kumemahami satu ciptaan Tuhan yang menurut banyak orang nikmat itu.

Masih Aku;
Perempuan yang selalu bernyanyi dengan suara paling merdu untuk diri sendiri, dalam kelelahan sekalipun. Dan tentang lagu apapun, seakan satu perantara Tuhan mengingatkan cara bersyukur.

Itupun Aku;
Perempuan yang selalu butuh waktu, setidaknya lima menit dengan mata terpejam untuk sebuah kesadaran saat dalam kesulitan.

Dan terakhir Aku;
Perempuan yang selalu menunggumu di persimpangan. Untuk mendengar ada sebuah jaminan dari Tuhan tentangmu. Sungguh aku akan sabar mennggu untuk satu kata ‘Kamu’ yang masih disimpan Tuhan.:)

Rabu, 04 Desember 2013

Sempurna :)

Diposting oleh Unknown di 20.37 0 komentar

Sempurna itu ketika aku merasakan benar benar jatuh dalam hati seseorang, sempurna itu ketika aku dapat merasakan kesakitan orang yang kusayangi, sempurna itu ketika aku tetap tersenyum dengan segala kukurangan yang kami punya, Dan Akhirnya aku juga mengerti  kesempurnaan fisik bukanlah jaminan aku akan bahagia tetapi justru ketidaksempurnaan yang semakin menguatkan. Sejauh manapun aku melangkah namun pada akhirnya cinta itu memang tak ada habisnya, sampai berjuta kali waktu berputar tetap saja yang ku tau hanya ada dirimu yang kunamakan cinta, cinta yang luar biasa dan takan berujung sampai akhirnya nafasku yang harus hilang dari kehidupan ini..

*Helvy Tiana Rosa.

 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang