Rabu, 01 Oktober 2014

My Passion

Ayey!
Tuhan, Terimakasih. Itu saja :)

Pagi ini:
Aku berangkat ke kampus lebih pagi dari biasa. Bersama teman seasrama yang lumayan menyeimbangiku tingkat ke-error-annya. Namanya Anisa. Dia satu tingkat di atasku. Kita di jurusan yang sama: Bhasa dan Satra Arab. Meski satu kata terkhir itulah yang setiap hari ingin kulupakan dan tak ingin itu tertera dalam Ijazahku nanti. Tapi apa daya? Aku ngakak saja. Membayangkan impian yang sudah jelas tak bisa dicapai sekalipun oleh kepala. 

Sesampai di kampus, aku cukup lega mendapati beberapa teman kelas masih asik nongkrong di halaman dan depan jendela. Pertanda dosen bernama Pak Muntaha belum hadir. Hatiku girang. Waktuku konser bisa lebih panjang dari hari-hari sebelumnya. Haha. Aku beritahu dulu sebelumnya bahwa panggung paling keren menurutku setelah kamar mandi adalah kelas kuliah. Bisa dibilang setiap hari aku tak pernah absen menyanyi di depan mereka yang berulangkali sudah ingin menimpukku dengan sepatu dan sandal mereka masing-masing. Aku suka meramaikan kelas dengan suara yang menurutku pribadi hanya satu tingkat di bawah Afgan dan Bruno Mars (Faiq, sadarlah! Sadarlah!). Tapi bener, menurut beberapa teman juga suaraku berkarakter tapi masih perlu banyak latihan dan les vokal. Maklum dar kecil cuma Bapak sebagai guru privatku soal tarik suara. Beliau dulu pernah jadi artis desa. Cikiwir :D 

Spontan di kelas aku lepas tas. Meraih botol Aqua milik teman. Aku bernyanyi.
Satu lagu.
Dua lagu.
Banyak lagu :D

Ssst, aku melihat si Zen-temanku yang satu ini sering banget bikin aku terbang soal memuji suaraku, berulangkali juga dia merekam aku nyanyi, tanpa sungkan juga dia mendonlot lagu apa yang paling ingin dia dengar dariku- sedang ngotak-atik ponsel Appelnya. Aha! Aku langsung berinisiatif untuk rekaman lagi. 

"Zen, pinjem hape. Mau nyanyi". Dasar aku nggak tau malu.
"Nih, nyanyi di sini. Aku mau denger". Pintanya.
"Siap". Aku girang.

Akupun mulai mengganti botol Aqua dengan hape si Zen. Mulai menyanyi 'Cinta Tanpa Syarat'nya Afgan. Maklum, dia memang solo satu-satunya di Indonesia yang paling aku gilai. Ihihi. Cukup satu lagu, pikirku. Dan..
Tiba-tiba si Zen minta aku nyanyi BUNDAnya Melly Goeslaw. Untunglah aku masih ingat liriknya, dulu juga pernah tampil Padus selama di pondok semasa SMA. Dengan senang aku mengangguk. Kembali aku mulai asyik dengan suara dan laguku. Menyanyi. Tanpa beban apapun dalam hati.

Auk ingin begini setiap hari, Tuhan. Tak perlu suaraku di dengar seluruh rakyat Indonesia. Cukup di kelas saja dengan teman-teman kelas yang jumlahnya tak seberapa, selama mereka yang cuma 40-an mau dengan senang hati mendengarkan, itu sudah lebih dari cukup, Tuhan.

Dear God, aku selalu percaya. Engkau selalu peduli dimana hatiku berada dan tetap ingin tinggal untuk selama-lamanya. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Rabu, 01 Oktober 2014

My Passion

Diposting oleh Unknown di 20.24
Ayey!
Tuhan, Terimakasih. Itu saja :)

Pagi ini:
Aku berangkat ke kampus lebih pagi dari biasa. Bersama teman seasrama yang lumayan menyeimbangiku tingkat ke-error-annya. Namanya Anisa. Dia satu tingkat di atasku. Kita di jurusan yang sama: Bhasa dan Satra Arab. Meski satu kata terkhir itulah yang setiap hari ingin kulupakan dan tak ingin itu tertera dalam Ijazahku nanti. Tapi apa daya? Aku ngakak saja. Membayangkan impian yang sudah jelas tak bisa dicapai sekalipun oleh kepala. 

Sesampai di kampus, aku cukup lega mendapati beberapa teman kelas masih asik nongkrong di halaman dan depan jendela. Pertanda dosen bernama Pak Muntaha belum hadir. Hatiku girang. Waktuku konser bisa lebih panjang dari hari-hari sebelumnya. Haha. Aku beritahu dulu sebelumnya bahwa panggung paling keren menurutku setelah kamar mandi adalah kelas kuliah. Bisa dibilang setiap hari aku tak pernah absen menyanyi di depan mereka yang berulangkali sudah ingin menimpukku dengan sepatu dan sandal mereka masing-masing. Aku suka meramaikan kelas dengan suara yang menurutku pribadi hanya satu tingkat di bawah Afgan dan Bruno Mars (Faiq, sadarlah! Sadarlah!). Tapi bener, menurut beberapa teman juga suaraku berkarakter tapi masih perlu banyak latihan dan les vokal. Maklum dar kecil cuma Bapak sebagai guru privatku soal tarik suara. Beliau dulu pernah jadi artis desa. Cikiwir :D 

Spontan di kelas aku lepas tas. Meraih botol Aqua milik teman. Aku bernyanyi.
Satu lagu.
Dua lagu.
Banyak lagu :D

Ssst, aku melihat si Zen-temanku yang satu ini sering banget bikin aku terbang soal memuji suaraku, berulangkali juga dia merekam aku nyanyi, tanpa sungkan juga dia mendonlot lagu apa yang paling ingin dia dengar dariku- sedang ngotak-atik ponsel Appelnya. Aha! Aku langsung berinisiatif untuk rekaman lagi. 

"Zen, pinjem hape. Mau nyanyi". Dasar aku nggak tau malu.
"Nih, nyanyi di sini. Aku mau denger". Pintanya.
"Siap". Aku girang.

Akupun mulai mengganti botol Aqua dengan hape si Zen. Mulai menyanyi 'Cinta Tanpa Syarat'nya Afgan. Maklum, dia memang solo satu-satunya di Indonesia yang paling aku gilai. Ihihi. Cukup satu lagu, pikirku. Dan..
Tiba-tiba si Zen minta aku nyanyi BUNDAnya Melly Goeslaw. Untunglah aku masih ingat liriknya, dulu juga pernah tampil Padus selama di pondok semasa SMA. Dengan senang aku mengangguk. Kembali aku mulai asyik dengan suara dan laguku. Menyanyi. Tanpa beban apapun dalam hati.

Auk ingin begini setiap hari, Tuhan. Tak perlu suaraku di dengar seluruh rakyat Indonesia. Cukup di kelas saja dengan teman-teman kelas yang jumlahnya tak seberapa, selama mereka yang cuma 40-an mau dengan senang hati mendengarkan, itu sudah lebih dari cukup, Tuhan.

Dear God, aku selalu percaya. Engkau selalu peduli dimana hatiku berada dan tetap ingin tinggal untuk selama-lamanya. :)

0 komentar on "My Passion "

Posting Komentar


 

Nufa La'la' Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang